Menilik Masa Depan Museum di Indonesia Selama Pandemi Corona

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 08 Desember 2020 18:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 08 406 2324006 menilik-masa-depan-museum-di-indonesia-selama-pandemi-corona-Cb4hJoCC2q.JPG Museum Sejarah Jakarta (Foto: Okezone.com/Utami)

PANDEMI virus corona atau Covid-19 sedikit banyak telah mengubah wajah pariwisata Indonesia. Hal itu menyusul penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah. Aktivitas wisata mendadak lumpuh.

Banyak negara termasuk Indonesia yang menutup perbatasan hingga akses penerbangan guna meminimalisir risiko penularan Covid-19. Hal tersebut memicu munculnya tren wisata baru berbasis digital. Salah satunya virtual tour.

Konsep wisata ini mulai diadopsi para pelaku wisata yang bergerak di berbagai bidang, termasuk museum.

Museum Expert Designer & Adviser, Ade Garnadi tidak menampik bahwa dampak dari pandemi Covid-19 memang telah memunculkan paradigma baru bagi masa depan museum di Indonesia. Ia mengatakan, sudah seharusnya Indonesia mengembangkan museum berbasis digital seiring dengan berkembangnya teknologi yang begitu pesat.

"Sayangnya konsep ini tidak langsung diadaptasi Indonesia. Kita agak telat, Jadi begitu ada pandemi cukup berat me-manage-nya," kata Ade dalam webinar bertajuk 'Paradigma Baru Museum vs Covid-19' besutan Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (8/12/2020).

Baca juga: Museum-Museum Ini Menjadi Saksi Bisu Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah

Gerakan revitalisasi museum sebetulnya telah dilakukan sejak tahun 2008, 2009, dan 2010. Gerakan ini bahkan telah menyentuh museum di sebagian daerah di Indonesia meski hanya dengan dana terbatas, namun etidaknya telah mengubah suasana museum di daerah menjadi lebih interaktif.

Sementara di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, museum sudah mulai menjadi andalan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, seiring dengan berkembangnya teknologi dan konsep baru dalam tampilan museum.

Perubahan konsep inilah yang kemudian melahirkan paradigma baru museum yang sekarang dikenalkan dengan istilah New Museology Concept. Salah satu di antaranya adalah inclusive museum (museum inklusif).

Museum RA Kartini

Sesuai dengan kata inklusif, maka museum yang mengusung konsep ini harus mampu menyediakan instalasi yang lebih terbuka, informatif, menyenangkan, dan mudah diakses.

“Karena kekuatan museum inklusif adalah memaksimalkan pada digital domain dan menjadikan museum sebagai ruang kreatif,” tegas Ade.

Bicara soal potensi museum inklusif di Indonesia, Ade mengatakan, Indonesia sejatinya memiliki potensi yang sangat besar.

Menurut data tahun 2019, jumlah museum di Indonesia yang dikelola oleh kementerian, pemerintah provinsi, pemerintah kota, dinas-dinas terkait, dan swasta mencapai 439 museum.

Setiap museum memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri, bahkan beberapa di antaranya dikembangkan secara tematik. Dan ini bisa menjadi modal yang sangat besar untuk dikembangkan.

Namun, untuk melakukan digitalisasi pada museum-musem konvensional memang membutuhkan proses yang sangat panjang. Selain itu, dibutuhkan pula komitmen dari para stakeholders untuk serius menggarapnya.

Contohnya, bila sebuah museum tertarik untuk mengadopsi unsur-unsur inklusivitas pada sistem mereka, maka dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang berkompeten di bidangnya, terutama pada penata pameran museum.

Ini menjadi hal yang sangat krusial, karena proses penataan museum berbasis digital harus dilakukan secara komprehensif dan memperhatikan berbagai aspek pendukung lainnya.

Dalam hal ini, diperlukan 'sentuhan magis' dari para ahli seperti desainer interior (perancang pameran), desainer grafis (komunikasi visual), desainer lighting, fotografer, perupa, script writer, dan pemograman. Karena produk atau hasil yang dihasilkan harus mampu memenuhi kebutuhan para pengunjung lintas generasi.

Untuk merealisasikan hal tersebut, proses pengolahan datanya pun harus dilakukan secara digital dan menggunakan teknologi baru dan populer. Museum juga perlu menyediakan peralatan interaktif baik secara analog maupun digital, serta melibatkan komunitas.

Dari kombinasi ini, maka nantinya akan tercipta engagement (ketertarikan emosi), learning (proses belajar), social interaction (interaksi masyarakat), dan touch interpaces dan multi parti (adanya hubungan antara pengguna dengan sistem).

“Sayangnya, orang-orang IT itu jarang di museum. Ini yang perlu diupayakan untuk menyiasati keadaan ini. Dana-dana pengembangan museum juga banyak ditolak karena dialihkan untuk penanganan Covid-19. Sementara budgeting museum di Indonesia memang tidak terlalu besar, sehingga salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengadopsi beberapa konsep digital dengan harga yang tidak terlalu mahal,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini