Dampak Diterima Singapura jika Larang Masuk Pelancong Indonesia dan India

Fatha Annisa, Jurnalis · Jum'at 19 Februari 2021 09:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 18 406 2364486 dampak-diterima-singapura-jika-larang-masuk-pelancong-indonesia-dan-india-mGv3dHrWJD.jpg Singapura (stutterstock)

SINGAPURA akan terkena dampak sosial dan ekonomi serius jika menutup pintu masuk untuk pelancong dari India dan Indonesia terkait pandemi COVID-19

Hal itu disampaikan Menteri Senior Kesehatan Negara Singapura, Dr Koh Poh Koon kepada parlemen, Selasa lalu. Menurutnya kebijakan melarang warga kedua negara masuk akan banyak warga Singapura tidak menerima kunci unit rumah yang mereka beli.

Baca juga: Temui Tunangan saat Karantina, Pria Ini Terancam 6 Bulan Penjara dan Denda Rp105 Juta

Keluarga juga harus mempertimbangkan untuk mencari pengaturan perawatan alternatif bagi orang yang mereka cintai karena mereka akan menghadapi penundaan dalam mempekerjakan pekerja rumah tangga asing sebagai pengasuh.

India dan Indonesia merupakan negara-negara dengan sumber daya manusia utama untuk sektor konstruksi dan pekerja rumah tangga yang membantu orang tua serta anak-anak warga Singapura yang bekerja.

 ilustrasi

Gedung Parlemen Singapura (visitsingapore.com) 

“Perekonomian kami juga akan melambat dan kehidupan serta mata pencaharian banyak orang akan terpengaruh. Beberapa pelancong (dari dua negara ini) adalah warga negara kami, penduduk tetap atau kerabat dekat mereka (yang datang) ke sini untuk mengunjungi mereka,” seperti dilansir dari IndiaTV News, Jumat (19/2/2021).

"Perekonomian kami juga akan melambat dan kehidupan serta mata pencaharian banyak orang akan terpengaruh. Beberapa pelancong (dari dua negara ini) adalah warga negara kami, penduduk tetap atau kerabat dekat mereka (yang datang) ke sini untuk mengunjungi mereka."

Berbicara kepada surat kabar TODAY, Dr Koh menanggapi pertanyaan parlemen tentang mengapa pemerintah tidak menutup perbatasan negara ke India dan Indonesia, meskipun jumlah kasus impor Covid-19 dari kedua negara tersebut tergolong banyak.

Baca juga: Sudah Divaksin, Pramugari Singapore Airlines Malah Positif Corona

Dr Koh menjelaskan bahwa Singapura membutuhkan masuknya pekerja migran yang berkelanjutan untuk mendukung sektor-sektor utama ekonomi.

Termasuk pekerja konstruksi untuk membangun proyek perumahan dan infrastruktur penting, dan pekerja rumah tangga asing untuk mendukung kebutuhan pengasuhan keluarga.

 

Dr Koh mengatakan bahwa kurang dari satu persen dari total kedatangan asing Singapura sejak 1 April tahun lalu dinyatakan positif COVID-19.

Sedangkan dalam beberapa bulan terakhir, sebagian besar kasus COVID-10 adalah orang asing yang datang ke Singapura untuk bekerja. Pekerja tersebut sebagian besar berasal dari daratan Cina, Indonesia, India, dan Malaysia.

Sementara itu, menurut laporan TODAY, kementerian Tenaga Kerja telah menyetujui sekitar 25.000 permintaan pekerja rumah tangga asing untuk masuk ke Singapura antara April tahun lalu dan Januari tahun ini. seperti yang diketahui, April 2020 merupakan periode awal peningkatan tajam dalam jumlah kasus COVID-19.

Seorang pekerja rumah tangga asing berusia 34 tahun dari Indonesia adalah satu-satunya kasus COVID-19 yang diimpor Singapura pada hari Selasa (16 Februari).

Berdasarkan laporan dari TODAY, ini adalah jumlah terendah untuk kasus impor yang dilaporkan sejak 2 November, yang mencatat satu infeksi.

Kementerian kesehatan mengatakan bahwa pemegang izin kerja telah diberitahukan untuk tinggal di rumah setelah kedatangannya di Singapura pada 2 Februari. Ia menjalani serangkaian tes COVID-19 saat menjalani karantina. Tes serologi perempuan tersebut positif, tandanya ia seperti terinfeksi di masa lalu.

 ilustrasi

“Namun, karena dia tidak menjalani tes serologi saat tiba di Singapura, kami tidak dapat menyimpulkan secara pasti bahwa dia tidak lagi menular ketika dia tiba … Sebagai tindakan pencegahan, kami akan mengambil semua tindakan kesehatan masyarakat yang diperlukan,” kata Kementerian Kesehatan.

Mulai 5 Februari, izin kerja yang baru tiba dan pemegang S-Pass di sektor konstruksi, kelautan dan proses, yang memiliki riwayat perjalanan baru-baru ini ke negara dan wilayah berisiko tinggi diwajibkan untuk menjalani Polymerase Chain Reaction (PCR) saat kedatangan dan tes serologi.

Singapura mencatat ada 59.810 infeksi COVID-19, sementara 59.661 orang telah pulih sepenuhnya dan dipulangkan, termasuk 20 orang pada Selasa. 30 pasien di rumah sakit, termasuk satu dalam perawatan intensif dan 90 pasien lainnya diisolasi di fasilitas komunitas untuk gejala ringan atau secara klinis baik, tetapi dinyatakan positif COVID-19. 29 orang meninggal karena komplikasi akibat penyakit tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini