Mengenal Dadiah, Yoghurt Tradisional Khas Tanah Minang

Fatha Annisa, Jurnalis · Kamis 25 Februari 2021 04:05 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 301 2367648 mengenal-dadiah-yoghurt-tradisional-khas-tanah-minang-I25MXLNsqL.JPG Dadiah, yoghurt tradisional khas Minangkabau (Foto: Instagram/@gadahaodahad7149)

KULINER khas Sumatra Barat memang tak diragukan lagi kelezatannya. Rasanya hampir seluruh masyarakat Indonesia pernah mencicipi nasi Padang atau rendang. Bahkan, ketenaran masakan padang sudah sampai ke mancanegara.

Masakan Sumatra Barat identik dengan cita rasa pedas yang mampu membuat lidah Anda bergoyang. Namun, ada juga kudapan tidak pedas dari Tanah Minang yang rasanya tidak kalah enak, yaitu Dadiah.

Siapa bilang Indonesia tidak punya yoghurt tradisional? Dadiah merupakan makanan asli suku Minangkabau berupa yoghurt. Bahan dasarnya adalah susu kerbau. Susu tersebut difermentasi secara alami dalam buluh atau ruas batang bambu. Proses fermentasinya berlangsung setidaknya selama satu hari penuh.

Baca juga: Resep dan Cara Bikin Mi Gomak, Kuliner Danau Toba yang Disukai Angela Tanoe

Dadiah tidak memerlukan tambahan kultur mikroba tertentu sebagai starter dalam proses fermentasinya. Fermentasi itu lantas menghasilkan sejenis krim padat bertekstur lembut dan memiliki cita rasa yang asam. Semakin lama difermentasi, Dadiah yang dihasilkan akan semakin padat dan agak keras.

Meski disebut-sebut sebagai yoghurt-nya orang Minang, nyatanya ada sedikit perbedaan dari Dadiah dan yoghurt biasa. Perbedaan tersebut terletak pada bahan dasarnya.

Melansir laman Indonesia Kaya, Dadiah hanya bisa dibuat dengan susu kerbau segar yang baru diperah, tidak bisa diganti dengan susu sapi, lantaran perbedaan karakteristik dari dua susu tersebut.

Dadiah akan disajikan dalam ruas batang bambu, tempat di mana makanan tersebut difermentasi. Pada zaman dahulu, makanan ini disantap sebagai lauk teman makan nasi bersama sambal, bawang, dan sirih. Perpaduan yang unik tersebut nyatanya menghasilkan rasa asam-pedas yang menyegarkan. Sementara itu, orangtua kerap menyantapnya sebagai puding.

Sekarang Dadiah lebih sering disajikan sebagai hidangan pagi bersama Ampiang. Ampiang sendiri merupakan beras ketan yang ditumbuk, kemudian dipipihkan saat masih panas sehingga menyerupai sereal. Dengan tambahan cairan gula merah, kelezatan santapan ini akan menjadi berkali-kali lipat.

Dadiah dijual dengan harga Rp70.000 hingga Rp100.000 per batang bambunya. Kisaran harga tersebut tergantung dengan diameter bambu yang digunakan.

Dalam satu batang bambu, Dadiah yang ada bisa memenuhi 15 porsi Ampiang Dadiah. Jika disimpan di lemari es, Dadiah yang masih berada dalam bambu dapat bertahan selama satu minggu.

Sayangnya, makanan khas Minangkabau ini hanya bisa ditemukan di Sumatra Barat. Makanya, saat berkunjung ke Sumbar jangan lupa mencicipi kudapan tradisional ini ya Okezoners!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini