Demi Bertahan di Tengah Pandemi, British Airways Jual Barang First Class

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 27 November 2020 05:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 406 2316910 demi-bertahan-di-tengah-pandemi-british-airways-jual-barang-first-class-drtKXqgXaJ.jpg British Airways. (Foto: Instagram british_airways)

DEMI menyambung nasib di tengah pandemi Covid-19, British Airways jualan machandise mewah yang dijual di pesawat. Hal ini menyusul kebijakan lockdown untuk kedua kalinya yang dilakukan oleh pemerintah Inggris.

Sebelumnya, Thai Airways, maskapai nasional asal Thailand sempat menghebohkan dunia, lantaran menjual makanan tradisional Thailand demi mendapatkan pemasukkan tambahan. Lalu kini British Airways melakukan langkah serupa.

British Airways pun membuat sebuah pernyataan mengejutkan. Adapun marchandise yang dijual adalah barang-barang yang biasanya diberikan kepada penumpang pesawat kelas satu.

Jenisnya antara lain champagne flute, piring mewah hasil rancangan William Edwards, selimut, sandal, handuk, hingga keranjang roti. Dilansir dari laman Foxnews, Jumat (27/11/2020), benda-benda tersebut rupanya telah melalui proses kurasi yang sangat ketat.

 nriit

“Tujuannya agar konsumen dapat menciptakan kembali pengalaman terbang yang nyaman dan mewah dari rumah mereka masing-masing,” tulis pernyataan British Airways.

Baca Juga: Sebelum Dipanggil ke Kepolisian, Gisel Liburan Bareng Wijin dan Gempi

Tak hanya itu, British Airways juga menjual benda-benda unik tentang sejarah perusahaan mereka, termasuk tabung dan troli pesawat Boeing 747 yang saat ini sudah tidak digunakan lagi.

Menurut sejumlah ahli, strategi yang dilakukan British Airways ini merupakan salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan pemasukkan sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan.

Bukan tanpa alasan, pekan lalu American Airlines mengatakan kepada Fox Business bahwa mereka tidak akan membuka rute penerbangan menuju London dari Charlotte, New York dan Chicago dalam waktu dekat. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya permintaan pelanggan akibat kekhawatiran mereka terhadap pandemi Covid-19.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris John menegaskan bahwa pemerintah Inggris berencana mengakhiri kebijakan lockdown Covid-19 pada 2 Desember mendatang. Namun, pihaknya akan menerapkan sistem pembatasan yang cukup ketat sesuai dengan tingkat infeksi pada setiap daerah maupun kota.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini