Menyingkap Gambar Cadas Berusia 40 Ribu Tahun di Pedalaman Kalimantan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 29 November 2020 08:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 28 408 2318037 menyingkap-gambar-cadas-berusia-40-ribu-tahun-di-pedalaman-kalimantan-y0mqxAEnjh.JPG Gambar cadas diduga berusia 40 ribu tahun di pedalaman Kalimantan (Foto: Okezone.com/Dimas Andhika Fikri)

KAWASAN Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kutai Timur, Kalimantan Timur, menyimpan potensi wisata yang sangat luar biasa. Tak sekadar menyuguhkan panorama alam dengan gugusan gunung karst mencakar langit, dan rimbunan hutan hujan tropis yang masih asri.

Sangkulirang-Mangkalihat juga menjadi saksi biksu jejak-jejak pra sejarah yang diklaim telah berusia 40 ribu tahun. Semuanya tersebar di hampir seluruh kawasan. Termasuk di Goa Tewet yang berada di Desa Tepian Langsat.

Goa yang ditemukan sejak tahun 1965 menyimpan ratusan cap telapak tangan dan imaji-imaji menarik lainnya. Peninggalan bersejarah itu kini dikenal dengan istilah gambar cadas (lukisan goa, rock art).

Pindi Setiawan, peneliti sekaligus ahli komunikasi visual dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengatakan, gambar cadas di Kalimantan Timur semakin hari semakin menunjukkan peran penting tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dunia.

Baca juga: Menikmati Lukisan Alam di Sungai Jelai-Bengalon Sangkulirang

Gambar Cadas

Untuk lingkup kecil misalnya, gambar cadas di Sangkulirang-Mangkulihat membuktikan bahwa sejak dulu Kalimantan Timur, memiliki budaya pra sajarah yang masif dan penting pada masanya.

"Ini akan menjadi cerita yang bagus untuk jaman sekarang," tegas Pindi Setiawan kepada Okezone, di Camp Tewet, Desa Tepian Langsat, Kalimantan Timur, pekan lalu.

Pindi kemudian menceritakan sepenggal kisah tentang perjalanannya bersama dua peneliti asal Prancis, Jean dan Michael Chazine. Mereka menemukan gambar cadas pertama pada tahun 1994 di Goa Mardua, Desa Pengadan, Sangkulirang.

Berawal dari penemuan tersebut, tahun-tahun berikutnya, Pindi dan rekannya terus melakukan penelusuran hingga menemukan 4 goa bergambar cadas pada 1995. Salah satu di antaranya adalah Goa Tewet yang kini mulai dipersiapkan untuk kegiatan wisata minat khusus oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Gambar Cadas

"Kami terus berjalan bersama hingga si tahun 2006 sudah menemukan sekitar 20a-an situs di Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Dan sekarang jumlahnya sudah lebih dari 50 situs bergambar cadas," jelas Pindi.

Keistimewaan gambar cadas

Perjuangan Pindi menelusuri jejak-jejak pra sejarah di Kalimantan Timur tidak sia-sia. Gambar cadas yang ditemukan di kawasan ini merupakan salah satu gambar terbaik di dunia. Bahkan, mungkin hanya dapat ditemukan di Indonesia.

Bentuk-bentuk yang digambarkan sangat beragam. Mulai dari mamalia besar seperti rusa, banteng, beruang, babi hutan, dan tapir. Kemudian ada kadal atau gecko, kura-kura, trenggiling raksasa, serta dedaunan.

"Yang menarik adalah tapir misalnya. Binatang itu diketahui telah punah 6 ribu tahun yang lalu di daratan Kalimantan. Trenggiling raksasa itu juga sudah punah di tanah Kalimantan 30 ribu lalu," kata Pindi.

Selain mamalia, juga digambarkan hal-hal menarik lainnya seperti alat buru berupa pelontar tombak (spear throw). Pindi mengatakan, pelontar tembak sebetulnya ini hanya bisa digunakan di medan berupa savana, bukan pada medan tropis yang penuh semak-semak seperti di Kalimantan.

"Kita tahu Kalimantan bermedan hutan tropis. Ternyata hutan tropis di Kalimantan itu, baru menjadi hutan tropis kira-kira 8 ribu tahun lalu. Artinya gambar cadas ini dibuat oleh pra Astronesia, ini orang-orang yang telah hadir di Pulau Kalimantan jauh sebelum Astronesian datang," kata Pindi.

Keistimewaan lain dari gambar cadas Sangkulirang juga terletak pada proses pembuatannya. Warna ungu pada gambar tersebut tidak dibua satu-satu, tapi dikomposisikan.

Baca juga: Menyusuri Goa Tewet, Keajaiban Nusantara yang Tersembunyi di Tanah Borneo

Ada juga yang menggambarkan seperti tarian dan kemudian disejajarkan. Ini hal yang sangat jarang ditemukan di dunia. Meski gambar cadas atau cap tangan yang dikomposisikan ini beberapa ditemukan di Maros, Sulawesi Selatan.

"Di Sangkulirang sangat jelas, mereka sangat ingin mengkomposisikan khususnya pada warna ungu. Ada yang dihubungankan dengan garis-garis, kadang cap tangan itu diisi oleh sosok shaman dan juga binatang. Cap tangan seperti ini saya sebut plural in one, jamak tapi tunggal, ada dwi tunggal hingga tri tunggal," paparnya.

Peneliti, Pindi Setiawan

Mengidentifikasi usia gambar cadas

Untuk memastikan keabsahan usia dari gambar-gambar cadas di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Pindi mengaku sempat melakukan penelitian dating dengan rekan-rekannya. Hasilnya pun cukup mencengangkan.

Dari penelitan tersebut, diketahui bahwa gambar-gambar cadas itu terbagi ke dalam dua era/masa. Ini terlihat dari corak dan warnanya. Warna-warna tersebut diidentifikasi sebagai pigmen.

Di Sangkulirang ada 3 macam pigmen yang ditemukan. Antara lain, pigmen merah berasal dari era 40-20 ribu tahun, pigmen ungu dari era 20-9 ribu tahun, dan pigmen hitam yang sampai saat ini masih ditelusuri usianya.

Bila dikarakterisasi secara kimia, baik warna merah, hitam maupun ungu, Pindi mengatakan semuanya merujuk pada hematit. Yang membedakan, warna merah partikelnya lebih kecil dibandingkan warna ungu, sehingga warna yang sampai ke mata terpantulkannya berbeda. Satu berwarna merah, satu lagi sampai ke mata warna ungu. Jadi partikel ungu lebih besar.

"Sedangkan hitam itu mendekati karakterisasi ungu. Tapi kita belum tahu apakah ini berasal dari era 40 ribu-an atau 20 ribu-an. Namun bisa diketahui bahwa pada saat itu Kalimantan, Sumatra, Jawa masih bersatu dengan Asia, berarti itu zaman es," jelas Pindi.

Dari penelitian data ini, lanjut Pindi, diketahui bahwa pada masa prasejarah sudah ditemukan unsur-unsur 'fashion' atau kostum. Ada banyak gambar sosok-sosok seperti memakai topeng.

Hal tersebut menunjukkan fenomena yang mirip seperti di Eropa, bahwa gambar-gambar cadas ini tidak hanya dimulai utara, tetapi juga di selatan di Asia Tenggara khususnya Kalimantan.

Gambar Cadas

Secara keseluruhan, penemuan dan penelitian yang dilakukan Pindi Setiawan dan kawan-kawan, telah menyingkap bahwa Indonesia memiliki gambar figuratif di dunia. Hal ini tentunya sangat penting untuk mengubah sejarah dunia, sejarah peradaban manusia, dan sejarah kreativitas manusia.

"Bagi Indonesia sendiri, kita bisa berperan dalam membentuk dunia masa kini, penting bagi kebanggaan bangsa, penting bagi jati diri kita, dan bagaimana alam Indonesia ini mampu menghasilkan manusia-manusia yang unggul. Tentunya contoh dari sejarah ini bisa kita angkat menjadi dasar-dasar bagaimana bangsa ini bisa bangga dengan tinggalan-tinggalan budayanya," tutup Pindi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini