Jubir Kemenparekraf: Protokol 3K Kunci Kebangkitan Pariwisata Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 16 November 2020 22:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 16 406 2310648 jubir-kemenparekraf-protokol-3k-kunci-kebangkitan-pariwisata-indonesia-5U5xlPKGI6.JPG Jubir Kemenparekraf, Prabu Revolusi (Foto: Instagram/@praburevolusi)

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya menggeliatkan kembali sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi virus Corona alias Covid-19.

Sembari mendorong pergerakkan wisatawan domestik, Kemenparekraf kini tengah menggencarkan penerapan integrasi protokol 3K yaitu Kesehatan, Keamanan, dan Keselamatan destinasi pariwisata.

Juru Bicara (Jubir) Kemenparekraf Prabu Revolusi mengatakan, lewat protokol tersebut dapat mendorong kepercayaan wisatawan terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia.

"Semua kita lakukan untuk memastikan pariwisata Indonesia kita bisa berdenyut lagi, bisa kembali jutaan orang yang bersandar hidupnya pada pariwisata bisa kembali bernapas dan banyak hal yang kita lakukan tidak hanya di Bali," terang Prabu.

Prabu kemudian memberikan contoh Labuan Bajo yang belum lama ini telah melaksanakan simulasi protokol 3K untuk pertama kalinya di Indonesia. Dalam praktiknya, protokol 3K diklaim memiliki sistem yang terintegrasi atau terpadu Keamanan, Kesehatan dan Keselamatan.

Baca juga: Labuan Bajo Jadi Destinasi Pertama Simulasi Protokol 3K

"Integrasi yang sebelumnya sulit, ternyata sekarang bisa dilakukan. 23 Kelembagaan dan Kementerian bersatu padu, satu visi untuk membuat satu protokol yang selama ini kita idam-idamkan dan ternyata bisa. Labuan Bajo jadi percontohan pertama dan nanti akan diadopsi oleh daerah-daerah lainnya agar protokol 3K itu bisa diimplementasikan ke daerah-daerah lain," paparnya.

Dengan diterapkannya protokol 3K, dirinya optimistis lambat laun kepercayaan wisatawan untuk berwisata akan bertambah. Namun sebelum itu, Prabu menegaskan bahwa Kemenparekraf enggan terburu-buru menggenjot pariwisata ketika semuanya belum siap.

Bukan tanpa alasan, di masa pandemi Covid-19 ini, sejumlah pakar pariwisata telah memprediksi terjadinya pergeseran perilaku wisatawan yang memaksa pemerintah untuk mengusung konsep pariwisata berkualitas.

Artinya, rasa aman dan nyaman menjadi kunci yang harus diterapkan di destinasi wisata. Dan ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar untuk Indonesia.

"Kapanpun wisata itu datang, kita ingin sudah siap. Kita tidak ingin wisatawan kecewa ketika datang. Sekarang ini kita saat ini perlahan tapi pasti yang jelas untuk mempersiapkan semuanya untuk menyambut wisatawan datang saat pandemi selesai," ungkapnya.

Sementara terkait kapan dibukanya pintu masuk bagi wisatawan mencanegara, Prabu mengatakan bahwa untuk wisatawan asing, kewenangannya bukan di Kemenparekraf.

"Itu ada di Imigrasi dan Kemenlu, kita tunggu saja. Yang bisa dilakukan dilakukan saat ini adalah menyiapkan saja destinasi wisatanya agar kapanpun penerbangan dari mancanegara dibuka ke Indonesia, kita sudah siap. Namun demikian, patut dipahami tren ke depan dalam satu dua tahun, sebetulnya tren berwisata lebih ke domestik. Kita malah berharap wisata ini nanti akan besar dari domestik, dari kita sendiri," terang Prabu.

"Dari kajian yang ada, orang masih enggan untuk pergi ke luar negeri untuk berlibur. Jadi kita memastikan justru fokus pada wisatawan domestik. Ditambah lagi tren wisata ke depan lebih kepada keluarga, private atau menghindari keramaian. Maka Indonesia adalah tempat yang paling tepat. Fokus kita lebih kepada wisatawan domestik agar bisa bangkit karena tentu ini menjadi pilihan yang masuk akal," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini