Kisah Pulau Terpencil Dihuni 62 Orang, Bagaimana Mereka Bertahan Hidup?

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Kamis 28 Januari 2021 00:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 27 406 2351666 kisah-pulau-terpencil-dihuni-62-orang-bagaimana-mereka-bertahan-hidup-2dUFepWUM0.jpg Pulau Palmerston di Samudera Pasifik (yachtfathom.co.uk)

Kepulauan Cook secara politik dikaitkan dengan Selandia Baru, yang berarti bahwa penduduk Kepulauan Cook secara otomatis diberikan kewarganegaraan Kiwi dan dapat bergerak bebas bolak-balik.

Banyak anak muda di Palmerston, seperti putra Ed, David, pernah tinggal di Selandia Baru untuk bekerja sebentar sebelum kembali ke pulau.

Sebagai kepulauan yang menggantungkan diri pada kondisi alam, Kepulauan Cooks menghadapi ancaman terberat yaitu perubahan iklim yang pesat.

Di tingkat nasional, Kepulauan Cooks mengambil langkah-langkah dasar untuk mencegah efek pemanasan global, seperti memperbaiki sistem penangkapan air untuk mengantisipasi kekeringan dan memasang serta meningkatkan stasiun cuaca untuk membantu nelayan dan petani mendapatkan informasi real-time yang andal.

Meskipun United Nations Adaptation Fund telah mengucurkan 5.381.600 dollar ke dalam proyek-proyek seperti ini, tidak ada gunanya ketika badai besar menghantam mereka.

“Kemudahan akses akan sangat menguntungkan orang-orang Palmerston,” kata Will.

“Semakin kita mengekspos diri kita ke dunia luar, semakin kita harus khawatir.”

Bagi Will, ancaman terbesar bagi Palmerston adalah ketergantungan pada kenyamanan modern. “Kami perlahan-lahan kehilangan teknik subsisten tradisional kami,” jelasnya.

“Perubahan iklim akan mempengaruhi produksi pangan di tempat lain, dan dalam menghadapi harga yang tidak terjangkau, kami tidak akan punya pilihan selain kembali ke pertanian dasar tradisional dan mencari makan. Jika kita kehilangan keterampilan itu, maka atol terpencil bisa menjadi sangat tak kenal ampun.”

Akhirnya, dia mengakui bahwa cara hidup warga Palmerston rapuh. “Kami mencoba untuk tidak mengkhawatirkannya,” katanya, “tetapi kami menyadari kerentanan kami.”

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini