Mantan Pramugari Ini Jelaskan Alasan Tak Mau Makan Makanan Pesawat

Fatha Annisa, Jurnalis · Sabtu 20 Februari 2021 07:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 406 2365075 mantan-pramugari-ini-jelaskan-alasan-tak-mau-makan-makanan-pesawat-rCKjRx6NRH.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

MANTAN pramugari, Evrin, buka-bukaan tentang rahasia yang baru diketahui saat menjadi awak kabin. Evrin sendiri pernah menjadi pramugari selama tiga tahun di maskapai penerbangan nasional Singapura.

Dalam video yang diunggah pada 2019 lalu di akun Youtube pribadinya, Evrin menjelaskan bahwa ada beberapa hal selama penerbangan yang tidak pernah rekan-rekan pramugari bagikan kepada penumpang. Hal-hal tersebut hanya menjadi konsumsi para pramugari serta awak kabin lain.

Pramugari menghindari makanan pesawat

 makanan

Pramugari serta kru kabin sebisa mungkin tidak makan makanan yang disediakan dalam pesawat. Meskipun mereka selalu menyuguhkan makanan tersebut pada penumpang, mereka sendiri enggan memakannya. Ternyata bukan karena masalah kebersihan makanan, melainkan rasa yang dimiliki.

Makanan di pesawat cenderung lebih asin dan gurih dibanding makanan pada umumnya. Hal ini dikarenakan saat penerbangan berlangsung, indera pengecap manusia tidak sesensitif ketika di darat. Jadi, pihak maskapai sengaja menggunakan lebih banyak perasa. Jika makanan pesawat yang dibuat serupa dengan makanan yang ditemukan di restoran-restoran biasa, maka penumpang akan menganggap makanan tersebut tidak enak.

Makanan tersebut aman dikonsumsi untuk penumpang yang biasanya hanya menggunakan pesawat setahun sekali, sebulan sekali, atau seminggu sekali. Namun untuk kru kabin yang menghabiskan hampir setiap harinya di pesawat, mengonsumsi makanan terlampau asin tentu berbahaya bagi kesehatan. Mereka dapat terkena darah tinggi. Berat badan mereka pun akan lebih mudah bertambah.

Pramugari selalu menawarkan makanan yang kurang laku

 

Pihak maskapai biasanya menyediakan pilihan makanan untuk disajikan kepada penumpang. Jumlah satu pilihan makanan tidak akan cukup untuk seluruh penumpang. Misalnya, jika ada dua pilihan makanan untuk sarapan, maka porsi pilihan pertama yang disediakan adalah 50% dari total penumpang dan porsi pilihan kedua 50% sisanya. Dari dua pilihan tersebut tak jarang ada yang lebih diminati dan tidak.

Oleh karenanya, untuk menghabiskan kedua pilihan makanan, pramugari lebih dulu menawarkan makanan yang menurut tau akan lebih sedikit peminatnya. Meskipun terkadang penumpang sudah menentukan pilihan, pramugari akan tetap berusaha memberikan penawaran dengan penjelasan terkait makanan tersebut dengan semenarik mungkin.

“Karena biasanya habis selesai flight, makanan bakalan dibuang semuanya. Jadi, itu dia kenapa airlines gak siapin makanan berlebih. Jadi, mereka gak mungkin siapin makanan, kayak 100% scrambled egg, 100% mie goreng. Karena, ya, bakalan jadi mubazir.” Evrin menjelaskan.

 

Pramugari enggak suka minum dari tap qater pesawat

 

Evrin mengungkapkan, pramugari selalu meminum air berkemasan botol. Padahal, air botolan yang disediakan untuk awak kabin jumlahnya terbatas. Pramugari juga tidak mau minum teh atau kopi karena air yang digunakan berasal dari tap water.

Air yang berasal dari tap water sebenarnya bisa diminum, namun mereka tidak mau karena mereka tidak tau kapan terakhir filternya diganti dan tangkinya dibersihkan.

Saat tiba di bandara, pesawat biasanya hanya parkir selama kurang lebih satu jam. Dalam satu jam itu, pesawat akan dicek kondisi mesinya, dibersihkan interiornya, isi bensin, mengganti makanan sebelumnya dengan makanan yang baru, dan proses keluar-masuk penumpang. Mantan pramugari tersebut merasa petugas tidak akan memiliki waktu untuk mengganti filter tap water.

 

Pramugari mengamati penumpang yang minum alkohol

 

Pramugari selalu bertukar informasi sehabis menyuguhkan alkohol pada penumpang. Mereka bersama-sama menghitung dan mengingat berapa banyak gelas alkohol yang sudah dikonsumsi oleh penumpang tersebut.

Hal itu dilakukan agar pramugari bisa mengontrol penumpang. Mereka tidak mau sampai ada penumpang yang mabuk dalam penerbangan dan membuat penumpang lain tidak nyaman.

“Di darat dan di udara itu, toleransi alkohol setiap orang itu pasti berubah. Jadi, misalnya kamu di darat, kamu biasanya di darat minum wine lima gelas gakpapa, tapi kalau di udara itu kamu mungkin udah berasa pusing,” kata Evrin.

Perubahan toleransi terjadi karena tekanan udara di penerbangan akan mempengaruhi pernapasan. Jadi, tingkat oksigen yang ada di darah pun akan menurun. Itu kenapa penumpang akan lebih cepat merasa pusing dan mabuk.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini