Tantangan Besar Pengembangan Museum Berbasis Digital di Indonesia

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 09 Desember 2020 08:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 08 406 2324159 tantangan-besar-pengembangan-museum-berbasis-digital-di-indonesia-mvmGA6pLbI.JPG Museum Sejarah Jakarta (Foto: Instagram/@museumkesejarahan)

PENGEMBANGAN museum di Indonesia telah memasuki babak baru. Banyak museum mulai melakukan proses digitalisasi seiring dengan berkembangnya teknologi dan perubahan perilaku wisatawan.

Konsep inilah yang kemudian dikenal dengan istilah museum inklusif dan diadopsi oleh sejumlah negara. Alasannya karena konsep tersebut diklaim dapat meningkatkan pengalaman wisatawan.

Keistimewaan museum inklusif memang terletak pada fitur dan fasilitas yang disediakan. Salah satunya ketersediaan peralatan interaktif baik analog maupun digital. Fitur tersebut membuat aktivitas di dalam museum menjadi lebih terbuka, informatif, dan menyenangkan.

Namun, untuk mengubah museum konvensional menjadi museum inklusif tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Bila Indonesia benar-benar serius mengembangkan museum inklusif maka harus siap menghadapi berbagai tantangan.

Baca juga: Menilik Masa Depan Museum di Indonesia Selama Pandemi Corona

Museum Sejarah Jakarta

(Foto: Instagram/@museumkesejarahan)

Hal tersebut disampaikan secara gamblang oleh, Ade Garnadi, Museum Expert Designer & Adviser dalam webinar bertajuk 'Paradigma Baru Museum vs Covid-19' yang diselenggarakan FSRD DKV Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa, 8 Desember 2020.

"Revitalisasi museum atau digitalisasi terhadap benda pamer itu sebetulnya sudah dilakukan sejak 10 tahun lalu. Tapi kendalanya, bila ingin beralih ke museum inklusif, semua data harus dikumpulkan secara digital. Prosesnya cukup lama dan membutuhkan alat serta biaya yang tidak sedikit. Apalagi bila museum itu sangat manual (konvensional)," jelas Ade.

Meski agak terlambat, Ade mengatakan museum-museum di Indonesia bisa mulai mengumpulkan data dengan menyelenggarakan virtual tour.

Kegiatan ini sangat direkomendasikan karena dapat dilakukan menggunakan alat sederhana seperti kamera action dengan fitur 360 derajat.

"Mumpung museum lagi sepi, bikin saja virtual tour. Siapkan walk throughnya. Dan tidak kalah penting siapkan pula tim IT. Setidaknya untuk keperluan maintenance. Virtual tour ini secara tidak langsung membantu kita mengumpulkan data secara digital," kata Ade.

Lalu, bagaimana dengan museum konvensional yang menyimpan banyak artefak dan benda-benda bersejarah seperti karya lukisan seniman legendaris? Apakah museum ini tetap bisa ditransformasikan menjadi museum digital?

Praktisi warisan budaya dunia, Yunus Arbi berujar, sebelum proses digitalisasi museum dilakukan, pengelola harus memahami betul karakter-karater benda yang mereka miliki.

Secara konservasi, harus dilihat terlebih dahulu tingkat kerentanan benda terhadap intervensi-intervensi benda asing. Seperti karya lukisan yang diklaim sangat sensitif dengan cahaya.

"Sebenarnya dalam konteks teknologi digital kita harus paham dulu. Berapa kekuatan efek cahaya yang bisa mengenai benda. Karena seringkali benda-benda di museum konvensional itu tidak boleh terkena cahaya dari blitz kamera. Jadi harus disiapkan strategi khusus agar tidak ada dampak yang ditimbulkan terhadap benda," ujar Yunus.

"Bisa dimulai dengan menciptakan sistem pengukuran cahaya sampai ke tingkat berapa cahaya bisa dikeluarkan melalui alat. Itu tahap pertama yang harus kita lakukan. Bukan berarti kemudian digitalisasi harus berhenti, harus dipikirkan teknologi yang digunakan agar tidak membawa dampak," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini