Pilot-Pilot yang Berhasil Selamatkan Pesawat Penumpang dengan Pendaratan Darurat di Air

Antara, Jurnalis · Rabu 13 Januari 2021 07:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 12 406 2343335 pilot-pilot-yang-berhasil-selamatkan-pesawat-penumpang-dengan-pendaratan-darurat-di-air-mM4ImJXGN2.jpg Ilustrasi pilot dan co-pilot dalam kokpit pesawat (Pixabay)

Keputusan cepat itu diambil karena di depan pesawat terdapat awan yang mengandung hujan dan petir. Pilot lantas mencoba untuk terbang menembus awan badai itu. Sekitar 90 detik setelah memasuki awan, pesawat turun ke ketinggian 18.000 kaki namun mendadak kedua mesin mati dan kehilangan daya dorong.

Pilot dan Kopilot saat itu mencoba menghidupkan unit daya cadangan (auxiliary power unit/APU) agar mesin bisa kembali menyala. Namun upaya itu ternyata tidak membuahkan hasil, hingga pesawat mencapai ketinggian 8.000 kaki pilot akhirnya memutuskan mendarat di anak sungai Bengawan Solo.

Pesawat berhasil mendarat di sungai dengan kondisi tidak mengeluarkan roda pendaratan serta tidak membuka sayap. Saat evakuasi kondisi pesawat mengalami kerusakan pada bagian hidung dan mesin.

Hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) saat itu menyebutkan pilot yang mengetahui kondisi di luar kokpit seharusnya tidak berupaya menembus awan.

Terakhir diketahui awan badai yang berusaha ditembus GA421 itu mengandung es, kondisi ini yang membuat mesin pesawat mati dan tak mau dihidupkan.

Lion Air

Peristiwa mendarat di permukaan air juga dialami pesawat Lion JT904 jenis Boeing 737-300 saat mendarat di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali dengan asal penerbangan Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat.

ilustrasi

Pesawat yang dikendalikan Mahlup Ghazali dan Kopilot asal India, Chirag Kaira, mendarat keras di perairan sebelah barat runway sehingga membuat badan pesawat terbelah menjadi dua bagian.

Penumpang pesawat sebanyak 110 orang dan tujuh kru pesawat selamat dalam peristiwa itu, meski sebanyak 45 diantaranya harus menjalani perawatan karena luka-luka.

Investigasi KNKT menyebutkan peristiwa itu disebabkan adanya kabut tebal di ujung landasan. Awalnya kendaraan dikendarai oleh kopilot, namun saat akan mendarat diambil alih oleh pilot.

Pilot dinilai tidak mampu membaca secara akurat peristiwa di depannya, lantas mencoba manuver tetapi sudah terlalu dekat dengan ujung landasan sehingga akhirnya jatuh ke laut.

Saksi mata dari sejumlah penumpang, saat itu merasa pesawat akan mendarat seperti biasa. Tetapi kejadian berlangsung sangat cepat, setelah mendengar suara seperti tabrakan, sesaat kemudian badan pesawat sudah pecah menjadi dua dan air laut langsung masuk ke kabin.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini