Sederet Fakta Menarik di Balik Pesona Candi Ceto, Tempat Melepas Kutukan!

Salsabila Jihan, Jurnalis · Rabu 24 Februari 2021 20:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 24 408 2367449 sederet-fakta-menarik-di-balik-pesona-candi-ceto-tempat-melepas-kutukan-Dcb5Xp23Rk.JPG Candi Cetho di Karanganyar, Jawa Tengah (Foto: Pemkab Karanganyar)

CANDI menjadi salah satu situs bersejarah peninggalan kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Indonesia. Selain itu, candi-candi tersebut juga seringkali dijadikan sebagai tempat untuk berwisata. Misalnya saja Candi Ceto yang berada di kaki Gunung Lawu.

Dikutip dari website resmi Pemkab Karanganyar, Candi Ceto merupakan salah satu candi dengan corak Hindu yang diperkirakan telah dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, abad ke-15 Masehi.

Berdasarkan prasasti yang ditulis dengan huruf Jawa kuno di dinding gapura, candi ini diperkirakan selesai dibangun sekitar tahun 1475 Masehi dan diperkirakan dimulai pada 1451 Masehi.

Sejarah penemuan kembali Candi Ceto

Tahun 1842, Van de Vles membuat sebuah catatan ilmiah tentang Candi Ceto. Selain dirinya, ada beberapa sejarahwan dan ahli lainnya yang melakukan penelitian terhadap Candi Ceto, yaitu A.J. Bennet Kempers, K.C. Crucq, W.F. Sutterheim, N.J. Krom dan Riboet Darmosoetopo yang berkebangsaan Indonesia.

Baca juga: Wisata Candi Mendut, Unik dan Memikat Hati Wisatawan

Setelah penemuan tersebut, penggalian untuk kepentingan rekonstruksi pertama kali dilakukan pada 1928 oleh Commissie vor Oudheiddienst atau Dinas Purbakala Hindu Belanda. Sejak ditemukannya kembali candi ini, banyak wisatawan yang berkunjung ke sini karena keunikan arsitektur Candi Ceto yang berbeda dengan candi-candi Hindu di Jawa pada umumnya.

Arsitektur Candi Ceto

Bangunan yang diperkiran didirikan pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V ini, saat pertama kali ditemukan, berupa reruntuhan bebatuan yang berbentuk punden berundak yang terdiri dari 14 teras. Namun hanya tersisa 13 teras setelah penemuannya kembali dan setelah pemugaran tahun 1975-1976, kini hanya tersisa 9 teras yang dapat dilihat oleh pada pengunjung.

Candi Cetho

(Foto: kemdikbud.go.id)

Memiliki struktur yang berteras-teras memunculkan dugaan sinkretisme kultur asli Nusantara dengan Hinduisme. Dugaan ini diperkuat oleh bentuk relief yang menyerupai wayang kulit dengan wajah tampak samping, tubuh cenderung tampak depan.

Menurut sejarah, candi ini dibangun dengan material batu andesit dengan relief yang sederhana. Patung yang terdapat di candi ini pun bila dilihat tidak mirip dengan orang Jawa, melainkan mirip dengan orang Sumeria atau Romawi.

Baca juga: Gunung Kidul Cari Investor Garap Pariwisata Kawasan Panggang

Namun karena material terebut, para ahli sejarah menduga Candi Ceto sudah ada sebelum masa Kerajaan Majapahit. Karena pada saat itu, Kerajaan Majapahit dibangun menggunakan bata merah dan reliefnya juga cenderung lebih kompleks dan detail dibandingkan dengan relief yang ditemukan di Candi Ceto.

Fungsi Candi Ceto

Pembangunan candi ini berfungsi sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen. Berdasarkan prasasti yang bertuliskan aksara Jawa pada dinding mengungkapkan, candi ini dibangun sebagai tempat peruwatan atau tempat untuk melepaskan diri dari kutukan.

Salah satu candi tertinggi di Indonesia

Candi ini juga sering disebut sebagai salah satu candi tertinggi di Indonesia. Sebab Candi Ceto terletak pada ketinggian 1496 mdpl, di kaki Gunung Lawu. Tepatnya, secara administratif candi ini berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Nama Candi pun diambil sesuai nama dusun candi ini berada. Dalam bahasa Jawa, "Ceto" berarti jelas. Apabila cuaca cerah, pemandangan dari candi ini akan terlihat jelas dan indah karena menyuguhkan pemandangan Kota Karanganyar dan Solo dari ketinggian, serta jajaran pegunungan, seperti Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing.

Mitos Arca Candi Ceto

Arca garuda dan kura-kura pada Candi Ceto dimaksudkan untuk menjelaskan cerita Samudramanthana dan Garudeya yang berkisah tentang kutukan dan pembebasannya.

Sedangkan archa phallus dan vagina dapat ditafsirkan sebagai lambang penciptaan atau dalam hal ini adalah lahirnya kembali setelah dibebaskan dari kutukan.

Kain Poleng

Sebelum memasuki area Candi Ceto, para pengunjung diharuskan untuk memakai kain poleng. Hal ini dikarenakan, Candi Ceto masih sering digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu.

Mirip dengan kain yang digunakan di beberapa tempat wisata di Bali, kain yang digunakan di candi ini juga memiliki motif kotak-kotak yang berwarna seperti catur, hitam dan putih. Tenang saja, pengurus Candi akan menyediakan kain poleng untuk setiap pengunjung yang ingin berwisata di Candi Ceto ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini