Matangkan Konsep Desa Wisata Tihingan, Bupati Klungkung: Kita Fokus Kerajinan Gong

Antara, Jurnalis · Minggu 15 November 2020 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 15 406 2309837 matangkan-konsep-desa-wisata-tihingan-bupati-klungkung-kita-fokus-kerajinan-gong-vyBsH1S7dm.JPG Bupati Klungkung meninjau desa wisata Tihingan (Foto: Antara)

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Klungkung, Bali tengah mematangkan konsep desa wisata di Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali. Nantinya akan diawali dengan menjelajahi jalur treking sepanjang 4 kilometer.

"Desa Wisata Tihingan ini satu paket dengan Desa Wisata Kamasan dan segala perencanaan akan diambil oleh Pemkab. Untuk Desa Tihingan, kita fokus yang berbasis kerajinan gong dari hulu sampai hilir," kata Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, Minggu (15/11/2020).

"Dari hulu bagaimana nanti atraksi-atraksi pembuatan gong itu dari rumah, lalu dari hilir untuk latihan gong di Banjar Tihingan," tambahnya.

Bupati Suwirta menekankan bahwa desa wisata harus mengedepankan sapta pesonanya, terutama kebersihan, maka sampah dan penataan lingkungan ini tentu menjadi prioritas.

"Kebersihan masing-masing lingkungan harus dijaga dengan baik, mulai dipilah dari masing-masing keluarga untuk dibawa ke TOSS Center," kata dia.

Baca juga: Tak Cuma Air Panas, Wisata Lombongo Juga Punya Sungai Jernih Memikat

Hal yang tidak kalah pentingnya lanjut dia, masyarakat nantinya bisa menyambut baik desa wisata ini dengan persiapan toilet dan homestay. Nantinya, pihak terkait harus segera melengkapi kebutuhan air yang ada di sana.

Pokdarwis dan BUMDes kata dia, nantinya akan dibuatkan sdatu wadah untuk mengelola desa wisata dengan baik.

"Semoga Covid-19 segera berlalu, sehingga untuk perencanaan dan pembuatan Desa Wisata ini tidak memerlukan waktu yang lama," tuturnya.

Tradisi Ngodi

Secara terpisah, seniman I Wayan Arnata sedang mengembangkan tradisi Ngodi atau tradisi kreasi benang tradisional Bali untuk seni hias, sehingga kearifan lokal dapat dipadukan dengan karya kontemporer yang modern.

"Pengalaman masih anak-anak yang sering mengikuti kakek, kebetulan kakek seniman yang ahli membuat sarana prasarana upacara adat di Bali, maka saya memakai benang sebagai media dalam berkarya," kata Arnata.

Ia mengakui teknik Ngodi memang sulit, namun seiring proses berjalan dengan teknik kreasi benang tradisional Bali itu, maka ia menemukan formula teknik dalam ekplorasi diri.

Menurut dia, Bali memang memiliki kultur budaya yang melekat di masyarakat, baik adat dan kegiatan ritual yang selalu berdampingan dengan seni.

"Piranti sarana dan prasana ritual upacara adat Bali misalnya, hiasan dan ornamen setiap daerah mempunyai karektertistik tersendiri," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini