Kaleidoskop 2020: Program-Program Andalan Kemenparekraf Era Wishnutama di Tengah Corona

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 24 Desember 2020 09:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 24 406 2333231 kaleidoskop-2020-program-program-andalan-kemenparekraf-era-wishnutama-di-tengah-corona-3WcFVb9Jd2.jpg Wishnutama Kusubandio pamit dari Kemenparekraf (Instagram @wishnutama)

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di bawah kepemimpinan Wishnutama Kusubandio telah meluncurkan sejumlah program guna membangkitkan kembali sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi virus corona atau Covid-19 sepanjang 2020.

Salah satunya adalah gerakan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE atau Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) pada destinasi wisata, usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

Program ini diklaim dapat meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk kembali berwisata, sehingga secara perlahan sektor pariwisara dapat bangkit kembali. Selain CHSE, Kemenparekraf juga telah mengeluarkan program lainnya.

Baca juga: Apa Itu CHSE Pariwisata dan Ekonomi Kreatif?

Tapi, menjelang berakhirnya tahun anggaran 2020, Presiden Jokowi mencopot Wishnutama dari Menparekraf lalu melantik Sandiaga Uno sebagai penggantinya, Rabu 23 Desember 2020. 

Berikut Okezone rangkumkan 4 program Kemenparekraf untuk memulihkan sektor pariwisata sepanjang tahun 2020.

CHSE

Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan relaksasi di sektor pariwiwata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif langsung bertindak cepat meluncurkan program sertifikasi CHSE. CHSE dibuat berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Protokol Kesehatan di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

“Kunci keberhasilan pariwisata agar dapat segera rebound adalah pelaksanaan protokol kesehatan berbasis CHSE dengan baik dan disiplin di tiap destinasi tujuan dan pelaku sektor pariwisata,” kata Menparekraf Kusubandio beberapa waktu lalu.

Secara singkat, program sertifikasi CHSE merupakan proses pemberian sertifikat kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata yang benar-benar telah menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Nantinya, sertifikasi CHSE berfungsi sebagai jaminan kepada wisatawan dan masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan. Sehingga lambat laun, kepercayaan wisatawan untuk kembali berwisata akan meningkat.

Lalu, siapa saja yang perlu melakukan sertifikasi CHSE? Sertifikat akan diberikan kepada usaha pariwisata, usaha/fasilitas lain terkait, lingkungan masyarakat, dan destinasi pariwisata. Dalam perkembangannya, program sertifikasi CHSE.

ilustrasi

Foto Kemenparekraf

CHSE diterapkan pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Untuk sektor pariwisata terdiri dari; hotel, restoran, daya tarik, homestay, usaha perjalanan wisata (tour and travel), pemandu wisata, spa, MICE, wisata minat khusus.

Baca juga: Kisah Pria Bantu Penumpang Bergejala Covid-19 di Pesawat, Rela Beri Napas Buatan

Sementara di sektor ekonomi kreatif terdiri dari; bioskop, seni pertunjukan, musik, seni rupa, fashion, kuliner, kriya, fotografi, dan wahana permainanan. Kemenparekraf juga telah menyediakan buku panduan CHSE yang dapat diunduh di situs resmi mereka (kemenparekraf.go.id).

#BeliKreatifLokal 

Beli Kreatif Lokal merupakan program yang diusung Kemenparekraf untuk mendukung Gerakan Bangga Buatan Indonesia yang diinisiasi oleh Presiden Joko Widodo.

Gerakan Banga Buatan Indonesia sendiri merupakan bentuk gotong royong bersama antara pemerintah dan masyarakat, dalam menggerakkan perekonomian nasional melalui penyediaan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha untuk berkarya dan memasarkan produknya.

Gerakan tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi pada 14 Mei lalu. Kepala Negara tidak menampik bahwa pandemi Covid-19 telah membawa dampak yang sangat besar bagi sektor pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif nasional. Menurutnya, justru pada momen inilah Indonesia memiliki kesempatan besar untuk memperkuat industri serta memperbaiki ekosistem bagi para pelaku industri.

Kemenparekraf dalam hal ini turut memberikan sejumlah dukungan, salah satunya dengan meluncurkan program #BeliKreatifLokal untuk mendukung Gerakan Bangga Buatan Indonesia.

Program tersebut bertujuan untuk membantu UMKM dari offline menjadi go online, serta memberikan bantuan berupa pelatihan untuk melakukan promosi secara online yang pastinya berbeda dari cara promosi secara offline.

Pasalnya, menurut Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo, hal mendasar sebagai pelaku usaha ialah harus bisa memadukan kebutuhan antara supply dengan demand.

"Bagaimana kita bisa melihat potensi market dan ini harus continue, pergerakan market, tren market harus selalu dipantau, karena tren terus berubah dan kita harus adaptif, bahkan kalo perlu kita harus menjadi tren maker. Research development juga sangat penting bagi pelaku UMKM agar memiliki pemahaman mendasar mengenai target market dan pengembangan produk kreatif," ujarnya saat menghadiri acara talkshow #BeliKreatif Lokal, Jakarta, 16 September 2020.

ilustrasi

Hibah pariwisata

Untuk memulihkan ekonomi nasional khususnya sektor pariwisata yang paling terdampak dari pandemi Covid-19, pemerintah telah mengimplementasikan peogram Dana Hibah Pariwisata sebesar Rp3,3 triliun. Hibah yang akan disalurkan ke 101 daerah kabupaten dan kota ini akan dilaksanakan hingga Desember 2020.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio memaparkan Dana Hibah Pariwisata diimplementasikan untuk membantu Pemerintah Daerah (Pemda) serta industri hotel dan restoran yang saat ini sedang mengalami penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta gangguan finansial akibat pandemi Covid-19.

“Dana hibah ini diharapkan dapat membantu industri pariwisata untuk meningkatkan kesiapan destinasi dalam penerapan protokol kesehatan dengan lebih baik,” paparnya pada Konferensi Pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu 21 Oktober 2020.

Dia menambahkan bahwa hal ini jadi langkah awal pemulihan pariwisata. Sementara itu, mekanisme penyaluran Dana Hibah Pariwisata melalui transfer ke daerah langsung ditujukan ke Pemda serta usaha hotel dan restoran di 101 daerah kabupaten/kota yang sesuai dengan kriteria.

Antara lain, Ibukota 34 Provinsi, daerah yang masuk dalam program 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan 5 Destinasi Super Prioritas (DSP), daerah yang termasuk 100 Calendar of Event (COE), destinasi branding, juga daerah dengan pendapatan dari Pajak Hotel dan Pajak Restoran (PHPR) minimal 15 persen dari total PAD tahun anggaran 2019.

Hibah pemerintah ini diharapkan menjadi pemantik awal bangkitnya pariwisata di Indonesia. Tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Baik untuk pelaku usaha maupun wisatawan.

Hotel Isolasi Pasien Covid-19

Selain meluncurkan program-program pemulihan pariwisata, Kemenparekraf juga sempat meluncurkan program penyediaan akomodasi dan hotel bagi tenaga kesehatan dan pasien Covid-19. Program ini merupakan hasil kerjasama dengan industri hotel dan Kementerian Kesehatan.

Akomodasi tersebut untuk menambah kapasitas di luar Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet di Kemayoran sebagai pusat karantina pasien tanpa gejala atau gejala ringan, agar tidak melakukan isolasi mandiri yang berpotensi guna menghindari penularan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar.

"Menyikapi arahan Presiden dan hasil rapat kemarin dengan Ketua KPC PEN Bapak Airlangga Hartarto dan Menkes, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) kembali bekerja sama dengan Kemenkes dan industri Hotel untuk menyiapkan akomodasi bagi pasien COVID-19 (tanpa gejala atau gejala ringan) dan juga tenaga kesehatan untuk melakukan isolasi di Hotel," kata Wishnutama Kusubandio dalam jumpa pers bersama Kepala Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo di Graha BNPB, Kamis 17 September 2020.

Isolasi di hotel setara bintang 3 ini termasuk fasilitas makan dan minum serta laundry setiap harinya bagi pasien Covid-19 dan juga tenaga kesehatan. Dalam kerja sama ini Kemenparekraf berkoordinasi dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk memberikan daftar rekomendasi hotel yang telah diseleksi.

Sementara Kemenkes bertanggung jawab menyiapkan tenaga kesehatan untuk memantau pelaksanaan protokol kesehatan di setiap hotel termasuk memonitor perkembangan pasien yang sedang menjalankan isolasi. Termasuk menyediakan sarana dan prasarana pendukung seperti obat, ambulans, dan lain-lain.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini