Pengetatan Aturan Traveling Bertujuan Cegah Lonjakan Kasus Covid-19 saat Libur Panjang

Tim Okezone, Jurnalis · Rabu 23 Desember 2020 07:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 23 406 2332534 pengetatan-aturan-traveling-bertujuan-cegah-lonjakan-kasus-covid-19-saat-libur-panjang-baYQrqjEii.JPG Jubir Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito (Foto: YouTube BNPB)

PEMERINTAH memperketat aturan perjalanan jelang libur Natal dan Tahun Baru 2021. Satgas Penanganan Covid-19 kembali mengimbau masyarakat agar tetap berada di rumah saja.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkapkan, untuk menekan penularan selama masa libur panjang, pemerintah terpaksa mengatur mobilitas masyarakat. Aturan tersebut mulai 19 Desember hingga 8 Januari 2020 mendatang.

Tujuannya jelas, menekan penyebaran virus corona selama masa libur panjang Natal dan Tahun Baru 2021.

"Mengingat secara umum, terlihat adanya kenaikan tren kasus Covid-19 saat periode libur panjang, ditambah beberapa negara di benua Eropa dan Asia yang menghadapi ancaman second wave (pandemi)," kata Wiku dalam pernyataan keterangan persnya terkait perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, sebagaimana dikutip dari channel YouTube Sekretariat Presiden.

Baca juga: Deretan Tempat Wisata yang Tutup Selama Libur Nataru 2021

Tak hanya Indonesia yang mengeluarkan regulasi tersebut. Sejumlah negara di belahan dunia juga melakukan hal yang sama. Sebab, sebagian besar warga negaranya merayakan libur Natal dan Tahun Baru 2021. Sebut saja di Amerika Serikat, di mana pelaku perjalanan selain warga negara AS dilarang masuk ke negara itu.

Begitupun wisatawan yang tidak memiliki visa, maupun yang tidak dilegalkan menurut pemerintah dan dalam 14 hari terakhir memiliki riwayat perjalanan ke negara anggota Uni Eropa (European Union), European Free Trade Association, Brazil, China, Iran dan Inggris.

Langkah serupa juga diambil Kanada yang memilih memberikan otoritas di negara-negara bagian, seperti di daerah Ontario dan Alberta yang memperbolehkan perayaan Natal hanya dengan orang yang tinggal dalam satu rumah.

"Negara bagian Quebec hanya memperbolehkan perayaan Natal dengan kebijakan moral contract, yaitu berkumpul dengan kedatangan orang dari berbagai daerah dengan syarat harus melakukan isolasi seminggu sebelum dan sesudah perayaan," tuturnya.

"Sedangkan Inggris menerapkan pembatasan dengan sistem yang disebut tier system, dengan mengecualikan kunjungan dari tanggal 23 - 27 Desember, dengan syarat perkumpulan hanya boleh maksimal dengan 3 rumah tangga atau Christmas Bubbles," imbuh dia.

Sebelumnya, pemerintah telah mengatur mobilitas penduduk melalui surat edaran yang dikeluarkan Satgas Penanganan Covid-19 No. 3 Tahun 2020 tentang Protokol Kesehatan Perjalanan Orang Selama Libur Hari Raya Natal dan Tahun Baru Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Sejumlah ketentuan penting sebagai prasyarat perjalanan, untuk perjalanan ke Pulau Bali menggunakan moda transportasi udara harus menyertakan hasil tes PCR yang masa berlakunya 7x24 jam. Sedangkan perjalanan dari dan ke seluruh pulau di Indonesia (kecuali Jawa dan Bali), harus menyertakan hasil rapid test antibodi yang berlaku selama 14 hari.

Adapun untuk perjalanan ke pulau Bali baik darat dan laut wajib menyertakan hasil rapid test antigen yang berlaku 3x24 jam. Hal tersebut juga berlaku untuk perjalanan dari seluruh pulau di Indonesia ke pulau Jawa baik menggunakan moda transportasi udara, darat dan laut. Termasuk perjalanan antar kota/kabupaten dan provinsi dalam pulau Jawa.

Kendati demikian, sejumlah prasyarat itu dikecualikan bagi anak berusia di bawah 12 tahun dan pergerakan transportasi perintis di daerah tertinggal, terdepan dan terluar.

"Ini semua merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan dan kesehatan masyarakat khususnya di masa pandemi Covid-19," katanya menandaskan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini