Penutupan Loh Buaya Bikin Komodo Ceria dan Bisa Bergerak Lebih Aktif

Antara, Jurnalis · Selasa 24 November 2020 08:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 406 2314739 penutupan-loh-buaya-bikin-komodo-ceria-dan-bisa-bergerak-lebih-aktif-SeW5KDChpX.jpg Komodo (Freepik)

BERKURANGNYA kegiatan manusia di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat pandemi Covid-19 mempengaruhi aktivitas komodo di daerah itu menjadi lebih aktif yang dapat kembali berubah ketika terjadi kembali interaksi tinggi dengan wisatawan.

"Olahan data sementara menunjukkan bahwa sekarang komodo yang ada di Loh Buaya cenderung bergerak lebih aktif dibandingkan ketika 2019," kata Dr. Mirza Kusrini, peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Baca juga: Labuan Bajo Dibangun, Desa Wisata Wae Rebo Dipromosikan

Hal itu disampaikan Mirza dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI tentang pembangunan fasilitas wisata di Loh Buaya, Pulau Rinca, NTT dipantau virtual dari Jakarta pada Senin 23 November kemarin.

Pulau Rinca salah satu habitat komodo. Resort Loh Buaya di pulau itu ditutup sementara sejak 26 September 2020 hingga 30 Juni 2021 karena ada proyek pembangunan sarana dan prasarana wisata di kawasan tersebut.

Pada 2019, ketika pariwisata masih berjalan dengan frekuensi aktivitas manusia yang tinggi, komodo di daerah Loh Buaya cenderung berdiam di tempat yang sama. Berbeda dengan saat ini ketika mereka menjelajah ke daerah lain.

Baca juga: 6 Ide Wisata Seru Bareng Kelurga saat Libur Akhir Tahun, Staycation hingga Trekking

Komodo yang berada di Loh Buaya, kata Mirza, yang memaparkan beberapa temuan penelitian tersebut, memang cenderung lebih terbiasa dengan manusia.

"Justru kami sebagai orang-orang yang bergerak di bidang konservasi satwa liar kami tidak bahagia dengan itu. Inginnya satwa liar harus tetap liar, jadi tidak boleh terlalu dekat dengan manusia," ujar pengajar di Departemen Konservasi Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, IPB University itu.

Ia menganjurkan agar terjadi pengurangan interaksi manusia terutama wisatawan dengan komodo.

Selain aktivitas komodo, peneliti IPB juga menemukan bahwa kondisi populasi dan habitat di TN Komodo masih dalam kondisi terjaga. Diperkirakan terdapat sekitar 3.022 ekor komodo yang berada di seluruh TN Komodo, atau naik dari 2.897 ekor pada 2018.

Namun, para peneliti memperingatkan masih adanya potensi ancaman terhadap spesies yang dilindungi itu. Mirza memberi contoh kemungkinan invasi spesies alien atau yang tidak asli daerah itu seperti kodok buduk.

Selain itu terdapat persepsi konservasi yang rendah oleh masyarakat tidak hanya yang tinggal di TN Komodo, tapi juga yang berada di luar kawasan tersebut.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengingatkan bahwa komodo tidak hanya berada di daerah kawasan taman nasional tapi terdapat juga di daerah lain.

"Kami harapkan mendapat perhatian yang lebih banyak, karena selama ini orang kami lihat lebih banyak perhatian ke komodo di dalam TN. Padahal di luar TN ada juga komodo, dan mereka tidak terlalu diperhatikan," kata Mirza.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini