Pastikan Semua Pendaki Sudah Turun, Gunung Semeru Ditutup untuk Umum

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 01 Desember 2020 14:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 01 406 2319522 pastikan-semua-pendaki-sudah-turun-gunung-semeru-ditutup-untuk-umum-0cgNcL16FY.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

PLT Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Agus Budi Santosa kembali menegaskan bahwa per hari ini, Selasa (1/12/2020), seluruh jalur pendakian di Gunung Semeru resmi ditutup total. Hal tersebut sesuai dengan surat edaran tentang penutupan sementara Gunung Semeru yang ditandangani Budi pada 30 November lalu.

"Tanggal 29 kemarin masih ada pendaki yang sempat naik, tapi sudah turun semua 6 orang. Dan per hari ini, dapat saya pastikan tidak ada lagi pendaki di kawasan Gunung Semeru. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada pendaki ilegal," ujar Budi saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (1/12/2020).

Lebih lanjut Budi menjelaskan, sejauh ini pihaknya masih mengikuti rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMVG) yang dikeluarkan pada tahun 2018 lalu, yakni memastikan warga sekitar untuk tidak mendekati puncak Semeru dengan radius 1 km (jarak aman).

Baca Juga: Pramugari Nekat Jual Celana Dalam ke Penumpang dan Sebar Foto Seksi

Bahkan sejak dua tahun lalu, BB TNBTS telah memberikan batas aman berjarak 2.5 km, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun demikian, pihaknya tetap melakukan penutupan jalur pendakian secara total untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Untuk pendakian itu relatif aman. Tapi karena mengutamakan keselamatan pendaki, memang sebaiknya ditutup. Muntahan lava dan hujan abu vulkanik sejatinya sangat jauh dari jalur pendakian. Tetapi arahnya ke ketiga sungai besar di kawasan Semeru," kata Budi.

Untuk status Semeru sendiri, Budi mengimbau untuk menanyakan langsung ke pihak PVMBG, karena merekalah yang berwenang. Budi sempat menyayangkan pemberitaan sejumlah media yang menyebut fenomena erupsi di Semeru dengan istilah 'meletus'.

"Kalau secara ilmiah tidak ada istilah meletus, tetapi erupsi. Dan berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, untuk Januari, Februari, dan Maret Semeru memang akan kita tutup selama tiga bulan. Ini bukan untuk alasa vulkanologi, tapi climatologi. Jadi di bulan itu ada hujan badai yang bisa membahayakan pendaki," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini