Cerita Gadis Pelukis Topi Kece di Masa Pandemi

Taufik Budi, Jurnalis · Kamis 03 Desember 2020 09:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 406 2320680 cerita-gadis-pelukis-topi-kece-di-masa-pandemi-JJ5UX0DLWB.JPG Perajin topi kece di Semarang (Foto: Okezone.com/Taufik Budi)

TANGAN gadis berkacamata itu terlihat lincah menggoreskan kuas ke permukaan topi kain berwarna krem. Cat warna merah perlahan membentuk pola kelopak bunga lengkap dengan daun warna hijau menjadi lukisan indah.

Dia seolah tak terganggu dengan hingar bingar suara musik dangdut di gedung penyelenggaraan Bimtek Ekonomi Kreatif yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang. Hanya matanya yang sesekali melirik orang-orang yang datang penasaran dengan topi lukis buatannya.

Alifati Hanifah, demikian nama gadis yang sibuk melukis bunga-bunga dan beragam motif di topi. Kebanyakan yang dilukis adalah topi rimba, seperti yang biasa dikenakan oleh prajurit TNI maupun Brimob. Bedanya, topi yang dilukis masih kain polos tanpa motif loreng.

Ya, berbagai upaya memang dilakukan setiap daerah untuk membangkitkan kembali pariwisata yang sempat lesu akibat hantaman pandemi Covid-19. Salah satunya dengan menciptakan inovasi kerajinan tangan yang diharapkan dapat menjadi magnet bagi wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut.

“Saya mulai bikin-bikin begini (topi lukis) mulai akhir 2017 atau tahun 2018 lah,” kata perempuan yang akrab disapa Alip itu mengawali ceritanya kepada Okezone.

“Awalnya dulu bikin lukisan pada guling, bantal. Dulu kan bikin untuk teman kuliah, teman-teman ulang tahun. Ya gitulah,” imbuhnya.

Baca juga: Islandia Buka Pintu bagi Wisatawan yang Sembuh dari Covid-19

Dalam perjalanannya, lulusan S1 Komunikasi Undip itu memutuskan beralih media lukis pada topi, dompet, dan tas. Barang-barang itu lebih sering dipakai, sehingga nilai ekonomisnya meningkat di pasaran.

“Ya, kita bikin tas-tas kecil juga, termasuk pouch. Lebih ke fesyen kita buatnya. Jadi dengan dilukis custom ini akan lebih menarik, kece,” singkat dia.

Dirinya mengaku masih bekerja sendiri untuk melukis topi maupun perlengkapan fesyen lainnya. Selain jumlahnya masih terbatas, proses pengerjaan juga relatif mudah. Hanya pada proses pembuatan topi dan tas yang dibantu oleh beberapa penjahit di workshop kawasan Banyumanik Semarang.

“Dan butuh orang lain lagi itu untuk pasca-produksi, misalnya foto-foto dan modelnya. Kan kita pasarkan juga lewat online, jadi butuh foto dan model yang bagus,” ujarnya.

Perajin Topi Kece

Topi lukis buatan Alip diklaim tak mudah luntur bila terkena air, sebab menggunakan cat khusus. Bahkan masih bisa bertahan ketika dicuci menggunakan tangan maupun mesin. Warnanya juga tak gampang pudar ketika sering dipakai outdoor.

“Pakai cat akrilik, jadi kalau dicuci masih aman. Asal enggak digosok-gosok untuk menghilangkan catnya. Kalau dikucek tangan biasa aja, masih bisa tahan. Masih aman lah,” terangnya.

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan satu lukisan pada topi maupun perlengkapan fesyen lainnya. Harga yang ditawarkan juga masih rasional, dan dipastikan terjangkau oleh kantong kaum milenial.

“Memang kita kan sasarannya milenial, jadi harga ya menyesuaikan. Untuk topi seperti ini mulai Rp85 ribu sampai Rp125 ribu. Tergantung kerumitan motif lukisan juga,” sebutnya.

“Kalau untuk lukisan gambar yang simpel seperti ini paling 30 menit, abis itu tinggal nunggu kering catnya. Tapi kalau yang rumit seperti bikin bunga-bunga itu bisa sampai 3 jam,” cetus gadis berkerudung itu.

Selama masa pandemi Covid-19, Alip mengaku harus mengurangi produksi karena lesunya ekonomi. Untuk itu, dia mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi Disbudpar Kota Semarang karena menggaet anak-anak muda dalam pengembangan ekonomi kreatif.

“Bagus kegiatan seperti ini, kita bisa pameran sekaligus audiens yang diundang juga sesuai dengan pasar kita. Biasanya kan menyasar untuk kalangan dewasa dan ibu-ibu, tapi ini sesuai dengan usia-usia kita, kalangan milenial,” katanya.

“Kita biasanya pameran dari temen-temen aja. Sistemnya sewa booth atau sharing penjualan. Tap kalau yang difasilitasi pemerintah seperti ini kita free sama sekali. Gratis. Dulu pernah ikut Festival Kota Lama juga gratis. Cuma yang tahun kemarin (2019) enggak ada untuk kita,” ucap Alip.

Sementara itu Kepala Disbudpar Kota Semarang, Indriyasari mengatakan, kegiatan yang digelar itu menampilkan hasil karya dari para pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi enam subsektor yakni film, desain komunikasi visual (DKV) , kriya, animasi, aplikasi, dan musik ditampilkan dalam satu event.

“Acara ini dimeriahkan oleh 10 kreator kriya ternama di Semarang, lebih dari 10 seniman visual dan lukis, launching figur icon ambassador tourism semarang, penambahan fitur destinasi event dan lokal brand di aplikasi Lunpia, launching film pendek dan video klip karya kolaborasi sektor musik dan film,” kata Indriyasari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini