Ritual Mandi Es Tahunan Tanpa Penonton, Warga Berdoa Pandemi Segera Berakhir

Antara, Jurnalis · Senin 11 Januari 2021 07:40 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 10 406 2342127 ritual-mandi-es-tahunan-tanpa-penonton-warga-berdoa-pandemi-segera-berakhir-Ax4ceQenRB.jpg Warga mandi air es dalam tradisi membersihkan jiwa di Kuil Teppozu Inari, Tokyo, Jepang (Reuters/Antara)

MASYARAKAT Jepang dengan kostum tradisional, para laki-laki mengenakan cawat dan perempuan berpakaian putih, melakukan ritual mandi es Shinto pada Minggu 10 Januari 2021, untuk memurnikan jiwa dan memanjatkan doa khusus agar pandemi COVID-19 berakhir.

Baca juga:  Pandemi Covid-19, Pengunjung Museum Louvre Anjlok 72 Persen

Hanya 12 orang yang ambil bagian dalam acara tahunan di Kuil Teppou-zu Inari di Tokyo tersebut, juga tidak ada penonton yang diizinkan menyaksikan, karena pertimbangan krisis kesehatan saat ini. Sementara pada 2020, lebih dari seratus orang berpartisipasi.

Setelah melakukan gerakan pemanasan dan menyanyikan puji-pujian di tempat terbuka dengan suhu udara 5,1 derajat Celsius, sembilan peserta laki-laki dan tiga perempuan masuk ke dalam kolam berisi air dingin dan balok-balok es.

 

"Saya berdoa semoga virus corona berakhir sesegera mungkin," ujar Shinji Ooi (65), yang memimpin kelompok jamaat "Yayoikai" di kuil tersebut--usai ritual.

Baca juga:  4 Wisata Air Terjun di Makassar, Pemandangannya Menakjubkan

Peserta yang jauh lebih sedikit itu membuat air kolam menjadi sangat dingin, kata seorang peserta bernama Naoaki Yamaguchi (47).

"Biasanya ada lebih banyak peserta, dan hal itu membuat suhu air sedikit lebih hangat. Tetapi tahun ini, hanya ada 12 orang, sehingga airnya amat sangat dingin," kata Yamaguchi.

Kuil itu menambahkan tema "mencegah epidemi" pada kegiatan ritual tahunan tersebut, yang digelar pada Minggu di pekan kedua setiap tahunnya dan saat ini menginjak tahun ke 66.

Jepang tengah berjuang untuk melawan kasus infeksi COVID-19 yang melonjak lagi belakangan ini. Ibu Kota Tokyo mencatat sebanyak 1.494 kasus baru pada Minggu.

Pemerintah mengumumkan status darurat terbatas di Tokyo dan tiga prefektur sekitarnya, yang mencakup 30% populasi Jepang, pada Kamis 7 Januari sebagai langkah menghentikan penyebaran virus.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini