Fakta-Fakta Unik Pulau Cantik Dihuni 62 Orang Bersaudara, Penduduknya Santai Banget

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Selasa 26 Januari 2021 01:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 25 406 2350428 fakta-fakta-unik-pulau-cantik-dihuni-62-orang-bersaudara-penduduknya-santai-banget-zqtruRpb0K.jpg Pulau Palmerston di Samudera Pasifik (yachtfathom.co.uk)

PULAU Palmerston merupakan gugusan Kepulauan Cook di Samudra Pasifik. Pulau koral milik Inggris ini letaknya sekitar 3.200 kilometer arah timur laut Selandia Baru.

Terdiri dari sejumlah pulau pasir kecil dan karang-karang yang mengelilingi laguna, Palmerston beriklim tropis dan tak punya bandara. Tapi, kapal kargo bisa bersandar di pulau yang terbuka buat pariwisata tersebut.

Pulau ini hanya dihuni oleh 62 orang dari satu keturunan yakni tukang kayu asal Inggris, William Masters, manusia pertama yang tinggal di Palmerston. Bahkan ada yang hasil perkawinan sedarah atau incest.

Baca juga:  5 Fakta Menarik Pulau Natal, Letaknya Dekat Indonesia tapi Milik Australia

Mereka terbuka menerima pengunjung yang tiap tahun mencapai ratusan melancong ke Palmerston terutama selama musim kemarau, dari Mei hingga Oktober.

Pulau terpencil di ujung dunia ini memiliki berbagai fakta menarik dan pemandangan alamnya yang menakjubkan.

Berikut fakta menarik Pulau Palmerston yang Okezone lansir dari laman Cooks Islands Travel dan Bored Panda :

1. Pantai dengan gugusan karang yang indah

Pulau Palmerston sangatlah memesona karena masih sangat alami dan tak tersentuh. Palmerston memiliki laut yang berwarna biru jernih berkilauan dengan terumbu karang dan laguna dan pantai pasir putihnya yang lembut.

ilustrasi

Pulau Palmerston di Samudera Pasifik difoto dengan satelit (NASA)

“Pulau-pulau kecil, Palmerston, Pulau Utara, Lee To Us, Leicester, Primrose, Tons dan Cooks mencakup total luas daratan sekitar satu mil persegi, tetapi terumbu karang seluas sekitar 3.600 hektar di tepi laguna biru berkilauan selebar 7 mil,” tulis Cooks Island Travel.

2. Dihuni 62 orang

Terletak di antara Kepulauan Cook yang dinamai menurut penjelajah James Cook yang menemukan pulau-pulau terpencil di tengah samudera tersebut. Setelah ditemukan, tidak ada manusia yang tinggal di pulau-pulau itu selama lebih dari delapan dekade.

Kemudian orang Inggris bernama William Marsters menemukan Palmerston di pertengahan abad 19 dan langsung jatuh cinta padanya. Pada saat itu, Palmerston dimiliki oleh seorang pedagang Inggris, John Brander, yang ditemui William di Tahiti.

Brander lalu meminta William mengurus Palmerston dan membiarkannya menanam serta memanen pohon kelapa di sana. Dia pindah ke Palmerston pada 1863 bersama istrinya, seorang wanita Polinesia, dan dua sepupunya (yang kemudian dia nikahi juga).

ilustrasi

Pulau Palmerston (Cook Islands.Travel)

Pada 1899 Masters meninggal. Ia lantas membagi Pulau Palmerston seluas 2 Km per segi itu menjadi tiga bagian dan mewariskannya pada ketiga istrinya dan anak-anaknya.

Baca juga: Kisah Pulau Natal, Penduduknya Muslim dan Punya Masjid

Setelah anak-anak Masters beranak-pinak, jadilah pulau tersebut semakin ramai oleh keturunan Masters. Total jumlah penduduk Pulau Palmerston adalah 62 orang.

3. Tak ada supermarket, namun ada sekolah, gereja, dan bar

Bagi Anda yang menyukai berwisata di pulau terpencil, pulau ini sangat pas untuk anda kunjungi.

Namun, untuk mencapai pulau ini anda harus berlayar selama 9 hari dari dermaga terdekat.

Mata pencaharian penduduk Palmerston adalah nelayan dan memanen kelapa. penduduk Palmerston juga minum dengan cara mengumpulkan air hujan.

Di Pulau Palmerston tak ada supermarket sama sekali. Penduduk di sana membeli barang kebutuhan sehari-hari dengan mengimpornya dari pulau tetangga. Listrik di Pulau Palmerston tersedia dari pukul 6.00—12.00.

Selepas itu akan mati dan baru pada malam hari akan menyala lagi. Internet ada di pulau ini namun hanya pada waktu tertentu saja. Pulau Palmerston hanya dikunjungi kapal pasokan makanan selama dua tahun sekali, tapi tidak jarang sebagian penduduk pernah merasakan selama 18 bulan tanpa pengiriman pasokan makanan.

Meski tak ada supermarket dan fasilitas sangat terbatas di sana, namun pulau Palmerston punya sekolah, gereja, bahkan bar yang menyediakan bir dingin favorit lokal disana.

4. Penduduknya hidup santai

Pulau Palmerston adalah representasi kehidupan sangat santai. Di waktu luang mereka, penduduk akan membuat perhiasan, bermain bola voli, atau berenang. Namun, mereka memiliki listrik dan bahkan Internet, tetapi hanya untuk beberapa jam sehari. Beberapa yang beruntung bahkan memiliki ponsel dan bahkan ada TV satelit.

Pada hari Minggu ketika lonceng gereja berdering untuk memanggil orang-orang untuk kebaktian, setelah itu tidak ada pekerjaan atau permainan yang dilakukan karena pulau itu perlahan-lahan mulai memasuki malamnya yang nyaman.

Penduduk lokal sangat ramah kepada wisatawan, jika Anda mengunjungi pulau Palmerston, penduduk tersebut akan “mengadopsi” Anda menjadi anggota keluarganya. Ia akan menjadi guide Anda selama berada di Palmerston. Di rumah penduduk itu pulalah Anda akan menginap sebab memang nggak ada hotel di sana.

ilustrasi

5. Generasi mudanya ingin pindah

Sejumlah besar mantan penduduk telah pergi karena ingin menghindari pernikahan sedarah. Ada kasus di mana orang menikah hanya untuk kemudian mengetahui bahwa mereka memiliki hubungan dekat.

Seperti yang pernah diakui Walikota Palmerston kepada media: “Ayah (istrinya) dan ayah saya adalah saudara. Saya tidak mengetahuinya tetapi pada saat kami mengetahuinya, semuanya sudah terlambat dan kami sudah memiliki anak ... Tidak ada orang di pulau itu, itulah sebabnya perkawinan silang sedang berlangsung. "

Inilah salah satu alasan mengapa populasi pulau ini terus menurun karena kaum muda ingin memiliki lebih banyak pilihan untuk menikah dan melahirkan anak yang sehat.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini