Cangkang Keong, Alat Musik Berusia 17 Ribu Tahun dengan Nada Nyaris Sempurna!

Senin 15 Februari 2021 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 15 406 2362129 cangkang-keong-alat-musik-berusia-17-ribu-tahun-dengan-nada-nyaris-sempurna-fsnHuB3rmG.JPG Cangkang keong, alat musik kuno berusia 17 ribu tahun (Foto: BBC)

TEMUAN fenomenal para arkeolog ini akan membuat siapapun terkesima. Betapa tidak, mereka berhasil mendapatkan nada 'nyaris sempurna' dari sebuah alat musik tiup kuno yang berumur lebih dari 17 ribu tahun!.

Alat musik tiup itu ialah cangkang keong ditemukan di gua yang pernah dihuni oleh manusia purba di wilayah Prancis selatan, pada era berburu dan meramu. Artefak ini adalah instrumen musik tiup sejenis yang tertua yang pernah ditemukan.

Sampai saat ini, hanya seruling yang terbuat dari tulang yang diklaim sebagai instrumen musik tertua di dunia. Temuan ini diterbitkan di jurnal Science Advances. Arti penting artefak ini terletak pada tanda seperti titik di dalam cangkang. Cangkang keong ini identik dengan karya seni di dinding gua Marsoulas di Pyrenees tempat artefak itu digali pada tahun 1931.

"(Temuan) ini membangun kaitan yang kuat antara musik yang dimainkan dengan keong dan gambar, representasi di dinding," jelas Gilles Tosello dari Universitas Toulouse, mengutip laman BBC Indonesia.

Baca juga: Arab Saudi Perpanjang Pembatasan Kegiatan 20 Hari ke Depan

Gua Kuno

"Sepengetahuan kami, ini adalah pertama kalinya kami dapat membuktikan hubungan antara musik dan seni gua di masa prasejarah Eropa," imbuhnya.

Cangkang keong ini memiliki panjang 31 centimeter dan lebar 18 centimeter. Cangkang tersebut pernah menjadi rumah bagi organisme hidup, kemungkinan siput air dingin di Samudra Atlantik bernama Charonia lampas.

Kerang itu diperkirakan merupakan benda berharga atau hadiah karena ditemukan 200 kilometer dari garis pantai tempat ia pertama kali diambil atau diperdagangnkan. Ketika tim penggali di Marsoulas pertama kali melihat cangkang itu pada 1930-an, mereka mengira benda itu tak lebih dari cangkir yang digunakan untuk acara seremonial.

Baca juga: Potret Imlek Tanpa Pesta di China

Namun, analisis oleh tim yang dipimpin dari Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis telah mengubah interpretasi itu.Para ilmuwan mengidentifikasi adanya modifikasi yang disengaja untuk meningkatkan kemampuan cangkang dalam membuat suara.

Ini termasuk lubang yang dipotong di salah satu ujung cangkang yang memungkinkan penyisipan semacam corong, dan pemotongan di ujung lainnya yang akan membuatnya lebih mudah untuk memasukkan tangan untuk memodulasi suara -dengan cara yang sama seperti pemain terompet Prancis mengubah nada-.

Tim itu kemudian meminta seorang musisi profesional untuk meniup keong, dan yang membuat mereka senang musisi itu bisa menghasilkan nada yang mendekati C, C kres dan D.

"Intensitas yang dihasilkan luar biasa, kira-kira 100 desibel pada satu meter. Dan suaranya sangat terarah pada sumbu bukaan cangkang," kata Philippe Walter dari Sorbonne University.

Para peneliti kemudian mencetak replika 3D dari cangkang itu supaya mereka bisa mengeksplorasi lebih jauh kemampuan musikalitas keong itu tanpa berisiko merusak artefak aslinya.

Orang-orang Paleolitik Hulu yang memiliki cangkang ini merupakan bagian dari apa yang oleh para arkeolog disebut sebagai tradisi Magdalenian, yang terkenal karena pendekatannya yang khusus dalam pembuatan alat dan penggunaan tulang, tanduk, dan gading. Asal tahu saja, komunitas di Pyrenees juga berinteraksi dengan komunitas di Cantabria, yang tinggal di Spanyol selatan. Sehingga keong tersebut memperkuat hubungan ini.

"Suara keong ini berhubungan langsung dengan masyarakat Magdalenian," ujar Carole Fritz dari Pusat Riset Ilmiah Nasional Prancis (CNRS).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini