Wanita Jepang Mulai Tinggalkan Tradisi 'Giri Choco' saat Hari Valentine

Violleta Azalea Rayputri, Jurnalis · Senin 15 Februari 2021 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 15 406 2362082 wanita-jepang-mulai-tinggalkan-tradisi-giri-choco-saat-hari-valentine-1wfXGzbWST.JPG Wanita Jepang sedang melihat produk cokelat yang marak dijual saat Hari Valentine (Foto: The Guardian)

PANDEMI virus corona alias Covid-19 rupanya tak hanya melumpuhkan sektor pariwisata tetapi juga turut berpengaruh pada kebiasaan perayaan Hari Valentine di Jepang.

Ya, di Negeri Sakura momen Hari Valentine kerap dimanfaatkan para wanita untuk memberikan cokelat sebagai 'hadiah' kepada teman pria yang dianggap spesial, bisa sebagai kekasih maupun sahabat.

Secara tradisional, wanita diharapkan membeli cokelat yang dibungkus kado untuk teman prianya. Hal ini sebagai bagian dari tradisi yang disebut 'Giri Choco', yang secara harfiah berarti 'Cokelat Wajib'.

Kebiasaan tersebut sebenarnya merupakan taktik pemasaran yang diimpikan oleh pembuat cokelat pada awal tahun 80-an untuk meningkatkan penjualan produk mereka. Nah, yang berbeda dengan perayaan Valentine tahun ini lantaran dunia masih kerepotan menangani wabah Covid-19 yang belum kunjung mereda.

Baca juga: 5 Kisah Pramugari Korban Pelecehan Seksual, Ada yang Diajak Ngamar

Bahkan Jepang masih memberlakukan orang bekerja dari rumah dan memaksa perusahaan untuk membatasi sosialisasi serta kegiatan berbagi makanan di kantor. Situasi inilah yang membuat para wanita di sana mau tidak mau harus melewatkan kebiasaan memberi cokelat bertepatan di hari kasih sayang.

Setidaknya hanya 9,9 persen wanita yang tetap menjalankan tradisi Giri Choco tahun ini. Demikian menurut sebuah lembaga riset Intage.

"Pola pikir wanita terhadap giri-choco mungkin berubah karena mereka memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bertemu rekan kerja secara langsung," kata perwakilan Intage kepada Asahi Shimbun, dilansir dari laman The Guardian.

Baca juga: Arab Saudi Perpanjang Pembatasan Kegiatan 20 Hari ke Depan

Praktik memberi 'Honmei Choco' atau cokelat favorit kepada pasangan romantis bernasib lebih buruk, yakni dengan hanya 7,7 persen wanita yang melakukannya. Seumlah toko cokelat di Jepang pun mengakui bahwa mereka kini dihadapkan oleh krisis, di mana terjadi penurunan tajam dalam hal penjualan cokelat imbas kebijakan pembatasan sosial.

“Kami bersiap untuk penurunan penjualan setidaknya 20 persen dibandingkan tahun lalu,” sebut perwakilan toko swalayan di Fukuoka, barat daya Jepang, kepada Mainichi Shimbun.

Tradisi pemberian cokelat sebagai hadiah di Hari Valentine telah diluncurkan secara komersial di Jepang pada pertengahan 1950-an, dan berkembang menjadi pasar jutaan dolar.

Namun, beberapa perusahaan telah melarang praktik tersebut yang oleh beberapa orang dilihat sebagai bentuk pelecehan kekuasaan sehingga menyebabkan lebih banyak wanita memilih membeli cokelat untuk diri mereka sendiri atau teman dekat.

Menurut MyVoice Communications, sebuah firma riset internet di Tokyo, 56,8 persen pria dan wanita yang disurvei pada tahun 2010 mengatakan bahwa mereka telah memberi atau menerima hadiah Valentine, tetapi pada tahun lalu angka itu turun menjadi 44,6 persen saja.

Terlepas dari upaya para produsen untuk menghasilkan ide baru dan mendorong pembelian online, Asosiasi Peringatan Jepang, sebuah kelompok yang mempromosikan kesadaran akan budaya dan adat istiadat Negeri Sakura sejak jauh-jauh hari telah memperingatkan bahwa tradisi Giri Choco kini menuju 'gerbang kepunahan'.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini