Okupansi Hotel di Yogyakarta pada Libur Akhir Tahun Diprediksi Tembus 90 Persen

Antara, Jurnalis · Senin 07 Desember 2020 16:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 07 406 2323033 okupansi-hotel-di-yogyakarta-pada-libur-akhir-tahun-diprediksi-tembus-90-persen-Xf4mrSWVtc.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

KENDATI pemerintah menghapus cuti bersama pada akhir tahun, namun Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap optimistis okupansi hotel pada libur akhir tahun bisa menembus angka 90 persen.

“Perlu dicatat bahwa angka 90 persen ini bukan dari total kamar yang ada di sebuah hotel, tetapi dari total kamar yang diizinkan untuk dioperasionalkan pada masa pandemi yaitu 70 persen dari total kamar,” kata Ketua DPD PHRI DIY, Deddy Pranawa Eryana.

Menurut dia, puncak okupansi tersebut akan terjadi pada 28 Desember hingga 2 Januari 2020, sedangkan grafik kenaikan tamu untuk libur panjang akhir tahun sudah akan terjadi sejak 20 Desember.

Baca juga: Jelang Libur Natal & Tahun Baru, Pemkab Gunungkidul Awasi Prokes di Objek Wisata

Ia mengaku optimisme tinggi tersebut disebabkan berbagai faktor, di antaranya masyarakat juga tetap membutuhkan waktu untuk berlibur pada masa pandemi Covid-19.

“Banyak wisatawan yang menyampaikan bahwa berlibur tetap diperlukan. Sehat tidak hanya sehat jasmani tetapi sehat rohani dengan cara berlibur melepaskan penat,” katanya.

Hingga saat ini, lanjut Deddy, tamu yang menginap di hotel di DIY masih didominasi wisatawan yang berasal dari Pulau Jawa, dominan berasal dari Jawa Tengah, baru kemudian Jawa Barat, Jawa Timur, dan DKI Jakarta

“Tetapi ada juga tamu dari luar Pulau Jawa seperti dari Lampung juga cukup banyak, Sumatera Selatan, dan Sumatra Barat serta dari Kalimantan Timur,” katanya.

Dirinya memastikan bahwa seluruh pelaku usaha hotel dan jasa akomodasi pariwisata akan menerapkan protokol kesehatan secara ketat saat melayani tamu guna mencegah potensi penularan Covid-19, baik ke tamu maupun ke karyawan hotel dan restoran.

“Kami belajar banyak dari pengalaman menerima tahu sejak Agustus hingga Oktober. Pada saat itu masih banyak tamu yang merasa sudah nonreaktif dari hasil rapid test lalu tidak menjalankan protokol kesehatan yaitu tidak pakai masker,” sambung Deddy.

Sesuai protokol yang berlaku kata dia, maka tamu tersebut akan diingatkan untuk memakai masker dan mematuhi protokol kesehatan lainnya. “Jika masih tidak patuh, maka kami tidak akan menerimanya sebagai tamu,” katanya.

Komitmen untuk menjalankan protokol kesehatan secara ketat tersebut menuruntya, telah menjadi kesepakatan seluruh anggota PHRI DIY karena tidak ingin muncul klaster penularan dari hotel dan restoran.

Sebelumnya, Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan, wisatawan yang akan berkunjung ke Yogyakarta diminta memastikan kondisi kesehatannya dengan melakukan uji swab atau rapid test.

“Bagi pelaku usaha jasa pariwisata juga diminta menerapkan protokol kesehatan secara disiplin sehingga wisatawan yang datang pun merasa lebih aman dan terlindungi,” ucap Heroe.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini