Kembangkan Objek Wisata Baru, Pemkab Kudus Gandeng Karang Taruna

Antara, Jurnalis · Senin 23 November 2020 11:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 406 2314183 kembangkan-objek-wisata-baru-pemkab-kudus-gandeng-karang-taruna-35KCEAKSvw.JPG Plt Bupati Kudus, Hartopo (Foto: Antara)

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Kudus, Jawa Tengah, terus mendorong setiap desa melakukan pengembangan objek wisata baru dengan memanfaatkan potensi daerah, terutama sumber daya alam. Hal itu guna mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar.

"Dengan tumbuhnya objek wisata baru di Kabupaten Kudus, tentunya roda perekonomian masyarakat sekitar juga akan meningkat dan kelak juga bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD)," kata Pelaksana tugas (Plt) Bupati Kudus, Hartopo di sela launching wisata agro kopi dan jembangan coffe and resto di Desa Wisata Japan, Kecamatan Dawe, akhir pekan lalu.

Hadirnya objek wisata baru di Desa Japan yang dikemas dengan bentuk resto, kata dia, sangat didukung karena nantinya bisa menghadirkan sektor-sektor usaha baru di sekitarnya.

Baca juga: Berkunjung ke Wakatobi, Wamendes Bicara soal Desa Wisata

Selain itu, lanjut dia, destinasi wisata baru ini bisa memberikan motivasi kepada desa wisata lainnya yang baru saja ditetapkan.

"Wisata agro kopi ini membuktikan bisa memajukan ekonomi kreatif. Memberdayakan remaja-remaja desa atau pokdarwis turut mengelola," ujarnya.

Keberadaan generasi muda, lanjut Hartopo, sangat potensial untuk dibekali kemampuan mengelola sektor-sektor usaha yang terkait dengan potensi daerah sehingga nantinya juga bisa untuk peningkatan pendapatan asli desa.

"Kenali potensi alam, misalkan bisa dimanfaatkan untuk destinasi wisata maka manfaatkan sebaik mungkin. Libatkan karang taruna dan bentuk tim kreator. Seperti yang ada di Desa Tanjung Rejo memiliki potensi alam dimanfaatkan sebagai destinasi wisata baru," paparnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpar Kudus, Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan, wisata agro yang baru diresmikan menawarkan petik buah jeruk pamelo, alpukat, pisang byar, parijoto, ubi-ubian dan madu lebah.

Masing-masing daerah, kata dia, bisa mengemas usahanya sesuai dengan potensi yang dimiliki. Seperti wisata agro kopi dan jembangan coffe and resto di Desa Wisata Japan yang memang berada di lahan milik perorangan, namun pengelolaannya oleh kelompok sadar wisata sehingga dapat menjadi penggerak roda perekonomian masyarakat sekitar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini