Ini Alasan Jasad Pendaki di Gunung Everest Dibiarkan Begitu Saja

Fatha Annisa, Jurnalis · Selasa 23 Februari 2021 01:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 22 406 2366307 ini-alasan-jasad-pendaki-di-gunung-everest-dibiarkan-begitu-saja-NB2vbB3cTH.JPG Para pendaki di Gunung Everest (Foto: Reuters)

GUNUNG Everest merupakan gunung tertinggi di dunia. Everest disebut-sebut menjadi titik tertinggi yang paling dekat dengan langit.

Pada akhir tahun lalu, ketinggian gunung ini bahkan bertambah lagi sebanyak 0,86 meter menjadi 8.848,86 meter di atas permukaan laut, seperti yang diumumkan oleh China dan Nepal.

Gunung ini dinobatkan jadi salah satu gunung paling berbahaya untuk didaki. Jalurnya yang diselimuti salju sering kali dilanda longsor salju. Suhu di sana sangat ekstrem, sekitar minus 27 derajat Celsius jika cuaca sedang cerah. Pasokan oksigen di Gunung Everest pun cenderung rendah.

Untuk mencapai di base camp di Nepal, pendaki membutuhkan 10 hari perjalanannya, enam minggu untuk menyesuaikan diri dan sembilan hari untuk sampai di puncak. Oleh karenanya, stamina prima dan mental yang kuat sangat dibutuhkan dalam pendakian menuju puncak Everest.

Baca juga: Penumpang Nekat Buka Pintu Kabin dan Pukul Pramugari saat Pesawat Mengudara

Mayat Pendaki Everest

(Foto: Alchetron)

Jika suatu saat Anda berkesempatan mendaki Everest, jangan kaget jika ada tempat di sisi utara yang dijuluki Rainbow Ridge. Sebutan itu dibuat bukan karena pendaki bisa melihat pelangi, melainkan karena terdapat hamparan mayat pendaki yang masih mengenakan pakaian pendakian berwarna-warni dibiarkan tergeletak begitu saja.

Gunung Everest memang sering memakan korban. Tidak ada tim Search And Rescue (SAR) yang akan mengevakuasi mayat mereka dan rekan pendaki mereka pun tidak akan membawanya kembali. Alhasil, mayat mereka akan ditinggalkan tepat di mana terakhir mereka hidup.

Channel YouTube IQ7 Logic dalam sebuah video unggahannya menyebutkan, terdapat jasad paling ikonik yang disebut Green Boots. Meski identitasnya masih menjadi misteri, banyak orang mengatakan ia adalah pendaki asal India yang melakukan pendakian pada tahun 1996. Selain itu, ada pula David Sharp yang meninggal pada 2006.

Ada beberapa alasan yang menjelaskan kenapa pendaki yang meninggal di Everest sulit dibawa kembali.

Selain suhu udara dan medan yang ekstrem, mayat-mayat tersebut sangat susah ditemukan karena mereka akan cepat terkubur oleh es di sana. Jika ditemukan sekalipun, mereka sudah menempel di atas tanah dan membeku.

Perlu diketahui bahwa tubuh akan terasa 10 kali lebih berat saat berada di Gunung Everest akibat dari tekanan barometrik yang ada. Membawa diri sendiri saja membuat pendaki mudah merasa lelah, tentunya sangat sulit jika harus membawa tubuh orang lain.

Pendaki yang menolong rekannya saat ia sudah tidak sanggup mendaki sama saja membahayakan dirinya sendiri. Orang yang sudah lemah pun akan lebih tersiksa jika terus dipaksa bergerak. Oleh karenanya, mereka akan ditinggalkan.

Alasan lain adalah biaya untuk mendaki Gunung Everest sangat mahal, yaitu sekitar USD50 ribu atau setara dengan Rp705 juta. Biaya yang dibutuhkan untuk mengevakuasi mayat-mayat tersebut sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendaki Everest. Untuk itu, hanya orang-orang bernyali besar dan siap dengan kematian yang seharusnya berani mendaki Everest.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini