Wisata Sejarah, Ini 7 Tempat Pengasingan Soekarno

Ersa Ambarita, Jurnalis · Rabu 11 November 2020 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 10 408 2307409 wisata-sejarah-ini-7-tempat-pengasingan-soekarno-95zEjqYtjH.jpg Rumah pengasingan Soekarno di Prapat, Sumatera Utara (Instagram @andiydtm)

PRESIDEN pertama Republik Indonesia Soekarno bersama pejuang lainnya pernah ditangkap lalu diasingkan oleh pemerintah Hindia Belanda saat memperjuangkan kemerdekaan. Dalam pandangan Belanda, Bung Karno sosok berbahaya.

Ide dan kontribusi pemikiran Soekarno dianggap menjadi penghalang tujuan utama Belanda. Untuk mengantisipasi gerakan dibangun Bung Karno, Belanda mengasingkannya beberapa kali ke luar Pulau Jawa.

Tapi kenyataannya, di pengasingan Bung Karno masih melanjutkan cita-cita perjuangan dengan membangun konsolidasi demi terwujudnya kemerdekaan.

Baca juga: Pesanggarahan Muntok, Tempat Soekarno dan Tokoh Bangsa Mempertahankan Kemerdekaan RI

Sekarang tempat pengasingan Soekarno menjadi cagar budaya dan objek wisata sejarah untuk mengenang perjuangan sang proklamator kemerdekaan RI.

Berikut tempat-tempat pengasingan Soekarno yang dihimpun Okezone dari berbagai sumber :

1. Penjara Banceuy

Pembangkangan dan perlawanan pertama membuat Soekarno dan 3 rekannya dari Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepradja ditangkap di Yogyakarta pada 1929.

Belanda menjerumuskan Soekarno ke Penjara Banceuy, kota Bandung. Tempat tersebut memiliki ruang yang kumuh dan gelap. Selama 8 bulan Soekarno mendekam di sel selebar 1,5 meter. Selain itu, ia tidak diperbolehkan menerima surat dan tamu.

Ia juga dibiarkan di tahanan dengan rambutnya yang gundul dan mengenakan baju tahanan biru.

Salah satu kutipan terkenalnya di buku Bung Karno penyambung lidah rakyat Indonesia karya Cindy Adams menuliskan perasaan Soekarno ketika pertama kalinya ada di penjara, “Sering, saat malam telah larut, aku merasa seperti dimasukkan ke dalam kotak kecil berdinding batu yang begitu sempit, sehingga kalau aku merentangkan tangan, aku dapat menyentuh kedua sisi dari dindingnya.”

2. Lapas Sukamiskin

Lapas Sukamiskin terletak di Jalan A.H. Nasution Nomor 114, Bandung, Jawa Barat. Di tempat ini Soekarno menjalin hukuman pada 1930 karena berkonflik dengan putusan Belanda.

Kamar Soekarno tepatnya ada di blok timur, nomor TA1. Sebelum memasuki kamar akan ada sebuah tulisan berwarna putih yang berbunyi “bekas kamar Bung Karno”.

Baca juga: Hari Pahlawan, Ini 6 Kuliner Favorit Presiden Soekarno

Dalam kesehariannya, di kamar kecil tersebut Soekarno menulis buku ‘Indonesia Menggugat.’

3. Kota Ende

Sebagai tahanan politik Belanda, Soekarno pun sempat diasingkan selama empat tahun di Kota Ende pada 1934. Rumah pengasingan Soekarno ada di pesisir selatan, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

ilustrasi

Tempat ini sempat membawa rasa frustasi bagi Soekarno karena suasananya begitu sepi dan dijaga ketat oleh Belanda. Meski demikian, Soekarno memilih tidak menyerah. Hal ini dibuktikannya dengan tetap melakukan interaksi terbuka dengan masyarakat dan para misionaris di Ende.

Bahkan, tempat ini menjadi saksi atas pemikiran Soekarno membuat sila-sila bangsa Indonesia. Keabadian ingatan itu tersirat dalam patung Bung Karno yang merenung di bawah pohon sukun atau yang dikenal sebagai Taman Perenungan Bung Karno.

Rumah pengasingan Soekarno bersama keluarga kecilnya di kota Ende pun sangat terawat hingga sekarang.

4. Bengkulu

Tak hentinya ditangkap karena melakukan upaya perjuangan atas bangsa Indonesia, Soekarno juga diasingkan di Bengkulu pada 1938-1942. Rumah pengasingan Soekarno berada di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Bengkulu.

ilustrasi

Rumah pengasingan Soekarno di Bengkulu (Okezone)

Kisah juang Bapak Proklamator dapat ditemukan pada setiap ruang yang ia tinggalkan. Kemudian barang pribadinya yang cukup dikenal seperti buku bahasa Belanda, ranjang besi, seragam grup tonil Monte Carlo, dan sepeda tua Soekarno juga dirawat di rumah ini. Tak jauh berbeda dari rumah pengasingan sebelumnya, rumah di Bengkulu begitu terpencil dan sulit diakses.

5. Berastagi, Sumatera Utara

Tak banyak yang tahu jika salah satu tempat pengasingan Soekarno ada di Desa Lau Gumba, Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Di rumah bekas perwira Belanda inilah Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Haji Agus Salim diasingkan selama 12 hari pada 1948.

Meski diasingkan, kedekatan masyarakat Berastagi terjalin kuat karena Soekarno mengajarkan rasa solidaritas dalam kehidupan masyarakat.

Usahanya dalam mempersatukan bangsa membuatnya mendapat julukan sebagai Bapak Lambang Kemakmuran Rakyat di tanah karo. Namun, hal ini membuat Belanda resah hingga kembali memindahkan Soekarno dan ketiga rekannya ke Parapat.

Kini rumah putih dengan seng yang berwarna merah masih terawat bangunannya. Ragam fasilitas seperti tempat tidur, lemari, dan perabotan lainnya masih dapat ditemukan di rumah ini.

Di depan rumah juga terdapat patung perunggu atau replika Soekarno yang menyilangkan kaki. Rumah pengasingan Soekarno sudah mengalami renovasi sebanyak dua kali dan telah dijadikan sebagai mess pemerintahan Provinsi Sumatera Utara.

6. Parapat, Sumatera Utara

Berlanjut dari Berastagi, Soekarno dan pejuang nasional lainnya dibawa ke Parapat pada 1949. Rumah yang ditinggali ketiganya memiliki gaya arsitektur Eropa. Selain itu, rumah ini juga memiliki terowongan bawah tanah sejauh 3 Km yang pernah dipakai Belanda untuk aksi perangnya.

Di dalam rumah ini pengunjung bisa melihat barang-barang peninggalan sejarah. Hanya saja bagian tatanan rumah ini sudah banyak disentuh perubahan.

Rumah ini telah difungsikan sebagai mess pemerintah daerah. Kendati demikian, pengunjung masih bisa datang melihat bangunan sejarah sambil menikmati pesona alam Danau Toba.

7. Pulau Bangka

Pada 1949 Soekarno diasingkan ke Pulau Bangka, Kota Muntok. Bangunan khas Belanda ini sangat terawat dan bersih. Banyak wisatawan yang selalu datang ke tempat ini untuk melihat peninggalan Soekarno yang original.

Seperti kamar yang dikeramatkan, kamar wisma, tulisan tangan, ruang kerja, mesin ketik dan mobil Ford berpelat BN 10 yang pernah digunakannya. Dari ketinggian bangunan atau di Bukit Menumbing pengunjung bisa menikmati pohon hijau Pulau Bangka yang menyegarkan. Suasananya begitu tenang dan memanjakan mata.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini