Pramugari dan Suami Jual Gorengan demi Bertahan Hidup di Tengah Covid-19

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Rabu 13 Januari 2021 01:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 406 2343131 pramugari-dan-suami-jual-gorengan-demi-bertahan-hidup-di-tengah-covid-19-YeOgAOHXDQ.jpg Amos Ananda dan keluarga (TODAYonline)

SEBELUM Covid-19 memukul industri wisata dan bisnis perjalanan, Amos Ananda Yeo adalah seorang perancang busana alias desainer. Ia secara teratur berpindah-pindah antara Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Vietnam untuk label streetwearnya.

Tapi, selama empat tahun terakhir, dia berbasis di Shenzhen, China, di mana dia menjalankan studio desain dan pabrik produksi garmen.

Baca juga: Curhat Pilu Pramugari Aldha Refa yang Ditinggal Okky Bisma Korban Sriwijaya Air

Pada Januari 2021, Amos kembali ke Singapura ketika wabah Covid-19 mulai memburuk di China. Laki-laki berusia 31 tahun itu memilih pulang untuk putrinya yang masih kecil, Kirsten, yang sekarang berusia 4 tahun.

Pandemi COVID-19 sangat mempengaruhi bisnisnya. “Dari Februari hingga Agustus 2020 tidak ada banyak pemasukan sama sekali, karena proyek dan peragaan busana saya ditunda atau dibatalkan,” katanya seperti dilansir dari TODAYonline, Selasa (12/1/2021).

Istrinya Laura Ooi (32), seorang pramugari, juga mengalami gangguan pekerjaan karena sebagian besar maskapai dilarang terbang dampak pembatasan perjalanan Covid-19.

Untuk menghidupi diri mereka sendiri dan anak mereka, pasangan ini memutuskan untuk memulai bisnis rumahan dengan menjual hei piah, gorengan ala Hokkien dengan udang cangkang utuh.

Baca juga: Jenazah Pramugari Christine Dacera Dimakamkan, Keluarga Tuntut Keadilan

Hai itu sangat berbeda bagi mereka, karena mereka sebelumnya berencana membuka kafe bertema streetwear bernama Baby Amos di Joo Chiat, Maret 2020.

“Saya memutuskan untuk tidak melanjutkannya dan membuat hei piah sebagai gantinya. Dengan Covid-19, saya hanya ingin berhati-hati dan mengambil langkah demi langkah,”jelas Amos.

Resep hei piah berasal dari ibunya, yang telah bekerja sebagai penjaja selama 18 tahun terakhir. Kiosnya berada kantin industri di Tuas Ave 3 yang menjual terutama kueh, chwee kueh, dan adonan goreng, meskipun makanan terlarisnya adalah gorengan udang buatan tangan.

Awalnya, Laura memasak untuk pesanan mereka, sampai dia ditempatkan oleh perusahaannya ke Rumah Sakit Komunitas Ren Ci sebagai duta perawatan. Amos yang tidak punya pengalaman memasak lalu mengambil alih penggorengan hei piahs.

Amos merefleksikan bahwa pandemi telah mengubah gaya hidupnya sebagai perancang busana secara drastis.

“Sebelum Covid-19 terjadi, kami akan berada di Jepang satu minggu, dan Vietnam seminggu lagi. Sekarang saya menjual makanan dan melakukan pengiriman,”dia tertawa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini