Kembangkan Wisata Mangrove, Pemprov Kaltara Gandeng Perusahaan Jerman

Antara, Jurnalis · Sabtu 28 November 2020 03:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 406 2317569 kembangkan-wisata-mangrove-pemprov-kaltara-gandeng-perusahaan-jerman-ZbieOdmspo.JPG Kawasan wisata hutan mangrove di Tarakan, Kaltara (Foto: Antara)

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Utara (Pemprov Kaltara) menjalin kerjasama dengan Deutsche Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ), perusahaan milik pemerintah Jerman, dan PT Hatfield Indonesia (PTHI) guna mengembangkan wisata hutan mangrove di kawasan Delta Kayan Sembakung (DKS). Hutan mangrove tersebut memiliki luas 842.321,8 hektare.

"Saat ini sedang dilakukan penyusunan rencana strategis dan revlitalisasi kawasan DKS yang bertujuan mewujudkan kawasan DKS sebagai agromina berbasis ekoregion yang berdaya saing, inklusif dan berkelanjutan," kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda-Litbang) Risdianto di Tanjung Selor, Jumat, 27 November 2020.

DKS merupakan kawasan strategis Provinsi Kaltara yang menbentang di Kabupaten Bulungan, Tana Tidung, Nunukan dan Kota Tarakan serta sedikit bagian di Malinau.

Baca juga: Luhut: Komodo Satu-satunya di Dunia, Harus Kita 'Jual'

Kerja sama ini meliputi penyusunan zonasi kawasan berbasis potensi dan daya dukung lingkungan, mewujudkan tata kelola dan sistem akses sumberdaya yang inklusif dan berkeadilan bagi masyarakat lokal.

Selanjutnya, mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis pedesaan yang memiliki keunggulan sistem produksi perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan wisata atau jasa lingkungan.

"DKS memiliki potensi sumber daya alam luar biasa, utamanya pada wilayah perairan dan kawasan mangrove. Selain ekonomi, potensi besar yang menjadi perhatian dunia adalah potensi keanekaragaman hayati atau biodiversity luar biasa di DK," tuturnya.

Kaltara pada Agustus 2016 lalu masuk menjadi anggota baru Governor’s Climate and Forests (GCF) Task Force atau Satuan Tugas Gubernur untuk Iklim dan Hutan. GIZ sendiri telah menjajaki kerja sama dengan Pemprov Kaltara sejak tahun 2018.

Kaltara berkomitmen dalam rangka pelestarian lingkungan dan mengatasi pemanasan global dan mereduksi gejala perubahan iklim. Menurut sejarahnya, kawasan DKS telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi utama di Kalimantan sejak sebelum masa kemerdekaan.

Berlanjut pada 1950, yakni masa pemberian izin konsesi hutan pada perusahaan logging sekala kecil, kemudian beralih ke skala logging yang lebih besar dan kegiatan ekstraktif seperti tambang pada 1970 hingga sekarang.

Sementara itu, pembukaan lahan menjadi tambak terjadi sejak 1991 tercatat 15.870 hektare, proses ini terus berjalan hingga menjadi 10 kalinya pada 2016 (149.958 hektare).

Dalam lingkup regional, sektor perikanan tambak di Provinsi Kaltara memberikan kontribusi yang paling tinggi, di mana beberapa produk yang dihasilkan, antara lain udang windu, kepiting, ikan, bandeng dan mujair.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini