Baduy Nol Kasus Covid-19, Simak Yuk 7 Keunikannya!

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Senin 25 Januari 2021 09:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 406 2350153 baduy-nol-kasus-covid-19-simak-yuk-7-keunikannya-iHkWJGeafJ.jpg Kawasan Suku Baduy. (Foto: Kemenparekraf)

SUKU Baduy di Kabupaten Lebak, Banten dilaporkan nol kasus Covid-19. Ada sederet keunikan dari Suku Baduy yang harus traveler tahu.

Suku Baduy hidup dengan alam di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Hampir satu tahun pandemi melanda Indonesia dan seluruh dunia, namun dikabarkan bahwa tak satu pun warga suku Baduy terjangkit virus mematikan tersebut.

Suku Baduy sendiri adalah suku yang masih misterius dan memiliki banyak fakta menarik. Berikut fakta menarik Suku Baduy yang Okezone rangkum dari berbagai sumber.

Dibagi menjadi dua

Suku Baduy dibagi menjadi dua kelompok yaitu Baduy Dalam (Baduy Dalam) dan Baduy Luar (Baduy Luar). Perbedaan paling mendasar antara kedua suku tersebut adalah dalam menjalankan pikukuh atau aturan adat saat melaksanakannya. Jika Suku Baduy Dalam masih menjunjung tinggi adat dan menjalankan aturan adat dengan baik, maka berbeda dengan Suku Baduy Luar.

Masyarakat Baduy Luar telah melakukan akulturasi dengan budaya luar selain Baduy. Penggunaan barang elektronik dan sabun diijinkan oleh pemuka adat bernama Jaro untuk menunjang aktivitas dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Selain itu, Baduy Luar juga menerima tamu yang berasal dari luar Indonesia, diperbolehkan berkunjung hingga menginap di salah satu rumah warga Baduy Luar," tulis Universe Travel.

Baca Juga: 153 WN China Dikarantina Setiba di Bandara Soekarno-Hatta

Pakaian tradisional yang unik

Perbedaan suku Baduy Dalam dan Baduy Luar terlihat dari cara pakaian dipakai. Pakaian atau baju adat di Baduy Dalam tersirat dalam balutan dominan warna putih, terkadang hanya celana yang berwarna hitam atau biru tua. Warna putih melambangkan kesucian dan budaya yang tidak terpengaruh dari luar. Ini berbeda dengan Baduy Luar yang mengenakan pakaian hitam atau biru tua saat beraktivitas.

Baduy Dalam memiliki tiga desa yang ditugaskan untuk menampung kebutuhan dasar yang dibutuhkan oleh seluruh masyarakat Baduy. Tugas ini dipimpin oleh Pu'un sebagai pemimpin adat tertinggi dibantu oleh Jaro sebagai wakilnya. Desa Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo merupakan tiga desa tempat tinggal masyarakat Baduy Dalam, sedangkan kelompok Baduy Luar tinggal di 50 desa lainnya yang terletak di perbukitan Gunung Kendeng.

Asal usul nama

Istilah Baduy merupakan pemberian dari seorang peneliti Belanda yang melihat kemiripan antara orang-orang di sini dengan orang Badawi atau Bedoin dalam bahasa Arab. Kemiripan ini karena dulu masyarakat di sini sering berpindah-pindah mencari tempat tinggal yang tepat. Namun ada versi lain yang menyebutkan, nama Baduy adalah nama Sungai Cibaduy yang terletak di bagian utara Desa Kanekes.

Hewan berkaki empat dilarang masuk

Mata pencaharian masyarakat Baduy umumnya berkebun dan bertani. Tanahnya yang subur dan melimpah memudahkan suku ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hasil bumi berupa kopi, beras dan umbi-umbian merupakan komoditas yang paling banyak ditanam masyarakat Baduy.

Namun dalam praktik berkebun dan bercocok tanam, masyarakat Baduy tidak menggunakan kerbau atau sapi untuk mengolah lahan mereka. Hewan berkaki empat selain anjing dilarang keras memasuki Desa Kanekes untuk menjaga kelestarian alam.

Mitos menenun

Seperti kebanyakan suku di nusantara, seni tradisi Baduy juga mengenal budaya menenun yang sudah diwariskan sejak nenek moyang mereka. Menenun hanya dilakukan oleh wanita yang telah dididik sejak dini. Ada mitos yang berlaku jika seorang laki-laki disentuh oleh alat tenun yang terbuat dari kayu, maka laki-laki tersebut akan mengubah perilakunya menyerupai perilaku perempuan.

Tradisi menenun ini menghasilkan kain tenun yang digunakan dalam pakaian adat Baduy. Kain ini memiliki tekstur yang lembut untuk pakaian, tetapi ada juga yang teksturnya kasar. Kain yang agak kasar biasanya digunakan oleh masyarakat Baduy untuk ikat kepala dan ikat pinggang.

Baca Juga: Deretan Pantai Indah di Wakatobi, Pusat Segitiga Terumbu Karang Dunia

Selain digunakan dalam kehidupan sehari-hari, kain ini diperjualbelikan untuk wisatawan yang datang berkunjung ke Desa Kanekes. Tidak hanya kain, ada juga kain dari kulit pohon yang menjadi ciri khas orang Baduy dalam urusan kesenian. Tas bernama koja atau jarog ini digunakan Suku Baduy untuk menyimpan segala macam kebutuhan yang dibutuhkan selama beraktivitas atau berwisata.

Ditetapkan sebagai cagar budaya

Suku Baduy ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Lebak pada tahun 1990. Daerah yang melintas dari Desa Ciboleger hingga Rangkasbitung ini menjadi tempat bagi suku Baduy untuk menjadi penduduk asli Provinsi Banten. Pengunjung juga dapat mengunjungi suku ini melalui Terminal Ciboleger sebagai pemberhentian terakhir kendaraan bermotor.

Dari sini pemandu akan membawa pengunjung melintasi bukit ke dalam hutan untuk menemukan desa terluar dari Desa Baduy Luar. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya adalah 1 jam. Namun bagi pengunjung yang ingin mengunjungi kawasan Baduy Dalam bisa berjalan kaki hingga 7 jam sebelum sampai di Kampung Cibeo, salah satu dari 3 desa Baduy Dalam.

Baca Juga: Pelancong dari Luar Amerika Wajib Karantina Sepekan

Bebas Covid-19

Sudah 10 bulan sejak virus Corona ditemukan di Indonesia, namun kini masyarakat suku Baduy tak ada satupun yang belum terinfeksi virus corona.

Dikutip dari Pikiran Rakyat, Masyarakat Baduy lebih mematuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan guna mencegah penularan virus corona.

Bahkan, tetua adat setempat mengimbau masyarakat Baduy tidak boleh ke luar daerah, seperti Jakarta, Tangerang dan Bogor, sebab di daerah itu merupakan zona merah penyebaran Covid-19. Upaya lain untuk menangkal Covid-19 juga dilakukan dengan cara tradisional.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini