Misteri Sinyal SOS di Pulau Laki, Kapten Vincent Raditya Angkat Bicara

Fatha Annisa, Jurnalis · Minggu 24 Januari 2021 01:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 23 406 2349679 misteri-sinyal-sos-di-pulau-laki-kapten-vincent-raditya-angkat-bicara-ssvWLq4kOk.JPG Pilot sekaligus vlogger, Kapten Vincent Raditya (Foto: Instagram/@vincentraditya)

JAGAT maya belum lama ini digegerkan oleh sinyal SOS yang muncul pada aplikasi Google Maps di wilayah Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Seperti diketahui, Pulau Laki merupakan lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu, 9 Januari 2021 lalu.

Kehebohan ini lantas menarik perhatian seorang pilot sekaligus YouTuber ternama, yaitu Kapten Vincent Raditya, sehingga membuatnya terdorong membuat vlog. Di awal video yang diunggah ke channel YouTube-nya, Kapten Vincent membuka dengan sebuah pertanyaan, apa itu SOS?

Kemunculan SOS bermula pada masa di saat komunikasi belum secepat dan secanggih saat ini. Tepatnya di zaman transportasi jalur laut masih menjadi andalan. Pada era tahun 1900-an, SOS kerap kali disangka singkatan dari 'Save Our Soul' atau 'Save Our Ship'. Padahal sebenarnya, SOS adalah kode morse yang merupakan gabungan dari tiga huruf, S, O, dan S.

Baca juga: Misteri Kode SOS di Pulau Laki, Ini 4 Kasus Mirip yang Pernah Bikin Gempar

“SOS merupakan kombinasi dari tiga huruf, yaitu S yang di-coding dengan tiga titik, O yang di-coding dengan tiga dash, dan juga S lagi dengan tiga titik,” kata Vincent mengawali penjelasannya.

Sinyal SOS di Pulau Laki

Ia menjelaskan, dulunya tak ada kode internasional yang dapat digunakan oleh kapal-kapal. Namun kekhawatiran muncul jika suatu kapal melewati batas negara dan mengalami hal buruk, negara lain tidak dapat mengetahui atau memberikan bantuan karena adanya perbedaan kode bahaya di setiap negara.

Oleh karenanya pada tahun 1906 komite internasional membuat Global Unified Distress Code dan menyebutnya SOS. Lalu pada 1908, kode bahaya di seluruh dunia menjadi SOS. Namun seiring berjalannya waktu, kode SOS mulai jarang digunakan.

"Seiring dengan perkembangan teknologi, radio semakin evolve teknologinya. Teknologinya semakin baik, semakin baik sehingga morse code mulai kurang begitu digunakan,” ungkapnya.

"(Maka) Digantilah dengan kata-kata distress yang dikatakan, yaitu Mayday," sambung Vincent.

Saat ini kata dia, SOS lebih seperti pengungkapan yang menunjukkan bahaya atau permintaan tolong. Susunan tiga huruf ini memang sangat cocok untuk sinyal bahaya karena dapat dibaca dari berbagai arah tanpa merubah artinya.

Lalu bagaimana SOS itu bisa muncul di Google Maps? Vincent mencoba memberikan pendapatnya terkait fenomena tersebut.

Baca juga: Penampakan Pramugari Berambut Panjang di Dapur Pesawat, Pilot Bilang Begini

"Google ini selalu terasosiasi dengan data. Bagaimanapun, ini adalah data yang diisi. Intinya, siapapun bisa add places di Google yang bisa diakses oleh semua orang," tuturnya.

Sebelum menutup videonya, vlogger berusia 36 tahun ini berharap agar orang-orang yang tidak berkepentingan maupun pengguna TikTok tidak memasukkan data yang belum jelas keabsahannya untuk diviralkan ke platform media sosial.

Tujuannya jelas, agar tidak menyesatkan masyarakat yang sebenarnya membutuhkan informasi valid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini