Pembangunan Pulau Komodo dan Rinca Tetap Perhatikan Kelestarian Lingkungan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 21 Februari 2021 01:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 20 406 2365524 pembangunan-pulau-komodo-dan-rinca-tetap-perhatikan-kelestarian-lingkungan-37wXjhJPKK.JPG Seekor komodo di Taman Nasional Komodo, NTT (Foto: BOPLBF)

MERESPONS beberapa isu yang beredar menyangkut kekhawatiran pada pembangunan di Taman Nasional Komodo, pemerintah melalui Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) secara tegas berkomitmen untuk menyejahterakan masyarakat sekitar dengan pelibatan di setiap perencanaan, pelaksanaan, dan pemanfaatan.

Dengan demikian isu mengenai relokasi penduduk dari Pulau Komodo dan Pulau Rinca adalah tidak benar. Sebaliknya, pemerintah mengakomodir adanya masyarakat yang hidup di Taman Nasional Komodo dengan adanya zona khusus dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo (seluas 310.09 hektare).

Terkait permohonan izin pemanfaatan di Pulau Muang dan Pulau Bero untuk dijadikan sebagai Pulau Ekowisata dalam rangka mendukung pengembangan kawasan pariwisata Tana Mori, pemerintah tetap berkomitmen tidak mengizinkan adanya pengembangan sarpras di kedua pulau tersebut.

Baca juga: Tak Hanya Labuan Bajo & Pulau Komodo, NTT juga Punya Wisata Bukit Wolobobo

“Namun, kegiatan wisata alam secara terbatas dimungkinkan dengan penyediaan jasa oleh masyarakat di sekitar pulau. Dengan demikian, sampai dengan saat ini tidak ada perubahan zonasi pada kedua pulau tersebut dari apa yang sudah ditetapkan,” sebut BOPLBF dalam siaran pers yang diterima MNC Portal.

Komodo

(Foto: Okezone.com/Dimas)

Untuk penyediaan air minum di kawasan Loh Buaya Pulau Rinca, dibangun reservoir (tempat penampungan air) dengan kapasitas 50 m3 Sumber air berasal dari IPA Wae Mese yang diangkut menggunakan kapal tanki air dari Labuan Bajo ke Loh Buaya Pulau Rinca.

Penataan kawasan di Taman Nasional Komodo juga dilakukan sesuai dengan peraturan dan kaidah yang berlaku untuk menjaga kelestarian habitat komodo.

Usaha penyediaan sarana wisata alam di kawasan konservasi dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di sekitar Taman Nasional (multiplier effects) dengan tetap memerhatikan kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga: Luhut: Komodo Satu-satunya di Dunia, Harus Kita 'Jual'

Pembangunan sarana dan prasarana hanya diperbolehkan pada ruang usaha di zona pemanfaatan Taman Nasional Komodo. Luas ruang usaha di Taman Nasional Komodo adalah 562,75 hektare (0,32% dari luas Taman Nasional Komodo).

“Berdasarkan hasil analisa di lapangan penataan sarana dan prasarana yang saat ini dilakukan di Pulau Rinca, akan berdampak baik bagi ekosistem seperti meminimalisir singgungan antara wisatawan dengan satwa dengan pengaturan jalur trekking dan ketersediaan pusat informasi sebagai sarana edukasi dan peningkatan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan (terutama untuk penyandang disabilitas dan usia dini),” tulis rilis tersebut.

Selain itu, pengaturan jalur trekking juga mengembalikan fungsi alami habitat serta mengurangi dampak akibat aktivitas wisatawan terhadap habitat komodo di Loh Buaya Pulau Rinca.

Pengembangan Pulau Komodo dan Pulau Rinca sebagai kawasan wisata alam tetap dan akan selalu dilakukan dengan menerapkan Community-Based Tourism (CBT) maupun Community Based Conservation (CBC) yang berbasiskan adat dan budaya, serta keragaman hayati.

Kajian awal telah dilakukan oleh Pemerintah dalam hal ini Balai TN Komodo bekerjasama dengan Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti, dan studi lebih lanjut akan dimulai pada 2021.

Untuk tahun 2021 telah direncanakan juga beberapa kegiatan untuk mendukung penerapan CBT dan CBC melalui program monitoring terumbu karang, keanekaragaman ikan, kakatua dan satwa mangsa, aktivasi forum komunikasi pengelolaan wisata bahari dengan Pemda, Syahbandar, dan Asosiasi industri, serta peningkatan fasilitas seperti pusat informasi wisata dan pemasangan mooring buoy di 30 titik.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini