Kemenparekraf Kembangkan Wisata Minat Khusus Sangkulirang, Apa Keunggulannya?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 19 November 2020 15:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 19 406 2312406 kemenparekraf-kembangkan-wisata-minat-khusus-sangkulirang-apa-keunggulannya-Q9yZGiKm0m.jpg FGD Sangkulirang Road to Adventure Travel. (Foto: Dimas/Okezone)

WISATA minat khusus digadang-gadang akan menjadi tren wisata baru di masa new normal maupun pascapandemi Covid-19. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggagas program khusus untuk mendorong pengembangan potensi wisata minat khusus di Indonesia.

Salah satu upaya yang saat ini tengah dilakukan Kemenparekraf adalah menyiapkan kawasan Sangkulirang di Kalimantan Timur sebagai destinasi wisata petualangan. Daya tarik Sangkulirang memang tidak terbantahkan lagi.

Sangkulirang dikelilingi oleh dinding-dinding terjal, gua bawah tanah dengan ukiran alam eksotis, serta perbukitan hijau yang bisa membuat wisatawan akan kagum. Ditambah lagi keindahaan kelompok karst berukuran raksasanya yang membenteng dari Kabupaten Kutai Timur hingga ke Kabupaten Berau.

Destinasi ini sebetulnya bukan hal baru bagi para penggiat wisata petualangan domestik maupun mancanegara. Pasalnya, di kawasan Sangkulirang inilah terdapat banyak goa yang memberi informasi menarik tentang jejak manusia purba melalui lukisan tangan, gambar perahu, serta lukisan berbagai jenis binatang.

Lukisan-lukisan itu tergambar jelas pada dinding-dinding gua yang diklaim telah ada sekitar 10.000 tahun SM. Tak pelak bila informasi seputar Sangkulirang sudah melanglang buana hingga ke mancanegara. Hanya saja belum terlalu banyak dilirik oleh wisatawan domestik.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Direktur Bidang Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf, Drs Alexander Reyaan M.M, mengatakan bahwa Kemenparekraf telah berkomitmen mengembangkan kawasan Sangkulirang sebagai sebuah produk wisata yang berkualitas.

“Wisata petualang itu adalah potensi atau masa depan yang bisa menjawab bangkitnya pariwisata-pariwasata dalam negeri pasca pandemi Covid-19. Untuk itu, kita ingin mencoba agar kawasan Sangkulirang ini menjadi sebuah produk wisata yang menarik dan berkualitas,” ujarnya dalam acara “Forum Group Discussion Sangkulirang Road to Adventure Travel” di Hotel Royal Victoria, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Kamis (19/11/2020).

Baca Juga: Wishnutama Ungkap Alasan Kemenparekraf Gandeng Influencer Promosikan Pariwisata

Wisata minat khusus digadang-gadang akan menjadi tren wisata baru di masa new normal maupun pasca pandemi Covid-19. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggagas program khusus untuk mendorong pengembangan potensi wisata minat khusus di Indonesia.
Salah satu upaya yang saat ini tengah dilakukan Kemenparekraf adalah menyiapkan kawasan Sangkulirang di Kalimantan Timur sebagai destinasi wisata petualangan. Daya tarik Sangkulirang memang tidak terbantahkan lagi.
Sangkulirang dikelilingi oleh dinding-dinding terjal, gua bawah tanah dengan ukiran alam eksotis, serta perbukitan hijau yang bisa membuat wisatawan akan terkagum-kagum. Ditambah lagi keindahaan kelompok karst berukuran raksasanya yang membenteng dari Kabupaten Kutai Timur hingga ke Kabupaten Berau.
Destinasi ini sebetulnya bukan hal baru bagi para penggiat wisata petualangan domestik maupun mancanegara. Pasalnya, di kawasan Sangkulirang inilah terdapat banyak goa yang memberi informasi menarik tentang jejak manusia purba melalui lukisan tangan, gambar perahu, serta lukisan berbagai jenis binatang.
Lukisan-lukisan itu tergambar jelas pada dinding-dinding gua yang diklaim telah ada sekitar 10.000 tahun SM. Tak pelak bila informasi seputar Sangkulirang sudah melanglang buana hingga ke mancanegara. Hanya saja belum terlalu banyak dilirik oleh wisatawan domestik.
Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Direktur Bidang Wisata Alam, Budaya, dan Buatan Kemenparekraf, Drs Alexander Reyaan M.M, mengatakan bahwa Kemenparekraf telah berkomitmen mengembangkan kawasan Sangkulirang sebagai sebuah produk wisata yang berkualitas.
“Wisata petualang itu adalah potensi atau masa depan yang bisa menjawab bangkitnya pariwisata-pariwasata dalam negeri pasca pandemi Covid-19. Untuk itu, kita ingin mencoba agar kawasan Sangkulirang ini menjadi sebuah produk wisata yang menarik dan berkualitas,” ujarnya dalam acara “Forum Group Discussion Sangkulirang Road to Adventure Travel” di Hotel Royal Victoria, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Kamis (19/11/2020).
Kendati demikian, Alex Reyaan mengatakan ada lima poin penting yang harus diperhatikan sebelum proses pengembangan kawasan wisata ini dilakukan. Kelima poin tersebut berkaitan erat dengan unsur-unsur sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan).
Pertama, untuk mengembangkan suatu destinasi minat khusus diperlukan mapping atau pemetaan tentang aktivitas apa saja yang dapat dilakukan wisatawan di tempat itu. Kedua, potensi utama Sangkulirang sendiri adalah alamnya. Maka dari itu, setiap rencana pengembangan harus memenuhi syarat-syarat dalam pengembangan geopark yakni, geodiversity (keragaman geologi), biodiversity (keragaman hayati), serta cultural diversity (keragaman budaya).
Ketiga, mengingat wisata petualangan itu membutuhkan nyali dan kekuatan fisik, maka segmentasi pasar yang harus disasar harus jelas. Dalam hal ini adalah wisatawan-wisatawan yang memang memiliki minat di bidang special interest.
“Dan biasanya segmen pasar ini adalah wisatawan-wisatawan yang memang rela spending lebih banyak atau bisa dibilang kelas menengah keatas. Maka dari itu, untuk poin ke-empat, kita harus menyiapkan prosedur keamanan yang baik untuk menarik perhatian mereka,” tegas Alex.
“Pengembangan wisata petualangan ini juga harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Itu adalah tujuan akhir kita, menciptakan produk wisata berkualitas sekaligus membantu melestarikan alam dan mensejahterakan masyasrakat,” imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh DR. Pindi Setiawan M.Si, Perwakilan FRSD ITB dan juga sebagai penemu gambar cadas Sangkulirang. Menurutnya kegiatan FGD ini sangat penting untuk memetakan seperti apa kedepannya kawasan Sangkulirang akan dikembangkan.
Namun ketika berbicara soal pariwisata berkualitas, Pindi mengatakan harus ada upaya dan komitmen berkelanjutan yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta para stakeholders.
“FGD hari ini istilahnya adalah dreaming atau branding. Setelah ini, seharusnya ada kegiatan lanjutan untuk memulai merancang perencanaan (Planning) seperti apa paket-paket wisata yang akan ditawarkan, dan mempersiapkan kebutuhan lainnya termasuk memastikan prosedur keamanan. Kalau sudah dapat formulanya, kita baru bisa ‘booking’ atau mengajak wisatawan untuk berkunjung,” kata Pindi.
“Ketika semuanya sudah siap, wisatawan yang datang otomatis akan puas, dan disinilah unsur satisfying akan tercipta. Mereka kemudian akan travel widely atau mulai menyambangi destinasi-destinasi di sekitarnya. Terakhir mereka juga akan memberikan testimony dan advisory, setidaknya ke keluarga atau ke teman-teman terdekat. Dan itulah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengembangkan pariwisata berkualitas,” tutupnya.

Kendati demikian, Alex Reyaan mengatakan ada lima poin penting yang harus diperhatikan sebelum proses pengembangan kawasan wisata ini dilakukan. Kelima poin tersebut berkaitan erat dengan unsur-unsur sustainable tourism (pariwisata berkelanjutan).


Pertama, untuk mengembangkan suatu destinasi minat khusus diperlukan mapping atau pemetaan tentang aktivitas apa saja yang dapat dilakukan wisatawan di tempat itu. Kedua, potensi utama Sangkulirang sendiri adalah alamnya. Maka dari itu, setiap rencana pengembangan harus memenuhi syarat-syarat dalam pengembangan geopark yakni, geodiversity (keragaman geologi), biodiversity (keragaman hayati), serta cultural diversity (keragaman budaya).


Ketiga, mengingat wisata petualangan itu membutuhkan nyali dan kekuatan fisik, maka segmentasi pasar yang harus disasar harus jelas. Dalam hal ini adalah wisatawan-wisatawan yang memang memiliki minat di bidang special interest.


“Dan biasanya segmen pasar ini adalah wisatawan-wisatawan yang memang rela spending lebih banyak atau bisa dibilang kelas menengah keatas. Maka dari itu, untuk poin ke-empat, kita harus menyiapkan prosedur keamanan yang baik untuk menarik perhatian mereka,” tegas Alex.


“Pengembangan wisata petualangan ini juga harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Itu adalah tujuan akhir kita, menciptakan produk wisata berkualitas sekaligus membantu melestarikan alam dan mensejahterakan masyasrakat,” imbuhnya.


Hal senada juga diungkapkan oleh DR. Pindi Setiawan M.Si, Perwakilan FRSD ITB dan juga sebagai penemu gambar cadas Sangkulirang. Menurutnya kegiatan FGD ini sangat penting untuk memetakan seperti apa kedepannya kawasan Sangkulirang akan dikembangkan.


Namun ketika berbicara soal pariwisata berkualitas, Pindi mengatakan harus ada upaya dan komitmen berkelanjutan yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta para stakeholders.


“FGD hari ini istilahnya adalah dreaming atau branding. Setelah ini, seharusnya ada kegiatan lanjutan untuk memulai merancang perencanaan (Planning) seperti apa paket-paket wisata yang akan ditawarkan, dan mempersiapkan kebutuhan lainnya termasuk memastikan prosedur keamanan. Kalau sudah dapat formulanya, kita baru bisa ‘booking’ atau mengajak wisatawan untuk berkunjung,” kata Pindi.


“Ketika semuanya sudah siap, wisatawan yang datang otomatis akan puas, dan disinilah unsur satisfying akan tercipta. Mereka kemudian akan travel widely atau mulai menyambangi destinasi-destinasi di sekitarnya. Terakhir mereka juga akan memberikan testimony dan advisory, setidaknya ke keluarga atau ke teman-teman terdekat. Dan itulah syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mengembangkan pariwisata berkualitas,” tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini