Maknai Hari Pahlawan, Yuk Kunjungi 4 Wisata Sejarah di Jakarta Ini

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 10 November 2020 12:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 10 408 2307056 maknai-hari-pahlawan-yuk-kunjungi-4-wisata-sejarah-di-jakarta-ini-U1Hmg72wGu.JPG Tugu Proklamasi (Foto: Instagram/@maulimaul)

SETIAP tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Untuk memaknai momen spesial ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia.

Salah satunya mengunjungi objek-objek wisata bersejarah untuk mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur.

Bagi Anda yang berdomisili di ibukota Jakarta tidak perlu bingung. Okezone telah merangkum 4 objek wisata bersejarah yang bisa dikunjungi untuk memeriahkan suasana Hari Pahlawan 2020. Berikut ulasannya.

Tugu Proklamasi

Bagi Anda yang ingin melihat bagaimana posisi Ir. Soekarno dan M. Hatta ketika membacakan Teks Proklamasi, bisa melihat gambarannya di Tugu Proklmasi. Terletak di Taman Proklamator, Menteng, Jakarta Pusat, tugu ini pertama kali diresmikan pada 17 Agustus 1972, oleh Budiarjo, Menteri Penerangan.

Selain Tugu Proklamasi, ada juga Taman Proklamator. di Taman Proklamator ini Anda bisa bersantai sambil mengenang tempat yang menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia tersebut, dengan mengunjungi Tugu dan Taman Proklamasi ini Anda bisa mengenalkan pada anak-anak di tempatnya berpijak itulah kemerdekaan Indonesia didengungkan, pada 17 Agustus 1945. Tugu Proklamasi berada di Jalan Proklamasi No.56, Jakarta Pusat.

Museum Lubang Buaya

Anda yang berada di sekitar kawasan Jakarta Timur bisa mengunjungi Museum Lubang Buaya. Di museum tersebut Anda bisa melihat dan mengamati diorama-diorama yang terdapat di dalamnya. Diorama yang ada di Museum Lubang Buaya ini merupakan gambaran dari rangkaian peristiwa terkait dengan kejadian G30S-PKI.

Museum Lubang Buaya

(Foto: Instagram/@ajatsudra)

Gambaran diorama dibuat senyata mungkin dengan tata tempat dan tata patung yang begitu nyata, ditambah dengan efek suara dan patung-patung yang dihadirkan pun memiliki ekspresi yang berbeda-beda sesuai dengan karakternya. Dengan harga tiket masuk sebesar Rp 2.500 per-orang, Anda sudah bisa belajar sekaligus mengenang sejarah di Museum Lubang Buaya. Menarik bukan?

Gedung Joang '45

Sebelum menjadi museum, Gedung Joang '45 dulunya adalah hotel yang bernama Schomper Hotel. Bangunannya telah didirikan sekira tahun 1920 hingga 1938, yang kala itu dikelola oleh seorang warga berketurunan Belanda, L.C. Schomper.

Gedung Joang

(Foto: Instagram/@borbrompt)

Bagi Anda yang tertarik dengan sejarah dan ingin mengenalkan anak-anak akan sejarah kemerdekaan Indonesia, mengunjungi Gedung Joang '45 adalah pilihan yang tepat. Di dalam gedung tersebut, Anda dan keluarga dapat melihat sejumlah catatan sejarah mengenai peristiwa yang terjadi menjelang kemerdekaan Republik Indonesia.

Gedung Joang '45 juga menyimpan sejumlah lukisan terkait dengan peristiwa seputar proklamasi kemerderkaan Indonesia. Ada juga diorama, namun berbeda dengan yang ada di Museum Lubang Buaya.

Di Gedung Joang '45, dioramanya berupa suasana gedung menteng pada masa kemerdekaan dan saat Bung Karno berorasi dalam kesempatan rapat besar di Lapangan IKADA pada 19 September 1945. Arsip-arsip, foto-foto hingga patung dada dari tokoh pergerakan kemerdekaan juga bisa Anda lihat di gedung ini.

Gedung Arsip Nasional

Gedung yang dibangun pada tahun 1760 ini menyimpan peninggalan dari zaman Belanda, seperti lemari, brankas, kursi, meja kerja dan koleksi senjata yang sudah berumur cukup tua.

Bangunan yang membentuk U itu juga memiliki desain interior cukup unik. Atapnya yang tinggi membuat udara bergerak dengan bebas, sehingga ketika berada di dalamnya Anda akan terus merasa sejuk.

Gedung Arsip Nasional

(Foto: Instagram/@erick_shinya)

Di salah satu lantai gedung, Anda dapat melihat keramik yang bercerita tentang kisah yang tertulis dalam Alkitab.

Selain itu, ada juga beberapa ruangan yang cukup besar, seperti ruang makan, lukisan-lukisan peta dunia, peta Batavia, kamar tidur Reiner de Klerk lengkap dengan ranjangnya. Gedung yang dibangun dengan gaya kolonial tersebut juga cocok untuk dijadikan sebagai spot foto prewedding atau sekadar selfie.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini