Sekaten, Penyebaran Agama Islam Lewat Seni

Wiji Adinda Putri, Jurnalis · Kamis 29 Oktober 2020 00:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 28 406 2300973 sekaten-penyebaran-agama-islam-lewat-seni-EwpruGFeO1.jpg Sekaten. (Foto: KRJogja)

MAYORITAS masyarakat Yogyakarta masih kental dengan pelaksanaan tradisi peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini dinamakan Sekaten.

Sekaten merupakan ritual yang tiap tahunnya dilakukan dengan berbagai rangkaian perayaan di Keraton Yogyakarta. Perayaan ini merupakan bentuk peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai salah satu upaya penyebaran agama Islam melalui media kesenian khas Jawa, yakni Gamelan. Selain di Yogyakarta, Sekaten juga dilaksanakan di Keraton Surakarta.

Upacara Sekaten dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut mulai dari tanggal 5 Rabi’ul Awal hingga 12 Rabi’ul Awal. Tahun ini jatuh pada tanggal 22 – 29 Oktober 2020.

Dilansir Okezone dari website resmi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, nama Sekaten berasal dari sekati, yang mana memiliki arti dari sebuah perangkat gamelan pusaka yang berada di Keraton Yogyakarta dengan nama serupa, yakni Kanjeng Kyai Sekati. Seperangkat gamelan ini ikut berperan dalam rangkaian upacara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Lalu asal muasal yang kedua mengatakan sekaten berasal dari kata suka dan ati atau diartikan sebagai suka hati. Kemudian juga ada pandangan yang mengatakan bahwa Sekaten merupakan sebuah istilah yang berasal dari bahasa arab yaitu syahadatain (dua kalimat syahadat). Mengapa terdapat pandangan seperti itu karena berkaitan dengan sejarahnya, yang mana awal mula dari adanya perayaan ini sudah menjadi ajang atau wadah untuk sekaligus menyebarkan agama Islam secara luas kepada masyarakat.

Mengulas sedikit mengenai sejarah dari perayaan Sekaten tersebut, di mana mulanya terjadi pada masa Kesultanan Demak. Tepatnya pada tahun 1477 Masehi, Raden Patah yang merupakan Adipati dari Kabupaten Demak Bintara membangun sebuah masjid yang dinamakan dengan Masjid Demak.

Mulai dari situlah seiring waktu berjalan, kegiatan syiar atau penyiaran ajaran Islam dilakukan secara terus menerus menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kegiatan yang dilakukan pada halaman Masjid Demak tersebut berujung pada puncak pementasan kesenian gamelan dengan alunan gending (musikal karawitan) ciptaan dari para wali. Alat musik tradisional satu ini memang pada masanya memiliki daya tarik tersendiri di tengah masyarakat Jawa, oleh karena itu gamelan dipilih sebagai media perantaran untuk menarik perhatian khalayak.

Selama berlangsung, masyarakat sekitar banyak yang singgah menyaksikannya. Tak sedikit pula yang akhirnya tertarik untuk memeluk agama Islam. Mulailah masyarakat yang tertarik akan agama Islam ini dituntun saat itu juga untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, yang mana ini menjadi salah satu sebab atas kemunculan istilah Sekaten.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini