Luhut: Potensi Indonesia Lebih Bagus dari Thailand, tapi Kita Kalah Jual

Rina Anggraeni, Jurnalis · Jum'at 27 November 2020 11:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 406 2317195 luhut-potensi-indonesia-lebih-bagus-dari-thailand-tapi-kita-kalah-jual-qqDRcdJ4Eo.jpg Menko Marvest Luhut Binsar Panjaitan (Antara)

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan, Indonesia harus dapat menandingi negara kompetitor di kawasan Asia Tenggara dalam membangun pariwisata. Saat ini, Indonesia masih kalah dengan Thailand.

Menurutnya wisata Indonesia masih kurang menjual dibandingkan Thailand. Negeri Gajah Putih saat ini unggul dari kategori wisata alam, petualangan, belanja, MICE, kebudayaan dan kesehatan.

Baca juga: Indonesia Punya Berjuta Potensi Ekowisata, Pemasarannya Bisa Bidik Milenial

Padahal potensi yang dijual Thailand tersebut sangat melimpah di Indonesia, hanya saja pengemasan dan pemasarannya belum maksimal.

"Padahal potensi alam kita masih sangat bagus dibandingkan Thailand. Karena kita masih kalah jual," kata Luhut saat membuka Rakornas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2020 di Nusa Dua, Bali yang disiarkan melalui video virtual, Jumat (27/11/2020).

Kata dia, 5 pembangunan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) sudah semakin intensif dilakukan. Bahkan diproyeksikan Indonesia harus masuk peringkat ketiga puluh pada tahun 2021 untuk travel dan tourism competiviness Index.

"Kita harus bekerja keras," bebernya.

Dia pun mengingatkan arahan Presiden Jokowi tentang percepatan pengembangan yang mana melihat progres menyeluruh dan setiap bulan minta laporan konerja.

"Kita ada penanggung jawab 4 destinasi wisata. Kita harus lebih giat kerja keras," tandasnya.

Baca juga: Indonesia Siapkan Destinasi untuk Terima Lagi Kunjungan Wisatawan Asing 

Sebelumnya, dalam Rakornas tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan, perlu adanya sinergi, kolaborasi antarakementerian dan lembaga serta stakeholders terkait dalam membuka kembali destinasi wisata terutama untuk wisatawan mancanegara.

“Membuka kembali destinasi wisata terlebih lagi untuk perbatasan internasional atau menerima wisawatan mancanegara tidak sesederhana mengatakannya, kompleksitasnya cukup tinggi, begitu juga kalau kita bicara travel bubble,” kata Wishnutama.

“Diperlukan upaya bilateral untuk menghasilkan kesepakatan antardua negara terkait, seperti menerapkan standar protokol kesehatan yang sama,” lanjut mantan pemimpin media ini.

(sal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini