Monumen Perang Dunia II, Jejak Memorial Korban Perang Pasifik di Manado

Subhan Sabu, Jurnalis · Jum'at 13 November 2020 14:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 13 408 2309003 monumen-perang-dunia-ii-jejak-memorial-korban-perang-pasifik-di-manado-hN2OhGgrVA.jpg Monumen Perang Dunia II di Kompleks Gereja GMIM Sentrum, Manado, Sulawesi Utara (Okezone.com/Subhan Sabu)

DI SELURUH Indonesia, mungkin hanya ada satu monumen yang didirikan oleh kekuasaan sekutu untuk mengenang para korban Perang Dunia (PD) II semasa tahun 1941-1945.

Tugu peringatan yang dimaksud bukanlah untuk serdadu-serdadu yang gugur, melainkan untuk menghormati dan mengenang pengorbanan penduduk setempat yang telah dilibatkan dalam perang itu.

Monumen Korban Perang Dunia II sampai kini masih berdiri tegak di samping Gereja GMIM Sentrum, Manado, Sulawesi Utara.

Baca juga: Hari Pahlawan, Ini 6 Kuliner Favorit Presiden Soekarno

Walaupun strukturnya sudah lengkap, namun monumen ini belum sempurna. Prasastinya saja belum dipasang dan belum diresmikan oleh Sekutu sejak bangunan itu mulai didirikan pada 1946.

Monumen PD II itu menyimpan kenangan pahit bagi Manado. Dua kali kota ini dibombardir besar-besaran baik oleh Jepang di awal perang, maupun oleh pasukan sekutu menjelang bertekuk-lututnya bala tentara Kaisar Tenno Heika atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kaisar Hirohito.

ilustrasi

Monumen Perang Dunia II di Manado (Okezone.com/Subhan Sabu)

Menurut Ben Wowor (98), pelaku sejarah peristiwa heroik merah putih 14 Februari 1946, cukup banyak tokoh-tokoh pemerintahan dan militer Hindia Belanda serta penduduk kota ini yang nyawanya melayang, menyusul pendudukan Jepang 11 Januari 1942 yang diawali dengan serangan militer berhari-hari.

Menjelang berakhirnya PD II, Manado yang dinilai sebagai kota terpenting di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah oleh pasukan sekutu pimpinan Jenderal Mac Arthur, kembali menderita.

Baca juga: Menyambangi Museum Pangeran Diponegoro di Yogyakarta, Apa Saja Koleksinya?

Jenderal Mac Arthur menganggap Manado sangat strategis dalam rangka memukul balik Jepang. Tidak mengherankan bila Manado telah dibom secara besar-besaran sehingga praktis seluruh bangunan menjadi rata dengan tanah.

Usai PD II, bangsa-bangsa yang terlibat peperangan tersebut memberikan ganti rugi kepada rakyat yang menjadi korban. Demikian juga berlaku bagi rakyat Sulawesi Utara yang daerahnya luluh lantak oleh Perang Dunia II 1941-1945.

Khususnya kota Manado yang adalah pusat kekuatan militer dan pemerintahan sipil di masa penjajahan Belanda dan di masa pendudukan Jepang telah menjadi sasaran pemusnahan oleh kedua belah pihak yang berperang (Jepang vs Sekutu).

Setelah Jepang bertekuk lutut dan Kota Manado dihancurkan secara total, Sekutu tidak serta merta meninggalkan Manado dan Minahasa tanpa jejak kenangan, tentang penyesalannya atas pengorbanan rakyat Sulawesi Utara yang telah berjasa pada sekutu dalam perang melawan Jepang.

Itulah sebabnya maka Belanda atau NICA sebagai anggota Sekutu melakukan langkah rehabilitasi dengan memasok bahan-bahan berupa pakaian dan obat-obatan serta 3.000 zak semen untuk membangun sebuah memorial bagi para korban perang.

"Tempat yang dipilih ialah halaman Gereja GMIM Sentrum sekarang yang menurut Kadaster adalah milik negara. Konon kepada Jemaat GMIM akan disediakan suatu areal di bagian tinggi kota Manado," tutur Ben Wowor, Jumat (13/11/2020).

Karena berada di daerah pelabuhan, selain membangun tugu memorial, Belanda berencana menggali areal di depan tugu itu untuk dijadikan pelabuhan dengan dermaganya.

"Tugu ini mulai dibangun tahun 1946 oleh kepala PU NICA, instansi yang dinamakan POD (Plaatselijke Opbouwdienst), yakni Ir. C. J. Uit den Bosch, tetapi tidak sampai diselesaikan karena waktu itu kita sedang berperang dengan Belanda," ujar Ben Wowor.

ilustrasi

Monumen yang dibangun sebagai kenangan terhadap korban perang Pasifik baik dari sekutu, Jepang, dan rakyat itu tingginya sekira 40 meter. Memiliki empat tiang penyangga dengan sebuah kubus di atasnya.

"Inti dari simbol kubus ini mengandung arti persembahan yang termulia, yaitu tempat persemayaman korban perang yang kita cintai," kata Ben Wowor

Secara kultural tradisional desain ini mengacu kepada adat istiadat tentang bentuk makam bagi rakyat Minahasa. Berbentuk kubus melambangkan sebuah waruga, peti jenazah yang terletak di atas tanah.

Bagi korban perang dari bangsa-bangsa sekutu, kubus di atas puncak tugu melambangkan sebuah sarkofagus yang merupakan suatu warisan suci dan keramat.

"Kubus itu dipisahkan dari bagian bawah oleh empat bola penyangga, sebagaimana kita mengusung suatu peti jenazah secara simbolis," jelas Ben.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini