Pesona Pura Tertua di Bali yang Dibangun Sejak 1022 Masehi

Sindonews, Jurnalis · Senin 23 November 2020 11:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 23 408 2314323 pesona-pura-tertua-di-bali-yang-dibangun-sejak-1022-masehi-1wKlTHRkgj.jpg Pura Puseh Batuan, pura tertua di Bali (Sindonews/Thomas Manggalla)

PURA Puseh Batuan memiliki daya tarik bagi wisatawan, terutama dari sisi latar sejarah berdirinya. Rumah ibadah umat Hindu di Dusun Tengah, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, ini merupakan pura tertua di Bali.

Pura Puseh dibangun tahun 1022 Masehi. Peninggalan dari zaman Bali kuno ini sangat menarik bagi mereka yang ingin menikmati wisata sejarah dan budaya selama liburan di Pulau Dewata. Dinding bangunan ini terbuat dari batu bata merah dan dihiasi ukiran berbentuk bunga.

Seperti lazimnya bangunan pura, Pura Puseh juga terdiri dari areal yang dikenal dengan Nista Mandala (jaba sisi), Madya Mandala (jabatengah), dan Utama Mandala (jeroan). Setiap areal dibatasi dinding dan candi.

Baca juga:  Candi Joglo, Objek Wisata Bernuansa Bali Favorit Turis di Grobogan

Di sini pengunjung akan melewati gapura candi bentar, menyaksikan sebuah bangunan kori agung dengan sebuah pintu untuk keluar dan masuk yang menurut kepercayaan Hindu merupakan tempat keluar-masuknya para Dewa.

Sedangkan di samping kiri serta kanan kori agung terdapat pintu untuk keluar dan masuk umat yang ingin melakukan persembahyangan ataupun wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata ini.

Pada halaman tengah Pura Puseh Anda bisa menyaksikan Bale Agung dan Bale Kulkul. Pada bagian lain terdapat seperangkat gamelan untuk mengiringi saat ada upacara keagamaan.

Sementara pada bagian utama pura, yaitu Utama Mandala, terdapat bangunan padmasana, bangunan meru, serta sejumlah pelinggih lain dan benda-benda peninggalan kuno yang ditempatkan pada sebuah bangunan wantilan belakang pura.

 

I Wayan Arsana selaku kliyan atau tetua di Pura Puseh mengatakan, pura ini merupakan bagian dari Tri Kahyangan dalam sebuah Desa Pakraman di Bali. Konsep Desa Pakraman termasuk juga Pura Tri Kahyangan, dicetuskan dan digagas oleh Mpu Kuturan yang datang ke Pulau Bali pada tahun 1001 Masehi.

Tujuannya tak lain adalah mempersatukan sekte-sekte dan kelompok masyarakat yang ada di Bali untuk menyembah Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa (Tri Murti Tatwa).

Baca juga:  Deretan Pantai-Pantai Eksotis di Bali Selatan, Pesonanya bak Surga

"Kalau dilihat dari kedatangan Mpu Kuturan di Bali pada tahun 1001, tentu butuh proses dalam mencetuskan konsep religius seperti pemahaman Tri Murti dan Pura Kahyangan Tiga. Diadakan juga paruman-paruman (pertemuan) yang mempertemukan tokoh kelompok, golongan, dan sekte sehingga pada akhirnya sekte masyarakat Bali menyatu dan manunggal.

"Tempat pertemuan tersebut sekarang dikenal dengan Pura Samuan Tiga. Lokasinya di Blahbatuh, berdekatan dengan pusat pariwisata Ubud, Gianyar," beber Wayan Arsana.

Apabila dirunut, Pura Puseh Batuan dibangun 21 tahun setelah kedatangan Mpu Kuturan sehingga menjadi pura tertua. Bisa dibayangkan usia pura ini, sudah ribuan tahun lebih. Karenanya, pantas jika kemudian Pura Puseh begitu diminati sejumlah wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat peninggalan sejarah tersebut.

"Pura Puseh Batuan memang memiliki catatan sejarah panjang. Dibangun pada awal mula peradaban budaya Hindu masuk ke Bali. Di pura ini juga tersimpan sejumlah peninggalan purbakala yang berasal dari zaman prasejarah, seperti sejumlah arca, lingga, dan peripih," sebut Wayan Arsana.

Pura Puseh berdiri di tempat yang strategis karena berada di pinggir jalan raya utama Desa Batuan. Lokasi ini termasuk dalam jalur perjalanan wisata Denpasar-Ubud-Kintamani, serta berdekatan dengan Pasar Seni Sukawati, air terjun Tegenungan, Celuk, Bali Zoo, dan Bali Bird Park sehingga wisatawan ataupun agen perjalanan bisa mengemas paket tour dengan lebih mudah.

Sementara itu, di tengah pandemi Covid-19, tempat wisata ini juga telah menerapkan protokol kesehatan. Ada tempat mencuci tangan di pintu masuk utama, berwisata menggunakan masker, dan menjaga jarak antara pengunjung satu dengan yang lain. Pada loket penjagaan juga terlihat petugas melakukan pengecekan suhu tubuh kepada masing-masing pengunjung.

Selain itu, tempat ini juga ikut mengampanyekan aspek kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan (CHSE) yang merupakan salah satu program pemulihan pariwisata.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini