Menikmati Lukisan Alam di Sungai Jelai-Bengalon Sangkulirang

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 26 November 2020 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 408 2316386 menikmati-lukisan-alam-di-sungai-jelai-bengalon-sangkulirang-zW8b0cbw84.jpeg Menyusuri Sungai Jelai-Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur (Okezone.com/Dimas AF)

SIANG itu, matahari begitu menyengat. Suasana Kampung Hambur Batu, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur sepi, hanya truk pengangkut kelapa sawit sesekali melintas di jalan. Deru mesinnya memecah kesunyian. Setelahnya hening lagi.

Kampung Hambur Batu bukan permukiman padat. Sejauh mata memandang hanya terlihat beberapa rumah dipisahkan rumput ilalang yang tinggi.

Baca juga: Promosikan Wisata Sangkulirang, Kaltim Bidik Turis Mancanegara

Tiba-tiba, dari kejauhan, seorang pria berpakaian hitam lengan panjang memanggil kami untuk segera berkumpul. Suaranya terdengar nyaring. Kami bergegas berkumpul, mendengar arahannya.

Pria itu Pindi Setiawan, peneliti sekaligus dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia dikenal baik oleh warga Kampung Hambur Batu. Mereka menyapanya "Pak Pendi."

ilustrasi

Sebelum menyusuri Sungai Jelai-Bengalon, tim mendengar arahan (Okezone.com/Dimas)

Jumat 20 November 2020, Okezone bersama rombongan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkesempatan mengunjungi Situs Cagar Budaya Goa Tewet. Goa yang berada di Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat itu menyimpan jejak pra sejarah yang dikonfirmasi sudah berusia 40 ribu tahun.

Kawasan inilah yang tengah digodok Kemenparekraf untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata minat khusus berbasis alam.

Untuk mencapai ke sana, kami harus melewati medan yang cukup menantang. Dimulai dari menyusuri Sungai Jelai-Bengalon berjarak kurang lebih 35 Km.

Baca juga: Sangkulirang, Destinasi Wisata di Kaltim Pas untuk Liburan Masa Corona

Sebelum melepas rombongan, Pindi menjelaskan beberapa hal penting yang harus dihibdari demi menjaga kenyamanan dan memperlancar perjalanan. Termasuk informasi-informasi menarik seputar budaya dan kearifan lokal. Salah satunya tentang sosok 'Nenek' atau buaya yang bermukim di Sungai Jelai-Bengalon.

"Tolong hormati 'nenek' bagaimanapun juga sungai ini adalah rumah mereka. Umurnya bahkan lebih tua dari komodo. Mereka suka berjemur di siang hari, tetapi tidak bisa membedakan manusia dan binatang. Jadi tetap waspada," tegas Pindi.

 ilustrasi

Bersiap menyusuri Sungai Jelai-Bengalon (Okezone.com/Dimas)

Tepat pukul 15.00 WITA, perjalanan kami pun dimulai. Satu per satu rombongan dipersilakan menaiki perahu kayu yang mampu menampung sekira 4-6 orang. Warga lokal menyebutnya dengan istilah Ketinting.

Perahu melesat dengan cepat. Nuansa petualangan langsung menyeruak. Cipratan air Sungai Jelai-Bengalon berwarna kecoklatan, tak terasa mulai membasahi sekujur tubuh. Degup jantung pun semakin berdetak kencang ketika perahu menghantam derasnya aliran sungai.

Lebatnya hutan hujan tropis khas Kalimantan menjadi pemandangan menakjubkan sepanjang perjalanan. Suara satwa liar yang bersahutan di balik rimba terdengar begitu merdu, seolah menyambut kedatangan kami.

Pak Ian yang kala itu menjadi pengemudi perahu kami juga sangat cekatan saat perahu melewati tikungan-tikungan tajam. Sesekali ia menghentikan laju perahu, memberikan waktu kepada kami untuk menikmati lukisan alam yang begitu meneduhkan hati.

Ada perasaan membuncah ketika gugusan tebing-tebing karst mulai mengintip dari balik rindangnya pepohonan. Hari itu, dewi fortuna sepertinya sedang berpihak kepada kami.

Sebelum rintik hujan membasahi Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, dua ekor elang tampak melintas tepat di depan perahu kami. Kami juga melihat seekor burung enggang yang sedang asyik bertengger di atas ranting pohon.

Sayangnya, kami belum cukup beruntung untuk bersilaturahmi dengan 'nenek', sang penghuni asli Sungai Jelai-Belangon. "Kalau air sedang tinggi, mereka memang jarang kelihatan. Apalagi kalau sudah hujan," kata Pak Ian.

Bila wisatawan tertarik melihat 'Nenek' atau buaya di habitat aslinya, Pak Ian menyarankan agar datang pada saat cuaca sedang panas-panasnya. Lebih bagus lagi, ketika air sungai sedikit surut. Biasanya mereka akan berjemur di tepian.

Selain elang, burung enggang, dan buaya, di sepanjang Sungai Jelai-Bengalon, wisatawan juga berkesempatan melihat hewan endemik Kalimantan yakni, orang utan dan bekantan. Kemudian ada kancil, babi hutan, dan beberapa jenis monyet.

 ilustrasi

Setelah kurang lebih dua jam menyusuri sungai, rombongan kami akhirnya tiba di Camp Tewet pada pukul 17.10 WITA. Seorang pria paruh baya menyambut kedatangan kami dengan senyuman hangat di bibirnya.

Usut punya usut, ia adalah sang pemilik 'rumah' yang akrab disapa Nek Tewet. Sembari menunggu makan malam disajikan, Nek Tewet sempat menceritakan pengalamannya ketika berhasil menemukan Liang Lumut yang kini dikenal dengan nama Goa Tewet.

Semuanya ternyata bermula dari kebiasaan warga setempat yang hobi berburu sarang walet. "Saat itu saya sedang mencari sarang burung wallet bersama 5 orang teman. Tapi kita semua berpencar. Dan kebetulan saya menemukan goa ini," kenang Nek Tewet.

Cerita tersebut membuat kami semakin tidak sabaran untuk melihat langsung pesona Goa Tewet dengan hiasan gambar cadas yang menjadi daya tariknya. Namun malam itu, kami harus beristirahat sebelum memulai petualangan yang sesungguhnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini