Masjid Raya Baiturrahman, Ikon Wisata Religi Negeri Serambi Makkah

Salsabila Jihan, Jurnalis · Rabu 17 Februari 2021 18:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 17 408 2363600 masjid-raya-baiturrahman-ikon-wisata-religi-negeri-serambi-makkah-OKNVUu584x.JPG Masjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh (Foto: Instagram/@piapiostore)

SIAPA tak kenal dengan keagungan Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh? Masjid ini telah menjadi ikon negeri berjuluk 'Serambi Makkah' sejak era Kesultanan Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi simbol agama, budaya, semangat, kekuatan, perjuangan, dan nasionalisme rakyat Aceh.

Bahkan, pada 2004 silam, tepatnya 26 Desember 2004, ketika Kota Banda Aceh dan wilayah sekitarnya dihantam gempa dan tsunami, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu bangunan yang tetap kokoh di tengah ganasnya terjangan air bah.

Ternyata, selain pernah dihantam bencana alam dahsyat, masjid ini telah melalui berbagai sulit selama bangunan suci itu berdiri sejak tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Baca juga: Fakta Menarik Masjid Keramat Luar Batang, Wisata Religi di Pesisir Jakarta

Namun ada pula yang mengatakan bahwa masjid asli dibangun oleh Sultan Alauddin Mahmudsyah pada tahun 1292.

Masjid Raya Baiturrahman

(Foto: Instagram/@ferry.pasalini)

Melansir laman Kemenag.go.id, dalam perjalanan sejarahnya, Masjid Raya Baiturrahman pernah dibumihanguskan oleh pemeritah kolonial Belanda saat menyerang Koetaradja (Banda Aceh) pada 10 April 1873.

Masyarakat Serambi Makkah kala itu sangat geram hingga meletuslah perang sengit antara masyarakat Aceh melawan Belanda. Dalam pertempuran tersebut, Belanda kehilangan panglima mereka, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang tewas pada 14 April 1873.

Untuk meredakan perlawanan rakyat Aceh terhadap pendudukan Belanda, empat tahun setelahnya, bangunan masjid itu dibangun ulang oleh Belanda pada atas perintah Jenderal Van Der Heijden, selaku Gubernur Militer Aceh yang menjabat pada waktu itu. Dengan gaya arsitektur karya de Bruchi yang mengadaptasi gaya Moghul (India).

Baca juga: Ke Aceh, Ditto dan Ayudia Terpukau Masjid Baiturrahman hingga Kulinernya

Tepat pada 9 Oktober 1879, Tengku Qadhi Malikul Adil meletakkan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan kembali masjid itu. Proses pembangunannya berlangsung dari 1879 hingga 1881, tepatnya pada 27 Desember 1881 ketika masa pemerintahan Sultan Aceh terakhir, Muhammad Daud Syah.

Seiring berjalannya waktu dan setelah beberapa kali direnovasi, kini Masjid Raya Baiturrahman kembali berdiri megah dengan tujuh kubah dan lima menara, termasuk yang tertinggi di Banda Aceh. Masjid itu juga termasuk salah satu masjid tertua dan termegah di Asia.

Interiornya dihiasi dinding dan pilar berelief, tangga marmer dan lantai dari Tiongkok. Jendela kaca patri dari Belgia, pintu kayu berdekorasi, dan lampu hias gantung perunggu, serta bebatuan bangunan yang berasal dari Belanda.

Masjid Raya Baiturrahman

(Foto: Instagram/@ferry.pasalini)

Selain itu, Masjid Raya ini sudah terpasang 12 payung raksasa elektrik di pelataran masjidnya dan memiliki fasilitas parkir bawah tanah yang modern.

Masjid Raya Baiturrahman kini menjelma menjadi masjid yang bukan hanya kebanggaan masyarakat Aceh, namun juga rakyat Indonesia.

Uniknya, pada sebuah taman miniatur terbesar di dunia yakni Taman Minimundus di Klagenfurt, Karintia, Austria terdapat replika Masjid Raya Baiturrahman. Replika bangunan masjid tersebut terlihat sangat mirip dengan aslinya, dengan skala 1:25.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini