Penari Rangda Tewas Tertusuk Keris, Ini Fakta-Fakta Seputar Rangda

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Sabtu 06 Februari 2021 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 06 406 2357691 penari-rangda-tewas-tertusuk-keris-ini-fakta-fakta-seputar-rangda-zB7Jcqne8t.jpg Ilustrasi Rangda (Youtube Hans Smeekes)

SEORANG remaja berinisial GNEP (16) tewas tertusuk keris saat menari Rangda di sebuah rumah di Jalan Sutomo, Banjar Blong Gede, Pemecutan Kaja, Denpasar, Bali, Kamis 4 Februari 2021 dini hari. Korban tertusuk saat ritual Napak Pertiwi dalam rangkaian Hari Pagerwesi.

Acara itu diikuti sejumlah orang. Korban yang mengenakan pakaian Rangda diduga kesurupan kemudian menusukkan keris ke tubuhnya diiringi riuhan gemelan. Ini bagian dari ritual Napak Pertiwi.

Nahas, GNEP terjatuh. Saat diperiksa ternyata tubuhnya terluka kena tusukan keris. Korban dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tak tertolong.

Baca juga: 5 Geopark Indonesia yang Diakui UNESCO, Kaldera Toba Sampai Rinjani

Rangda memang dikenal bagian dari atraksi budaya di Bali yang punya aura mistis. Penarinya bisa kesurupan.

Berikut fakta-fakta mengenai Rangda :

1. Sosok Rangda

Mengutip Wikipedia, Rangda adalah ratu dari para leak dalam mitologi Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

Dalam tarian Barong singa (roh baik) bertarung melawan lawannya yang disebut Rangda yang mewakili kejahatan.

“Rangda digambarkan sebagai wanita dengan rambut panjang kusut, mata lebar, bertaring besar, kuku berkuku panjang, lidah menonjol, dan payudara panjang,” seperti dikutip dari Bali Travel Diary.

Secara harfiah, kata "rangda" berarti janda. Makna ini sesuai dengan asal-usul cerita yang menceritakan tentang Ratu Mahendradatta yang membalas dendam karena diasingkan oleh Raja Dharmodayana.

Mantan ratu kemudian membalas sakit hatinya dengan membunuh setengah dari orang di kerajaan.

2. Tarian sakral

Menurut Bali Travel Diary, kisah pertarungan abadi ini kemudian diangkat dalam seni tari barong. Tarian barong memiliki banyak versi. Salah satu versi yang sederhana dan ringkas adalah tari Barong Rangda yang dipentaskan secara rutin di atas panggung kompleks ampiteater Garuda Wisnu Kencana.

Baca juga: Suasana Mencekam Desa Mati Majalengka, Bikin Merinding

Tarian ini merupakan pengantar bagi masyarakat awam untuk memahami konsep rwa bhineda yang merupakan bagian dari prinsip kehidupan masyarakat Bali.

Tariannya selalu dimulai dengan 2 monyet lucu yang menggoda Barong. Kemudian Rangda yang jahat muncul dan mencoba menggunakan ilmu hitam pada para penari pria. Dia memerintahkan mereka untuk bunuh diri.

Namun, Barong menggunakan sihir pelindung pada laki-laki tersebut sehingga mereka menjadi kebal. Tarian ini berakhir dengan pertarungan terakhir antara Barong dan Rangda. Barong memenangkan pertempuran dan kejahatan dikalahkan.

3. Penarinya sering mengalami trans

Topeng yang digunakan penari barong dan rangda dianggap sebagai benda suci dan sebelum digunakan pendeta harus memberkatinya dengan cara memercikkan air suci yang diambil dari Gunung Agung, dan dengan cara membuat sesajen dan berdoa kepada Tuhan agar tidak terjadi hal-hal di luar keinginan atau hal buruk dan negatif lainnya.

Rangda, bagaimanapun, sama sekali tidak memiliki lelucon dan sifat baik dari Barong. Dia berbahaya dan merusak, memiliki kekuatan untuk membuat lawannya kesurupan. Aktor karakter Rangda mungkin sering mengalami kesurupan saat tampil. Kekuatan magis dan daya rusak Rangda menempatkan banyak persyaratan pada pemainnya, yang sering kali merupakan individu yang dihormati di komunitasnya.

ilustrasi

4. Umum dilakukan

Tarian barong, rangda dan calonarang biasanya ditampilkan selama festival Galungan, tetapi juga akan dilakukan saat ada penyakit atau kesialan di desa. Penduduk desa percaya bahwa mereka akan mengejar hal-hal buruk dari desa mereka dengan melakukan tarian ini.

Hal ini masih umum dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di Bali.

Gerakan Rangda sengaja bertolak belakang dengan semua ciri khas tari klasik Bali. Dia sering berdiri hanya dengan kaki terbuka, gemetar sesak, mengulurkan tangannya, dan menggoyangkan kuku jarinya yang panjang dalam kesiapan untuk menyerang musuh-musuhnya.

Seperti Barong, Rangda muncul di pesta desa, tetapi dia juga dapat berpartisipasi dalam pertemuan besar Barong dan Rangda serta dalam berbagai macam ritual dan drama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini