Kisah Pindi Setiawan, Penemu Gambar Cadas Berusia 40 Ribu Tahun di Pedalaman Kalimantan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 30 November 2020 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 30 408 2318577 kisah-pindi-setiawan-penemu-gambar-cadas-berusia-40-ribu-tahun-di-pedalaman-kalimantan-PDAHjaUYRY.JPG Peneliti ITB, Pindi Setiawan (Foto: Okezone.com/Dimas Andhika Fikri)

KAWASAN Karst Sangkulirang-Mangkalihat tengah dipersiapkan menjadi destinasi wisata minat khusus oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim). Rencana pengembangannya pun akan segera digenjot dalam waktu dekat ini.

Keseriusan Pemprov Kaltim dalam mendorong pengembangan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat ini tidak terlepas dari dukungan sejumlah pihak. Termasuk sosok di balik penemu gambar cadas yang kini menjadi daya tarik Goa Tewet, dan situs-situs lainnya di Sangkulirang.

Adalah Pindi Setiawan, peneliti sekaligus ahli komunikasi visual dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini memainkan peran yang sangat penting dalam perjalanan Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat menuju destinasi wisata minat khusus berbasis alam.

Baca juga: Menyingkap Gambar Cadas Berusia 40 Ribu Tahun di Pedalaman Kalimantan

Tak sekadar membantu warga lokal mengidentifikasi dan memetakan peninggalan-peninggalan pra sejarah di Sangkulirang, Pindi layak mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya karena telah melindungi kawasan ini dari berbagai kepentingan. Semuanya bermula dari penemuan Goa Tewet pada tahun 1994.

Kala itu, Pindi sebetulnya belum memiliki rencana apapun. Ia mengaku masih terpukau melihat ratusan gambar cadas yang ia temukan di Goa Tewet. Ditambah lagi kondisi alam Sangkulirang yang sangat eksotis.

Pindi Setiawan

"Waktu itu saya tidak bercita-cita jauh, yang saya inginkan adalah menemukan rangkaian situs lain. Tahun 1995 akhirnya menemukan 4 lagi," ujar Pindi kepada Okezone, di Camp Tewet, Desa Tepian Langsat, Kalimantan Timur, beberapa waktu lalu.

Penemuan ini rupanya menjadi titik balik dari perjalanannya di Sangkulirang. Di tahun yang sama, Pindi berencana 'membagikan' penemuannya itu kepada politisi-politisi muda yang menurutnya berpotensi menjadi penguasa daerah.

Ia yakin betul penemuan gambar cadas di Goa Tewet dan keempat situs lainnya merupakan bukti bahwa ada satu 'kebudayaan' yang hilang dari sejarah peradaban manusia di dunia.

Gambar Cadas

"Sepulang dari Sangkulirang, saya keliling Samarinda, mengunjungi politikus-politikus muda. Tapi yang saya dapatkan ada dua hal. Pertama, ada yang bertanya apakah kawasan ini bagus buat semen, yang satu lagi mengatakan siap untuk melindunginya," ungkap Pindi.

Dari hasil pertemuan itu, Pindi tersadar bahwa ada ancaman ekstraktif yang siap menghadang. Ia pun mulai berhati-hati dalam menyampaikan informasi seputar kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat kepada khalayak publik, khususnya situs-situs yang menyimpan peninggalan pra sejarah.

Bila akses informasi dibuka lebar, kawasan ini dikhawatirkan hancur luluh lantak oleh kegiatan ekstrasi sebelum tindakan-tindakan konservasi dilakukan. Pindi akhirnya terpaksa menjalankan misi 'menyembunyikan' kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat.

"Saat itu saya hanya seorang peneliti, peneliti yang masih ecek-ecek, duitnya aja enggak punya tapi mau melawan big deal of money. Yang bisa saya lakukan bukan melawan uangnya, saya hanya punya strategi-strategi kreatif, bagaimana bisa menahan selama mungkin kemungkinan-kemungkinan ekstraktif yang bisa terjadi di kawasan Karst ini," jelas Pindi.

Mengubah nama goa di kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Pada tahun 1996, Pindi mulai mencari cara menyembunyikan situs-situs di Sangkulirang agar tidak terjamah oleh oknum tak bertanggung jawab. Salah satunya dengan mengubah nama-nama situs atau goa yang ia temukan.

Kebetulan, pada saat itu, Pindi lagi-lagi menemukan goa dengan tampilan gambar cadas yang sangat luar biasa. Goa tersebut kini dikenal dengan nama Goa Jeriji Saleh.

Gambar cadas di Goa Jeriji Saleh diklaim telah berusia 40 ribu tahun. Ketika itu namanya masih Liang Jeriji.

"Tapi kalau pakai nama itu orang-orang akan tau lokasinya di Gunung Gergaji, jadi kita ganti jadi Goa Saleh. Goa ini menjadi goa yang pertama yang diubah namanya dalam laporan saya setelah bertemu dengan para politikus. Lalu diikuti goa-goa lain," papar Pindi.

Gambar Cadas

Pengubahan nama pada goa tersebut, lanjut Pindi, semata-mata bukan untuk menyembunyikan potensi besar Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, tetapi menahan informasi agar orang-orang tidak berbondong datang ke kawasan tersebut. Dengan demikian, ia dapat menjalankan program konservasi tanpa diganggu aktivitas dan kepentingan lain.

Insiden vandalisme berujung dibukanya kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai destinasi wisata minat khusus

Selama kurang lebih 18 tahun 'menyembunyikan' kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat dari dunia luar, Pindi Setiawan akhirnya membuka akses informasi kawasan ini secara terbuka. Hal tersebut dipicu oleh sebuah insiden di tahun 2014.

Ia mendapat kabar dari warga Desa Pengadan, Sangkulirang bahwa ada goa bergambar cadas yang menjadi korban vandalisme. Padahal, goa ini merupakan salah satu goa yang cukup sulit dijangkau.

"Yang ditimpa dengan pilox itu gambar cadas di Goa Apil Banteng, dan dilakukan oleh orang lokal. Saya tanya alasannya ternyata karena tidak di bayar. Jadi ada WNA melihat gambar cadas Goa Tewet di internet, lalu dia ingin pergi ke sana, tapi karena saya sembunyikan informasinya, dia salah masuk goa," kata Pindi.

"Karena beda goa, warga yang mengantar tidak jadi dibayar. Akhrinya dia marah dan menimpa gambar cadas dengan pilox berwarna merah. Berkaca dari pengalaman ini, artinya menyembunyikan saja belum bisa mengonservasi," imbuhnya.

Pasca-kejadian itu, Pindi sepakat untuk membuka lebar informasi seputar Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, termasuk Goa Tewet. Semuanya dilakukan secara resmi dan penuh kehatian-hatian.

Gambar Cadas

Langkah awal yang dia lakukan adalah melakukan deliniasi, tata ruang, dan batas-batas kawasan untuk dijadikan lahan konservasi. Setelah dirasa aman dari kepentingan-kepentingan lain, strategi selanjutnya adalah menggelar Familiarization Trip.

Kegiatan ini mendapat respons positif dan dukungan penuh dari Pemprov Kaltim, Kemenparekraf, BPCB Kaltim, dan pihak terkait lainnya.

"Tujuannya adalah untuk menyadarkan teman-teman di sini bahwa pariwisata tidak bisa ditahan. Yang bisa dilakukan adalah membangun kompetensinya menjadi tinggi. Sehingga bisa menahan perilaku seenaknya dari wisatawan.

"Dan karena situs-situs di Sangkulirang itu kelas dunia, maka pengelolaannya harus kelas dunia juga. Yang jadi masalah pengelolanya belum kelas dunia, baru setara kabupaten. Itu tantangan yang paling berat," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini