Benarkah Pesawat Lawas Lebih Berbahaya Dioperasikan?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 12 Januari 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 11 406 2342765 benarkah-pesawat-lawas-lebih-berbahaya-dioperasikan-QgNsDBTIpB.JPG Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

INSIDEN jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 pada Sabtu 9 Desember 2020, di perairan Kepulauan Seribu tak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, namun juga menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat Indonesia.

Tak sedikit yang penasaran dengan penyebab terjatuhnya pesawat jenis Boeing 737-500 tersebut.

Mengutip situs Setkab.go.id, Senin, 11 Januari 2021, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 disebutkan lepas landas (take off) dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang menuju Pontianak pada pukul 14.36 WIB. Selanjutnya pada pukul 14.37 WIB melewati 1.700 kaki dan melakukan kontak dengan Jakarta Approach.

Pesawat lalu diizinkan naik ke ketinggian 29.000 kaki dengan mengikuti Standard Instrument Departure.

“Pukul 14.40 WIB, Jakarta Approach melihat pesawat Sriwijaya Air tidak ke arah 0,75 derajat melainkan ke Barat Laut (North West), oleh karenanya ditanya oleh ATC untuk melaporkan arah pesawat,” tulis pihak Kemenhub.

Baca juga: Keluarga Ungkap Cita-cita Oke Dhurrotul Jannah, Pramugari Korban Sriwijaya Air

Tidak lama kemudian, dalam hitungan detik, pesawat hilang dari radar. Manajer operasi langsung berkoordinasi dengan Basarnas, bandara tujuan, dan instansi terkait lainnya.

Sejumlah spekulasi pun bermunculan. Apakah insiden ini berkaitan dengan usia pesawat yang diketahui telah berusia 26 tahun atau lebih dari seperempat abad? Seperti pertanyaan yang dilontarkan pemilik akun @xximbecile.

Twit Netizen

(Foto: Twitter)

"W** the plane is 26 years old!! Ahli penerbangan tolong penjelasannya, apakah ini normal? Saya pikir, pesawat tidak boleh terbang lagi ketika sudah berusia 10-15 tahun," tulisnya.

Hasil penelusuran MNC Portal, isu tersebut sejatinya sudah sering dibahas oleh para ahli penerbangan dunia. Ini tidak terlepas dari penilaian banyak orang yang melihat keamanan pesawat dari seberapa modern fasilitas dan penampilannya. Tapi apakah benar pesawat yang lebih tua kurang aman dibanding pesawat model terbaru?

Mantan President Aircraft Owners and Pilot Association’s Safety Institute, Bruce Landsberg mengatakan, tidak ada jawaban yang jelas untuk menjawab pertanyaan ini. “Semuanya tergantung,” kata dia.

Baca juga: Pilot Cantik India Terbangkan Pesawat dengan Rute Terpanjang Lintasi Kutub Utara

Ia menambahkan, ada beberapa aturan umum untuk menilai keamanan suatu pesawat. Namun pada akhirnya hal ini berkaitan dengan proses maintenance atau perawatan pesawat itu sendiri.

Awak Kokpit

(Foto: iStock)

“Terkadang juga bergantung pada keberuntungan, desain, dan bagaimana pesawat itu dioperasikan,” terangnya.

Ketika berbicara soal perawatan pesawat, Bruce menjelaskan semuanya harus dilakukan secara konsisten. Karena hal itulah yang menjadi kunci dari usia pesawat yang panjang.

Bahkan, dalam beberapa dekade terakhir, persyaratan perawatan pesawat dilaporkan menjadi jauh lebih ketat, terkhusus untuk pesawat yang dinilai sudah berusia lawas.

“Federal Aviaton Administration (FAA) dan maskapai penerbangan sekarang jauh lebih sensitif terhadap pesawat yang menua. Misalnya, semua pesawat yang digunakan untuk penerbangan komersial harus lulus pemeriksaan keselamatan setiap 100 jam waktu terbang,” ungkap Bruce.

Namun ada masanya, maskapai penerbangan harus menerima dengan lapang dada bila salah satu armada atau pesawat mereka sudah tidak layak terbang. Jika hal ini terjadi, mereka harus segera memberikan laporan yang transparan dan 'memuseumkan' pesawat tersebut.

Kemudian, untuk jenis pesawat tertentu seperti Boeing dan Airbus, Bruce mengatakan pesawat ini memang dirancang untuk bertahan lebih lama. Jadi, sudah menjadi hal yang lumrah bila masih banyak pesawat berusia 20, 25, bahkan 35 tahun digunakan untuk kegiatan komersial.

“Mesin utama pesawat itu sangat mahal, karena diproduksi dengan kemampuan yang tangguh dan tahan lama. Memang seharusnya demikian karena pesawat beroperasi di lingkungan bertekanan tinggi dengan daya persentase 65 hingga 85 persen dari daya maksimumnya. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan automobile yang biasanya beroperasi dengan 25 persen dari daya maksimumnya,” beber Bruce.

Baca juga: Jenazah Pramugari Christine Dacera Dimakamkan, Keluarga Tuntut Keadilan

“Rangka pesawat juga dirancang secara konstan untuk mengatur tekanan, depressurization interior, serta menahan tekanan dari kondisi ekstrim,” tambahnya.

Lantas, kapankah waktu yang tepat untuk mempensiunkan pesawat?

Kabin Pesawat

(Foto: Unsplash)

Untuk menjawab pertanyaan ini, Bruce kembali menegaskan bahwa pesawat adalah 'investasi' sangat mahal. Dan kebanyakan maskapai penerbangan lebih cenderung mengganti suku cadang yang sudah tua, daripada membeli pesawat baru. Sebagai gambaran, saat ini pesawat-pesawat model terbaru dibanderol mulai dari Rp1,1 triliun hingga Rp5,6 triliun tergantung merek dan jenisnya.

Selain mesin dan peralatan mekanik, maskapai biasanya mengganti avionic atau sistem elektronik yang dikendalikan dari kokpit. Sementara di dalam kabin, mereka mengganti karpet, kursi, lampu penerangan, dan fitur 'kosmetik' lainnya.

Baca juga: Sebelum Pesawat Jatuh, Pramugari Sriwijaya Air Mia Tresetyani Telpon Ibu Bilang Hujan

“Jadi, kapan maskapai penerbangan memutuskan untuk mempensiunkan pesawat mereka? Semuanya tergantung pada kondisi ekonomi mereka, dan usia pesawat tidak memengaruhi keselamatan penumpang karena kembali lagi bagaimana pihak maskapai merawatnya,” tegas Bruce.

“Ada satu lelucon standar dalam bisnis penerbangan ketika penumpang menanyakan apakah pesawatnya aman, pilot akan berkata, “Menurut Anda, bagamana pesawat ini bisa menjadi setua ini?,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini