Share

Legenda Gunung Tondoyan, Asal Muasal Tebing Karst Cantik di Sangkulirang

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 04 Desember 2020 22:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 04 408 2321657 legenda-gunung-tondoyan-asal-muasal-tebing-karst-cantik-di-sangkulirang-7mEdZJ9P3o.JPG Kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kutai Timur (Foto: Okezone.com/Dimas Andhika Fikri)

KAWASAN karst Sangkulirang-Mangkalihat memang layak dijadikan primadona baru pariwisata Kalimantan Timur. Tak hanya menyuguhkan pemandangan alam yang eksotis, kawasan ini juga menyimpan potensi budaya yang sangat luar biasa.

Salah satunya legenda Gunung Tondoyan. Beberapa waktu lalu, Okezone berkesempatan mendengarkan langsung legenda tersebut dari salah seorang Juru Pelihara Sangkulirang bernama Rusdi.

Rusdi mengatakan, legenda Gunung Tondoyan menceritakan tentang kisah lima kakak beradik yaitu, Ayus (anak paling tua), Songo, Setu, Sentang, dan adik perempuannya, Silu.

Sehari-hari Ayus dan ketiga saudara laki-lakinya bekerja di ladang dan menangkap ikan di sungai. Sementara Silu tinggal di rumah untuk menyiapkan makanan.

Mereka hidup bahagia meski terkadang Ayus dan ketiga adiknya pulang dengan tangan kosong. Hal itu tidak menjadi masalah yang berarti, karena ternyata Silu memiliki kesaktian.

Baca juga: Menikmati Lukisan Alam di Sungai Jelai-Bengalon Sangkulirang

Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Ia mampu memasak makanan saat berada dalam kondisi terdesak menggunakan kéncéng (dandang) ajaib. Sampai pada suatu hari malapetaka menghampiri mereka. Kesaktian Silu akhirnya diketahui oleh kakaknya.

Hal ini bermula ketika Silu meminta izin kepada Ayus untuk pergi ke sungai. Sebelum meninggalkan rumah, ia berpesan kepada Ayus agar tidak membuka dandang nasi yang sedang dimasaknya. Ayus pun setuju.

Namun karena pada saat itu Ayus kelaparan, ia terpaksa melanggar janjinya dan membuka dandang nasi milik Silu. Betapa terkejutnya Ayus ketika melihat dandang itu berisikan setangkai padi yang masih hijau, dan sebagian lagi sudah menjadi nasi.

Ketika Silu pulang, ia melihat tangkai padi itu masih ada di dalam dandang. Silu langsung menyadari bahwa sang kakak telah melanggar janjinya. Ia merasa kecewa dan memutuskan untuk pergi menuju laut.

"Kalau menurut cerita orang-orang dulu, Silu marah karena ketika dandangnya dibuka, maka kesaktiannya berkurang. Ia pergi membawa tampi (nampan) dan membawa seekor ayam jago," kata Rusdi.

Ayus, Songo, Setu, dan Sentang tidak tinggal diam. Mereka menghalangi jalan Silu dengan melemparkan batu dan pohon-pohon besar di salah satu tepian Sungai Sange yang kini menjadi riam Sange. Namun hasilnya nihil. Silu tetap berhasil menghilir.

Begitu pula saat mereka mencoba menghadangnya di Sungai Jele yang berada di kaki Gunung Gergaji. Lemparan batu Ayus dan adik-adiknya itu kemudian dikenal dengan nama Ilas Kedangau (Kedanum).

"Dalam bahasa Dayak, Ilas itu artinya tebing dan kedanum adalah sungai. Jadi tebing yang mengarah ke sungai," kata Rusdi.

Rusdi melanjutkan, Ayus dan adik-adiknya terus melempar batu hingga sampai di Sungai Bengalon, Gunung Batu Aji. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Ilas Batu Putih. Namun sayang, mereka lagi-lagi tidak berhasil menghalangi kepergian Silu.

Usut punya usut, itu semua berkat ayam jago yang dibawa Silu. "Ayam jago itu selalu berkokok saat Silu melewati bendungan yang berasal dari lemparan batu kakak-kakaknya. Dan entah bagaimana dia selalu lolos," ujar Rusdi.

Sampai pada akhirnya Silu tiba di laut Sangkulirang dan dikabarkan menikah dengan penguasa laut. Legenda Gunung Tondoyan ini pun sekarang menjadi salah satu daya tarik kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Wisatawan yang berkunjung ke Sangkulirang dapat melihat kemegahan tebing-tebing karst yang dipercaya berasal dari legenda tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini