1.000 Pelaku Pariwisata di Bali Harus Tersertifikasi CHSE Sebelum 2021

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 28 November 2020 21:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 28 406 2317980 1-000-pelaku-pariwisata-di-bali-harus-tersertifikasi-chse-sebelum-2021-a0tZLpDFV6.jpeg Menparekraf Wishnutama Kusubandio melihat produk UMKM (Kemenparekraf)

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menargetkan 1.000 pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali tersertifikasi protokol kesehatan berbasis CHSE atau Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability pada tahun ini atau sebelum 2021.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, dalam keterangannya, Sabtu (28/11/2020) mengatakan, prioritas kesehatan menjadi hal yang paling utama saat ini, maka pelaksanaan sertifikasi CHSE ini menjadi sangat penting untuk sektor pariwisata khususnya bagi pelaku usaha hotel dan restoran untuk memulihkan kepercayaan wisatawan.

Baca juga:  Angela Tanoe: Kami Terus Mendorong Stimulus Usaha Parekraf pada 2021

“Sampai saat ini, sebanyak 666 pelaku usaha di Bali sudah selesai disertifikasi secara gratis. Terdiri dari 313 hotel dan 353 restoran, dari 1.000 target pendaftar,” ujar Wishnutama seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone.

Ia menjelaskan sertifikasi CHSE ini bertujuan untuk memberikan jaminan bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kesehatan.

"Hal ini penting dilakukan untuk memulihkan kepercayaan wisatawan dan menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan saat berkunjung ke destinasi wisata yang sudah melakukan sertifikasi protokol kesehatan,” kata Wishnutama.

Untuk lebih lanjut, para pemilik atau pengelola usaha pariwisata dan destinasi pariwisata dari seluruh Indonesia dapat mendaftar melalui website resmi chse.kemenparekraf.go.id.

Baca juga: Indonesia Masih Dipercaya International sebagai Destinasi Wisata Aman

Salah satu upaya mendorong industri parekraf untuk melakukan dan memanfaatkan sertifikasi secara gratis, Kemenparekraf bersama dengan Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) menggelar sosialisasi panduan pelaksanaan kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan dalam penyelenggaraan kegiatan.

Sosialisasi ini salah satunya dilaksanakan di Graha Wisnu Kencana Cultural Park (GWK), di Badung, Bali pada Jumat, 27 November 2020. Dengan tema “CHSE Experience", yang merupakan sosialisasi panduan protokol kesehatan yang diperuntukkan bagi para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan (events) seperti para promotor, pekerja, pengunjung, pengisi acara, vendor, tenant, pengelola venue, asosiasi, dan pemerintah daerah.

Konsep dari kegiatan ini adalah walkthrough secara menyeluruh dimana proses sosialisasi dimulai sejak pengunjung melaksanakan registrasi, dilanjutkan pada setiap titik perjalanan yang dilewati oleh pengunjung yaitu ketika memasuki area acara hingga para pengunjung selesai menyaksikan acara.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf, Rizki Handayani, dalam paparannya menjelaskan bahwa CHSE Experience merupakan salah satu bentuk dukungan dari pemerintah bagi para pelaku industri event di Indonesia terkait dengan panduan pelaksanaan kegiatan event yang sesuai dengan adaptasi kebiasaan baru.

Pihaknya mendorong para pelaku usaha yang telah menerapkan protokol kesehatan, juga melakukan sertifikasi CHSE, karena hal ini yang dapat memberikan rasa aman dan percaya tiap wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Sementara Produser Seni Pertunjukan dan Aktris, Happy Salma, mengatakan dalam menerapkan protokol kesehatan, ia mengaku belajar banyak dari masyarakat Bali, karena menurutnya masyarakat Bali memiliki kesadaran yang luar biasa secara psikologis. Masyarakat dan pemerintah benar-benar bersatu untuk membuat wisatawan merasa aman dan tenang.

“Spirit ini yang saya gunakan ketika membuat kegiatan seni pertunjukkan, saya harus mampu membangun psikologis yang aman dulu dan secara spiritual orang Bali itu yakin dan tidak putus asa dalam menghadapi pandemi. Serta, masyarakat Bali memiliki nurani yang menyadari mereka bahwa COVID-19 itu nyata. Sehingga, masyarakat Bali sadar untuk menjaga kesehatannya,” kata Happy Salma.

Ketua Umum APMI, Anas Syahrul Alimi, mengucapkan terima kasih atas dorongan, bantuan, serta konsistensi yang dilakukan oleh Kemenparekraf, dalam membantu menghidupkan kembali industri ekonomi kreatif yang sempat menurun akibat pandemi COVID-19.

“Saya harap kolaborasi ini dapat terus berjalan, karena dalam situasi pandemi yang diperlukan adalah kolaborasi bukan kompetisi,” ujar Anas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini