Share

Kisah Pengrajin Baduy Bertahan Hidup di Tengah Hantaman Badai Corona

Antara, Jurnalis · Senin 08 Februari 2021 09:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 406 2358272 kisah-pengrajin-baduy-bertahan-hidup-di-tengah-hantaman-badai-corona-SCGtbgPeG5.JPG Seorang pengrajin Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten (Foto: Antara)

PENGRAJIN dari kalangan masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten hingga kini masih tetap bertahan di tengah hantaman pandemi Covid-19. Mereka bekerja keras demi meningkatkan pendapatan ekonomi.

"Meskipun permintaan konsumen itu relatif kecil, namun tetap produksi aneka kerajinan bertahan," kata Jali (65) seorang pedagang di pemukiman Baduy Kampung Kadu Ketug III Desa Kanekes Kabupaten Lebak, Minggu, 7 Februari 2021 kemarin.

Para pengrajin dan pedagang aneka kerajinan Baduy sangat terpukul di tengah pandemi Covid-19, karena permintaan konsumen menurun drastis akibat dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Baca juga: Heboh Gili Tangkong Lombok Dijual di Situs Online

Saat pemberlakuan PSBB, kawasan wisata tertutup dari pengunjung guna pengendalian pandemi. Kawasan Baduy hingga tanggal 17 Februari 2021 ditutup dan tidak boleh dikunjungi wisatawan sehubungan diberlakukan PSBB tersebut.

"Kami paling bantar sekarang mendapatkan omzet sekitar Rp400 ribu per pekan," keluhnya.

Jali mengaku sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan sebagai pedagang aneka produk kerajinan Baduy mulai lomar atau ikat kepala, tas koja, kain tenun Baduy, batik Baduy, selendang khas Baduy hingga souvenir kali pertama terpukul masa pandemi Covid-19.

Bahkan, di kawasan pemukiman Baduy yang masih bertahan menjual produk aneka kerajinan adat bisa dihitung jari.

Baca juga: Selain Gili Tangkong, 7 Pulau Ini Juga Dijual di Situs Online

Sebelumnya, para pedagang yang menjual produk aneka kerajinan Baduy terlihat di bale-bale rumah di kawasan pemukiman Baduy.

"Kami berharap pandemi itu berakhir dan produk kerajinan Baduy kembali seperti dulu lagi dapat meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga," harapnya.

Hal senada disampaikan Neng (45), seorang perajin kain tenun Baduy warga Kadu Ketug I Desa Kanekes Kabupaten Lebak. Ia mengaku dirinya kini tetap masih melayani permintaan konsumen, namun jumlahnya sangat kecil.

Produksi kain tenun Baduy untuk melayani konsumen itu berkisar antara dua sampai lima kain tenun dengan pendapatan Rp1,2 juta per bulan. Selama ini, dirinya juga masih bertahan menjual aneka produk kerajinan Baduy, meski kunjungan wisatawan ditutup.

"Kami tetap bersikap sabar, sebab adanya pandemi Covid-19 merupakan ujian," katanya menjelaskan.

Sementara itu, tetua masyarakat Suku Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Saija mengatakan, tak kurang 2.000 pelaku kerajinan masyarakat Suku Baduy terancam gulung tikar dengan adanya pandemi Corona itu.

Mereka yang masih bertahan memproduksi kerajinan dan pedagang di kawasan Baduy sangat menurun karena produknya tidak laku.

Bahkan, saat ini dipastikan pengunjung wisatawan dilarang memasuki kawasan pemukiman Baduy karena diberlakukan PSBB itu.

"Kami berharap penyebaran pandemi Corona segera berakhir dan kunjungan wisatawan kembali normal," kata Saija.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini