Miris, Kawasan Wisata Pantai Bintan Tercemar Limbah Oli

Antara, Jurnalis · Senin 30 November 2020 08:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 30 406 2318512 miris-kawasan-wisata-pantai-bintan-tercemar-limbah-oli-jBhp7rhoEs.JPG Pantai Bintan tercemar limbah oli (Foto: Antara)

LIMBAH minyak berwarna hitam diduga cairan oli mencemari objek wisata pantai di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Salah satu yang terdampak ialah kawasan Madu Tiga Beach and Resort.

Pihak pengelola wisata, Amran, mengatakan, limbah tersebut mulai mengotori bibir pantai sejak Jumat, 27 November 2020 malam.

Pihaknya sempat menutup sementara kawasan pantai menggunakan tali pembatas dan pemberitahuan larangan pengunjung bermain atau mandi di pantai karena limbah minyak berwarna pekat tersebut.

"Tutup sejak Sabtu pagi. Tapi sore harinya kembali dibuka, karena sudah dibersihkan oleh tim kami," kata Amran.

Baca juga: Berpetualang Mewah ke Pulau Bintan, Enaknya Kemana Ya?

Kawasan persisir Bintan, setiap tahunnya jadi langganan pencemaran limbah minyak hitam, terutama saat musim angin utara.

Limbah tersebut diduga bukan berasal dari perairan Indonesia, melainkan perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura.

"Kami khawatir, keberadaan limbah ini membuat pengunjung enggan bermain di pantai, karena mereka tidak bisa mandi," tutur dia.

Salah seorang wisatawan lokal, Ogi mengaku terkena cairan limbah minyak hitam saat berenang di pantai tersebut pada Minggu sore.

"Usai berenang, pada bagian telapak kaki ada bercak hitam, setelah dicek ternyata cairan minyak hitam," kata Ogi.

Limbah minyak hitam tersebut memang dapat mengganggu sektor pariwisata di Bintan, yang notabane mengandalkan wisata alam bahari.

Tak hanya itu, limbah tersebut juga dapat merugikan warga Bintan, yang mayoritas nelayan karena laut tercemar membuat mereka kesulitan mendapatkan ikan.

Seorang nelayan di Berakit, Ahmad berharap pemerintah terkait mulai menyiapkan langkah antisipasi buat mencegah pencemaran limbah minyak di daerah pesisir Bintan.

"Jangan seperti tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah seakan tidak ada solusi untuk menangani limbah ini, sehingga kami (nelayan) yang sangat dirugikan setiap tahunnya," kata Ahmad.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini