Share

Wisatawan Asing Dilarang Menikmati Ganja di Amsterdam

Salsabila Jihan, Jurnalis · Senin 18 Januari 2021 01:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 17 406 2345917 wisatawan-asing-dilarang-menikmati-ganja-di-amsterdam-7td1Mv2ZoO.jpg Ilustrasi ganja di Amsterdam (depositphotos.com/DutchNews)

BELANDA jadi salah satu negara yang melegalkan ganja. Produk-produk ganja dan turunannya mudah ditemukan di kedai-kedai kopi atau coffeshop. Tapi, baru-baru ini pemerintah membuat aturan melarang setiap orang membeli dan menikmati ganja di kedai kopi di Kota Amsterdam, kecuali warga negara atau penduduk setempat.

Hal tersebut sebagai bagian dari rencana besar-besaran untuk mencegah kejahatan yang terorganisasi dan mengurangi pariwisata narkoba yang telah menarik beragam reaksi dari penduduk dan pemilik bisnis di Amsterdam.

Baca juga: Lepas Masker di Pesawat, Wanita Ini Diciduk Usai Mendarat

Didukung oleh polisi dan jaksa, Wali Kota Amsterdam Femke Halsema telah mengajukan usulan hanya mengizinkan penduduk Belanda memasuki 166 kedai kopi penjual ganja yang akan berlaku mulai tahun depan.

Dilansir dari The Guardian, Minggu (17/1/2021), penelitian pemerintah menunjukkan sebanyak 58% wisatawan asing yang menyambangi Amsterdam, datang untuk menikmati berbagai olahan ganja dari seluruh dunia.

Sementara penelitian lain menunjukkan, bila larangan itu berlaku, penikmat ganja di Amsterdam hanya memerlukan kurang dari 70 kedai kopi jika hanya penduduk setempat yang dilayani.

"Amsterdam adalah kota internasional dan kami ingin menarik wisatawan, tetapi dengan kekayaan, keindahan, dan institusi budayanya," kata Halsema.

Ia menambahkan bahwa pasar ganja terlalu besar dan terlalu berkaitan dengan kejahatan terorganisir.

Ia mengatakan bahwa kota itu tetap bisa terbuka, ramah, dan toleran, tetapi pada saat yang bersamaan akan membuat hidup lebih sulit bagi penjahat dan mengurangi pariwisata massal dengan anggaran yang rendah.

Secara teknis, ganja merupakan hal yang ilegal di Belanda. Namun menurut aturan yang terbit tahun 1976 di bawah "kebijakan toleransi" menyebutkan, kepemilikan kurang dari lima gram (0,18 ons) dinyatakan belum termasuk dalam tindakan pidana.

Produksinya pun tetap ilegal, tetapi kedai kopi diizinkan untuk menjualnya.

Baca juga:  7 Destinasi Wisata Alam yang Menakjubkan di Jepang

Halesma mengatakan agar efektif, langkah itu tentunya akan memakan waktu beberapa bulan karena perlu ada masa konsultasi dan transisi untuk pemilik kedai kopi dan kota ingin memperkenalkan garis besar ciri khas untuk penjual yang disetujui.

Didukung oleh undang-undang tahun 2012, larangan serupa sudah ada di kota-kota seperti Maastricht dan Den Bosch, yang telah lama mengeluhkan banyaknya wisatawan dari Belgia, Jerman, dan Prancis yang melintasi perbatasan menikmati rokok ganja.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Khawatir akan pasar jalanan yang tidak terkendali, Amsterdam tidak memaksakan "kriteria tempat tinggal" di kedai-kedai kopi ganja, yang jumlahnya sekitar sepertiga dari total kedai itu di Belanda.

Sebaliknya, pemerintah kota memberlakukan larangan merokok di beberapa bagian kota dan menutup toko-toko individu.

Didorong oleh penerbangan murah dan pemesan online, jumlah wisatawan asing di Amsterdam melonjak menjadi hampir 20 juta pengunjung dalam setahun. Padahal kota tersebut penduduknya saja hanya 850.000 jiwa.

Nantinya diperkirakan akan ada lebih dari 29 juta wisatawan pada 2025 yang datang ke Amsterdam bila kebijakan baru tidak diberlakukan.

Kota ini sudah mengambil beberapa langkah guna mengurangi kepadatan dan gangguan yang disebabkan oleh pariwisata yang berlebihan di pusat kota, seperti membatasi jumlah toko, menekan Airbnb, menghentikan pembangunan hotel baru, dan menaikkan pajak.

Kelompok usaha setempat sangat menyambut baik pengumuman tersebut. Robbert Overmeer, dari asosiasi bisnis BIZ Utrechtsestraat, menyatakan kedai kopi ganja adalah salah satu mata rantai terpenting dalam pariwisata bernilai rendah.

"Amsterdam tidak selalu menginginkan orang-orang dengan banyak uang," katanya kepada Dutch News dan menambahkan, "datanglah ke Amsterdam untuk berwisata ke museum, berburu makanan, untuk cinta, dan untuk pertemanan. Tetapi tidak untuk luntang-lantung, mengisap ganja, dan menggunakan narkoba."

Tetapi Joachim Helms dari asosiasi pemilik kedai kopi BCD mengatakan, rencana tersebut berisiko untuk mendorong perdagangan obat-obatan ringan ke jalanan.

"Ganja adalah produk populer yang dinikmati orang di seluruh dunia," ujar Helms kepada kantor berita ANP Belanda, "orang ingin mengisap ganja mereka. Jika itu tidak bisa terjadi di kedai kopi, maka mereka akan membelinya di jalan."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini