Kisah Pertarungan Naga Vs Buaya Putih hingga Memunculkan Telaga Lumpur di Grobogan

Fatha Annisa, Jurnalis · Selasa 02 Februari 2021 20:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 01 406 2354610 kisah-pertarungan-naga-vs-buaya-putih-hingga-memunculkan-telaga-lumpur-di-grobogan-KxbE0uCQbK.jpg Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah (Foto amusingplanet)

JIKA Anda ingin melihat fenomena alam yang unik, berkunjunglah ke Bledug Kuwu. Gunung api lumpur di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ini salah satu objek wisata. Telaga lumpur hangat seluas 45 hektar jadi pemandangan menarik.

Di Bledug Kuwu pengunjung dapat melihat letupan gelembung lumpur keluar dari permukaan tanah. Bledug Kuwu diyakini masyarakat telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Baca juga: Viral Sajadah Hijau dan Tatapan Kosong Faisal Rahman ke Jendela Pesawat

Lumpur ini berasal dari endapan laut purba yang menyembur karena tekanan air vertikal. Lumpur yang disemburkan disertai asap putih berupa gas hidrogen sulfida. Asap tersebut membubung tinggi hingga 3 meter dan di waktu-waktu tertentu dapat mencapai 10 meter.

Uniknya, letupan lumpur Bledug Kuwu juga mengeluarkan percikan air yang mengandung garam. Padahal secara geologis Bledug Kuwu tergolong jauh dari areal pantai.

Kandungan garam yang ada pada air tersebut lantas dimanfaatkan warga sekitar sebagai mata pencaharian. Setiap harinya warga memproduksi garam secara tradisional dan kerupuk karak yang berbahan dasar nasi serta garam untuk dijual kembali.

Tak hanya keunikannya, ada sebuah legenda yang mengisahkan asal-usul terbentuknya Bledug Kuwu. Legenda ini diyakini masyarakat dan membuat Bledug Kuwu menjadi lebih menarik lagi untuk dikunjungi terutama bagi penggemar kisah-kisah kuno.

Mengutip dari grobogan.go.id, Selasa (2/2/2021), dikisahkan bahwa sekitar abad ke-7 Masehi, Grobogan merupakan bagian dari Kerajaan Medang Kamolan yang dipimpin Dewata Cengkar sebelum tahta jatuh pada Ajisaka.

Baca juga: Ungkap Makna Kehilangan, Pramugari Aldha Refa: Allah Tahu yang Terbaik

Dewata Cengkar dikenal sebagai raja yang suka makan daging manusia dan perilakunya meresahkan. Sementara Ajisaka adalah pengembara yang prihatin dengan kondisi rakyat. Ajisaka menantang Dewata Cengkar adu kesaktian. Dewata Cengkar kalah dan tercebur ke Laut Selatan. Ia tak mati, tapi tubuhnya menjadi buaya putih.

Ajisaka akhirnya dinobatkan oleh rakyat sebagai Raja Medang Kamolan. Kemudian muncullah naga yang mengaku dirinya anak Ajisaka bernama Jaka Linglung.

Agar mengakuinya sebagai anak, Ajisaka memerintahkan Jaka Linglung untuk membunuh buaya putih jelmaan Dewata Cengkar di Laut Selatan. Syaratnya, sang naga harus ke Laut Selatan lewat tanah, tidak boleh melalui darat karena mengganggu penduduk. Jaka Linglung menyanggupinya.

Jaka Linglung ke Laut Selatan lewat jalan dalam tanah. Kemudian ia bertarung dan berhasil membunuh Dewata Cengkar. Setelah itu, naga kembali ke Grobongan melalui bawah tanah.

Ia sempat muncul ke permukaan di Kuwu untuk melepas lelah. Lokasi kemunculan Jaka Linglung inilah yang diyakini sebagai cikal bakal Bledug Kuwu. Warga percaya bahwa Bledug Kuwu tersambung ke Laut Selatan.

Untuk masuk ke Bledug Kuwu dikenakan tarif sebesar Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.

Di sana, pengunjung juga dapat menyaksikan proses pembuatan garam yang dilakukan warga setempat secara tradisional. Namun, pengunjung tidak diperbolehkan berada terlalu dekat dengan pusat letusan.

Selain gas yang dihasilkan, permukaan tanah di sekitar letusan merupakan lumpur yang bersifat labil. Kedua hal ini cukup berbahaya bagi pengunjung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini