Kisah Pramugara "Sulap" Desa Kelahirannya Jadi Wisata Edukasi 'Red Angels'

Elvina Maharani Putri, Jurnalis · Selasa 02 Februari 2021 16:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 02 406 2354991 kisah-pramugara-sulap-desa-kelahirannya-jadi-wisata-edukasi-red-angels-w7MXNiUJDp.JPG Priyo Martono, seorang pramugara yang mengubah desa kelahirannya jadi objek wisata edukasi (Foto: Instagram/@sandiuno)

SEORANG pramugara maskapai penerbangan Indonesia, Priyo Martono membuat terobosan dengan mengubah Kampung Tumo di Desa Hargomulyo, Kecamatan Kedewan, Bojonegoro, Jawa Timur menjadi objek wisata edukasi 'Red Angels'.

Ide membangun lokasi wisata Kampung Tumo, dilakukan Priyo semata-mata karena keinginannya membangun dan memajukan desa kelahirannya itu.

"Saya bisa dipanggil Kang Priyo, saat ini saya mengelola wisata edukasi dimana saya menyebutnya adalah Training Center Desa Rasa Kota. Terus kenapa juga menyebut Training Center Desa Rasa Kota karena kegelisahan saya itu timbul, Kenapa sih pendidikan itu harus ada di kota dan kenapa pendidikan-pendidikan yang modern, yang profesional itu mesti biaya mahal," kata Priyo dalam video yang diunggah akun instagram Menparekraf Sandiaga Uno, @sandiuno.

Baca juga: Belasan Desa Wisata di Temanggung Kurang Promosi

“Kenapa tidak diubah mindsetnya, kenapa desa tidak mempunyai training center sendiri sehingga anak-anak desa, masyarakat desa itu tidak perlu harus pergi ke kota dengan biaya yang sangat mahal. Jadi harapannya tidak ada lagi biaya mahal untuk mendapatkan pendidikan yang modern, cukup dengan di desa kita bisa memaksimalkan potensi yang ada”, sambung dia.

Melihat potensi tersebut, Menparekraf Sandiaga Uno optimistis anak-anak di desa tersebut dapat membantu membangun ekonomi dengan terciptanya usaha, lapangan kerja dan memaksimalkan potensi untuk menarik minat wisatawan dengan menggunakan teknologi seperti platform online.

“Ini adalah saat yang tepat bagi para pengelola desa wisata, bagi para pekerja informal pengrajin, pegiat pariwisata ekonomi kreatif untuk menemukan kembali jati diri posisi baru bereksperimen dengan pendekatan baru. Ciptakan penawaran baru yang pas bagi pelanggan platform yang juga baru juga yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Pakai teknologi, pakai big data, pakai platform online," tuturnya.

Lebih lanjut Sandi menyarankan metode yang bisa dipakai dalam mengenalkan desa wisata tersebut agar semakin populer di masyarakat.

“Target pasarnya yang dekat-dekat saja dulu wisatawan domestik. Digital nomad banyak banget sekarang digital nomad yang berkerja dari desa wisata untuk di saat pandemi ini. Ini adalah bagaimana mereka beralih dari pariwisata berbasis kuantitas ke pariwisata berbasis kualitas. Ini adalah bagian daripada parekraf yang lebih berkelanjutan dan juga parekraf yang lebih berkualitas," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini