Ketika Lorong Tua yang Kumuh Disulap Jadi Kawasan Kekinian

Ersa Ambarita, Jurnalis · Sabtu 21 November 2020 06:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 406 2313255 ketika-lorong-tua-yang-kumuh-disulap-jadi-kawasan-kekinian-ZoILDTOd4d.jpg Lorong tua Lannidu Lu bertransformasi jadi pusat keuangan modern di Pudong, Shanghai, China (Shanghai Daily)

SEORANG fotografer, Yao Jianling selama 30 tahun terakhir mengabadikan transformasi lorong tua Lannidu Lu di Pudong, Shanghai, China. Kini lorong kecil dan kumuh tersebut telah disulap menjadi kawasan inti keuangan Lujiazui dengan mnuansa lebih kekinian.

Di kawasan inilah gedung kedua tertinggi di dunia tegak memamerkan kilau cahaya dinding dan kemegahannya.

Ratusan gambar yang dibagikannya di media membuat masyarakat tercengang. Sebagian besar dari mereka tidak benar-benar percaya bahwa Lujiazui dulunya daerah kumuh, terpencil, dan sulit untuk dijangkau.

Baca juga: Lebih 85 Ribu Wisatawan Kunjungi Sabang Selama 2020

Sedangkan Yao di masa kecilnya hanya pernah bermimpi bahwa gang kecil dengan gubuk-gubuk di dalamnya bisa dikenal dunia. Hingga mimpinya menjadi kenyataan pada 1990.

Pudong akhirnya dipilih sebagai kawasan besar dalam pembangunan ekonomi Tiongkok. Pemukiman kumuh perlahan diganti dengan halaman rumput yang modern.

“Tentu saja saya sangat senang ketika mendengarnya, tapi aku juga enggan mengucapkan selamat tinggal pada tempat yang kukenal di mana aku dibesarkan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tempat seperti itu bisa diubah menjadi pusat keuangan, “ kata Yao seperti dilansir dari Shanghai Daily, Jumat (20/11/2020).

Peringatan 30 tahun pembukaan Shanghai Pudong membuat banyak orang mengenang kisah di Pudong lama. Cerita di dalamnya seakan terus hidup di hati mereka yang pernah menatap jejeran kapal di seberang sungai.

Baca juga: Ruang Publik di Labuan Bajo Segera Dilengkapi Peta Wisata dan Buku Budaya Lokal

“Generasi muda mungkin melihat Lujiazui dan berpikir bahwa Lujiazui selalu menjadi pusat dan kekuatan bisnis yang dinamis, tetapi kami, generasi yang lebih tua, tahu apa yang terjadi. Begitu banyak kenangan! Ini adalah kisah yang menyentuh di balik gambar-gambar lama,” ujarnya.

Bahkan, pada 1996, ketika Yao mengambil gambar gerbang bekas di gang sempit, tampak seorang wanita tua sedang membakar bara yang seolah melihat ke arahnya.

“Di sebuah pameran, saya melihat seorang wanita muda menatap foto itu dengan saksama. Dengan berlinang air mata, dia memberi tahu saya bahwa itu adalah neneknya, dan saya kemudian mengirimkan foto itu kepadanya sebagai hadiah,” tambah Yao.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini