Kisah Pulau Terpencil Dihuni 62 Orang, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Kamis 28 Januari 2021 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 27 406 2351666 kisah-pulau-terpencil-dihuni-62-orang-bagaimana-mereka-bertahan-hidup-2dUFepWUM0.jpg Pulau Palmerston di Samudera Pasifik (yachtfathom.co.uk)

PULAU Palmerston berada di Samudera Pasifik, sekitar 3.200 kilometer arah timur laut Selandia Baru. Pulau koral milik Inggris ini hanya dihuni 62 orang dari satu keturunan, yakni William Masters. Tukang kayu asal Inggris itu merupakan manusia pertama yang tinggal di Palmerston.

Lalu, bagaimana mereka bertahan hidup di pulau terpencil dengan keindahan alam yang memesona itu?

Palmerston bagian dari gugusan Kepulauan Cook. Dinamakan Cook karena sesuai nama penemunya, James Cook, penjelajah Inggris yang hidup pada abad 18. Setelah ditemukan, tidak ada manusia yang tinggal di pulau-pulau itu selama lebih dari delapan dekade.

Baca juga: Fakta-Fakta Unik Pulau Cantik Dihuni 62 Orang Bersaudara, Penduduknya Santai Banget

Kemudian William Marsters menemukan Palmerston di pertengahan abad 19 dan langsung jatuh cinta padanya. Pada saat itu, Palmerston dimiliki oleh seorang pedagang asal Inggris, John Brander yang tinggal di Tahiti. William dan Brander sempat bertemu.

ilustrasi

Pulau Palmerston (Cook Islands.Travel)

Brander meminta William mengurus Palmerston dan membiarkannya menanam serta memanen pohon kelapa di sana. William pindah ke Palmerston pada 1863 bersama istrinya, seorang wanita Polinesia, dan dua sepupunya (yang kemudian dia nikahi juga).

Pada 1899, William Masters meninggal dubua dab membagikan Pulau Palmerston seluas 2 Km per segi itu menjadi tiga bagian dan mewariskannya pada ketiga istrinya dan anak-anaknya.

Pulau Palmerston hanya dikunjungi kapal pasokan makanan selama beberapa bulan sekali, tapi tidak jarang sebagian penduduk pernah merasakan selama 18 bulan tanpa pengiriman pasokan makanan.

Tak ada toko dan supermarket membuat penduduk Palmerston mencukupi hidupnya dengan mencari ikan dan memanen kelapa. Uang yang mereka dapatkan juga hanya digunakan untuk membeli kebutuhan dari pulau tetangga.

Baca juga:  5 Fakta Menarik Pulau Natal, Letaknya Dekat Indonesia tapi Milik Australia

William Masters, penemu pulau ini dikenal hingga hari ini sebagai "Ayah" oleh keturunannya yang jauh, ia menerapkan kebijakan pernikahan dan praktik berpikiran maju lainnya yang masih berlaku. Seperti perburuan burung bosun tahunan, dan temuannya terhadap budaya konservasi ra'ui tradisional Cooks.

Pada Sabtu pertama bulan Juni, penduduk pulau menangkap cukup banyak unggas. Kemudian diberikan kepada setiap orang setengah ekor burung. Penduduk dilarang berburu burung laut putih ekor panjang di luar ritual ini, agar kawanan burung yang ada tetap sehat dan tidak punah.

ilustrasi

Pulau Palmerston di Samudera Pasifik difoto dengan satelit (NASA)

Semua penduduk Palmerston tinggal di Home Island, yang terbesar di pulau, yang panjangnya kurang dari satu mil. “Kami memiliki lebih dari cukup ikan untuk makanan kami sendiri,” kata Will salah satu penduduk Palmerston dilansir dari Outside Online, Rabu (27/1/2021).

Ia menjelaskan bahwa laguna di pulau lain dipengaruhi oleh ciguatera, racun yang diproduksi secara alami yang dapat membuat makanan laut tidak dapat dimakan.

“Permintaan ikan karang tidak pernah terpuaskan di Rarotonga dan Aitutaki,” ujar Will.

Baca juga: Kisah Pulau Natal, Penduduknya Muslim dan Punya Masjid

Untuk melengkapi pola makan Palmerston, mereka memelihara babi dan ayam, dan sebuah kapal suplai datang setiap beberapa bulan dari Rarotonga, membawa barang-barang mewah dan barang-barang seperti beras, gula, dan domba dari Selandia Baru.

Meskipun lokasinya terpencil, penduduk Palmerston dapat mengikuti perkembangan terkini di luar negeri melalui Wi-Fi.

Kepulauan Cook secara politik dikaitkan dengan Selandia Baru, yang berarti bahwa penduduk Kepulauan Cook secara otomatis diberikan kewarganegaraan Kiwi dan dapat bergerak bebas bolak-balik.

Banyak anak muda di Palmerston, seperti putra Ed, David, pernah tinggal di Selandia Baru untuk bekerja sebentar sebelum kembali ke pulau.

Sebagai kepulauan yang menggantungkan diri pada kondisi alam, Kepulauan Cooks menghadapi ancaman terberat yaitu perubahan iklim yang pesat.

Di tingkat nasional, Kepulauan Cooks mengambil langkah-langkah dasar untuk mencegah efek pemanasan global, seperti memperbaiki sistem penangkapan air untuk mengantisipasi kekeringan dan memasang serta meningkatkan stasiun cuaca untuk membantu nelayan dan petani mendapatkan informasi real-time yang andal.

Meskipun United Nations Adaptation Fund telah mengucurkan 5.381.600 dollar ke dalam proyek-proyek seperti ini, tidak ada gunanya ketika badai besar menghantam mereka.

“Kemudahan akses akan sangat menguntungkan orang-orang Palmerston,” kata Will.

“Semakin kita mengekspos diri kita ke dunia luar, semakin kita harus khawatir.”

Bagi Will, ancaman terbesar bagi Palmerston adalah ketergantungan pada kenyamanan modern. “Kami perlahan-lahan kehilangan teknik subsisten tradisional kami,” jelasnya.

“Perubahan iklim akan mempengaruhi produksi pangan di tempat lain, dan dalam menghadapi harga yang tidak terjangkau, kami tidak akan punya pilihan selain kembali ke pertanian dasar tradisional dan mencari makan. Jika kita kehilangan keterampilan itu, maka atol terpencil bisa menjadi sangat tak kenal ampun.”

Akhirnya, dia mengakui bahwa cara hidup warga Palmerston rapuh. “Kami mencoba untuk tidak mengkhawatirkannya,” katanya, “tetapi kami menyadari kerentanan kami.”

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini